Selasa, Oktober 05, 2021

Peran Guru Terhadap Psikologi Siswa

Halo sahabat DuPi yang dirahmati Allah, di mana pun berada ... ketemu lagi dengan Dunia Psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara. 

Apakah sahabat DuPi tahu kalau tanggal 5 Oktober diperingati sebagai Hari Guru Sedunia? Dah pada tahu ya, untuk itu hari ini DuPi akan menuliskan peran guru terhadap psikologi siswa. 

Sahabat DuPi pasti paham bahwa profesi guru dituntut untuk dapat berbuat banyak hal berkaitan dengan pendidikan. Selain mengajar, guru juga melakukan pendidikan, pembinaan terhadap anak didiknya. Maka tidak salah jika guru berperan sebagai psikolog bagi anak didiknya. 

Psikologi dibutuhkan oleh manusia dalam setiap kehidupannya agar selalu dapat berhubungan dan bersama dengan yang lain. 

Psikologi secara umum dapat didefinisikan sebagai disiplin ilmu yang berfokus pada perilaku dan berbagai proses mental serta bagaimana perilaku dan berbagai proses mental ini dipengaruhi oleh kondisi mental organisme dan lingkungan eksternal. Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang apa itu psikologi, maka perlu memahami lebih jauh mengenai metodenya, hasil-hasil temuannya, dan berbagai cara yang biasa ditempuh untuk menginterpretasikan informasinya ( Carole Wade, 2007).

Banyak manfaat didapat dari mempelajari psikologi dalam belajar, terutama bagi seorang guru, yang tugas utamanya adalah mengajar. Sangat penting memahami psikologi belajar dalam kegiatan pembelajaran. Proses belajar mengajar sangat syarat dengan muatan psikologis. Mengabaikan aspek–aspek psikologis dalam proses pembelajaran akan berakibat kegagalan, sehingga tujuan pembelajaran tidak tercapai.

Tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa antara proses perkembangan dengan proses belajar mengajar terdapat saling keterkaitan. Sehubungan dengan ini, setiap guru seyogyanya mampu memahami seluruh proses dan perkembangan peserta didiknya dengan baik.

Pengetahuan mengenai proses dan perkembangan dan segala aspeknya itu sangat bermanfaat, antara lain :

    🧩 Guru dapat memberikan layanan, bantuan dan bimbingan yang tepat kepada siswanya dengan menggunakan pendekatan yang relevan sesuai tingkat perkembangannya. 

   🧩 Guru dapat mengantisipasi kemungkinan–kemungkinan timbulnya kesulitan belajar siswa tertentu. 

   🧩 Guru dapat mempertimbangkan waktu yang tepat dalam memulai aktifitas proses belajar mengajar bidang studi tertentu.

   🧩 Guru dapat menemukan dan menetapkan tujuan–tujuan pengajaran sesuai dengan kemampuan psikologisnya.

Psikologi dalam belajar memiliki peranan penting dalam membantu mempersiapkan guru atau calon guru yang professional untuk mampu membantu memecahkan permasalahan siswa dalam belajar. Dengan memahami psikologi belajar, guru dapat memudahkan penerapan pengetahuan, pendekatan dan komunikasi yang baik kepada anak didik. 

Dengan demikian seorang guru yang memahami bidang psikologi dapat membantu menciptakan suasana edukatif, efektif, efisien dan menyenangkan.

Guru bertanggung jawab untuk mengantarkan anak didik ke arah kedewasaan susila yang cakap dengan memberikan sejumlah ilmu pengetahuan dan membimbingnya. Sedangkan anak didik berusaha untuk mancapai tujuan itu dengan bantuan dan pembinaan dari guru.

Interaksi edukatif harus menggambarkan hubungan aktif dua arah dengan sejumlah pengetahuan sebagai mediumnya, sehingga interaksi itu merupakan hubungan yang bermakna dan kreatif.

Karena profesinya sebagai guru adalah berdasarkan panggilan jiwa, maka bila guru melihat anak didiknya senang berkelahi, meminum minuman keras, menghisap ganja, datang ke rumah-rumah bordil, dan sebagainya, guru merasa sakit hati. Siang atau malam selalu memikirkan bagaimana caranya agar anak didiknya itu dapat dicegah dari perbuatan yang kurang baik, asusila, dan amoral.

Guru seperti itulah yang diharapkan untuk mengabdikan diri di lembaga pendidikan. Bukan guru yang hanya menuangkan ilmu pengetahuan ke dalam otak anak didik. Sementara jiwa, dan wataknya tidak dibina. 

Memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik adalah suatu perbuatan yang mudah, tetapi untuk membentuk jiwa dan watak anak didik itulah yang sukar, sebab anak didik yang dihadapi adalah makhluk hidup yang memiliki otak dan potensi yang perlu dipengaruhi dengan sejumlah norma hidup sesuai ideologi falsafah dan bahkan agama.

Menjadi tanggung jawab guru untuk memberikan sejumlah norma kepada anak didik agar tahu mana perbuatan yang susila dan asusila, mana perbuatan yang bermoral dan amoral. Semua norma itu tidak mesti harus guru berikan ketika di kelas, di luar kelas pun sebaiknya guru contohkan melalui sikap, tingkah laku, dan perbuatan. Pendidikan dilakukan tidak semata-mata dengan perkataan, tetapi dengan sikap, tingkah laku, dan perbuatan.

Anak didik lebih banyak menilai apa yang guru tampilkan dalam pergaulan di sekolah dan di masyarakat dari pada apa yang guru katakan, tetapi baik perkataan maupun apa yang guru tampilkan, keduanya menjadi penilaian anak didik. Jadi, apa yang guru katakan harus guru praktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Wens Tanlain dan kawan-kawan (1989: 31) guru yang bertanggung jawab memiliki beberapa sifat, yakni:

      ▪︎ 1. Menerima dan mematuhi norma, nilai-nilai kemanusiaan

      ▪︎ 2. Memikul tugas mendidik dengan bebas, berani, gembira (tugas bukan menjadi beban baginya)

      ▪︎ 3. Sadar akan nilai-nilai yang berkaitan dengan perbuatannya serta akibat-akibat yang timbul (kata hati)

      ▪︎ 4. Menghargai orang lain, termasuk anak didik

      ▪︎ 5. Bijaksana dan hati-hati (tidak nekat, tidak sembrono, tidak singkat akal)

      ▪︎ 6. Takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Untuk itu guru harus bertanggung jawab atas segala sikap, tingkah laku, dan perbuatannya dalam rangka membina jiwa dan watak anak didik. Dengan demikian, tanggung jawab guru adalah untuk membentuk anak didik agar menjadi orang bersusila yang cakap, berguna bagi agama, nusa, dan bangsa di masa yang akan datang. Semoga bermanfaat.



Penulis : Ayasa Coz

Sumber :

- Fahyuni, Eni Fariyatul (2016) Kunci Sukses Guru dan Peserta didik dalam Interaksi Edukatif

Sabtu, Oktober 02, 2021

Hari Batik Nasional dan Hari Tanpa Kekerasan Internasional

Halo, ketemu lagi dengan Dunia Psikologi, satu dua telinga untuk berjuta-juta suara. 

Tahukah sahabat DuPi, jika di Indonesia setiap tanggal 2 Oktober diperingati sebagai Hari Batik Nasional dan di dunia Internasional diperingati sebagai Hari Tanpa Kekerasan Internasional?

Dua peringatan hari ini sama-sama berasal dari penetapan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Untuk lebih jelasnya sahabat DuPi, kami akan merangkum tentang Hari Batik Nasional dan Hari Tanpa Kekerasan Internasional untuk menambah pengetahuan kita bersama. 

 𝗛𝗮𝗿𝗶 𝗕𝗮𝘁𝗶𝗸 𝗡𝗮𝘀𝗶𝗼𝗻𝗮𝗹 

Perlu sahabat DuPi ketahui, pertama kali batik ditetapkan sebagai warisan budaya yaitu pada tanggal 2 Oktober tahun 2019 silam oleh UNESCO.

Dalam memperingati hari batik, beragam lapisan masyarakat akan mengenakan pakaian batik, bahkan para pelajar juga disarankan menggunakannya.

Sebelumnya, batik pertama kali dikenalkan kepada dunia Internasional oleh Presiden Soeharto saat mengikuti konferensi PBB. Bahkan dalam pertemuan tersebut, Presiden Soeharto memberikan batik kepada tamu undangan sebagai cinderamata sekaligus mengenalkannya ke dunia luar. 

Kemudian batik didaftarkan untuk mendapatkan Cultural Heritage di UNESCO pada 4 Septrember 2008. Satu tahun kemudian batik ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi.

Maka, untuk tetap menjaga dan melestarikan warisan buadaya ini, setiap tanggal 2 Oktober diperingati sebagai Hari Batik Nasional dan setiap warga negara Indonesia disarankan untuk menggunakannya.

Kalau bukan saya, kamu dan sahabat DuPi yang menggunakan produk dalam negeri, siapa lagi? Masa sih, sahabat DuPi kalah dengan oppa Korea yang bahkan sudah menggunakan batik. 


𝗛𝗮𝗿𝗶 𝗧𝗮𝗻𝗽𝗮 𝗞𝗲𝗸𝗲𝗿𝗮𝘀𝗮𝗻 𝗜𝗻𝘁𝗲𝗿𝗻𝗮𝘀𝗶𝗼𝗻𝗮𝗹 

Penetapan 2 Oktober sebagai Hari Tanpa Kekerasan berdasarkan hari kelahiran Mahatma Gandhi, seorang pemimpin gerakan kemerdekaan India dan pelopor filosofi tanpa kekerasan.

Salah satu pesan Mahatma Gandhi yang terus dikenang hingga sekarang adalah, "Perjuangan tanpa kekerasan dapat disebut sebagai kekuatan terbesar yang ada di tangan umat manusia. Kapasitas itu lebih kuat daripada senjata pemusnah paling hebat yang pernah diciptakan manusia," ujar Gandhi, sebagaimana dikutip laman PBB.

Salah satu keberhasilan menerapkan perjuangan tanpa kekerasan atau ahimsa yang diusung Gandhi adalah dalam perjuangan melawan kolonialisme Inggris, pada peristiwa Salt March pada tahun 1930.

Menurut Gandhi, melawan kekerasan tidak bisa dilakukan dengan kekerasan juga. Mustahil mencapai masyarakat yang damai dengan jalan kekerasan.

Menurut resolusi Majelis Umum PBB bernomor A/RES/61/271 of 15 June 2007, peringatan Hari Tanpa Kekerasan Internasional diresmikan dengan tujuan untuk penyebarluasan pesan antikekerasan kepada seluruh dunia, termasuk lewat pendidikan dan penyadaran publik.

Hal tersebut menegaskan kembali relevansi universal prinsip antikekerasan dan keinginan untuk menjamin budaya damai, toleransi, pemahaman dan antikekerasan. 

Di negara Indonesia, kekerasan sudah menjadi pemberitaan sehari-hari. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) telah mencatat kasus kekerasan terhadap anak setiap tahunnya melalui sistem informasi online ( Simfoni-PPPA). Tercatat per tanggal 23 Juli 2021 terdapat lebih dari 7.190 kasus kekerasan terhadap anak dan lebih dari 5.500 kasus kekerasan terhadap perempuan di masa pandemi covid 19.

Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak bukan semata-mata menjadi tanggung jawab pemerintah saja. Perlu adanya sinergi dari berbagai pihak agar adanya perlindungan khusus bagi perempuan dan anak yang menjadi korban tindakan kekerasan dan bisa menghukum secara adil pelaku kekerasan tersebut. 

Iya, sahabat DuPi, harusnya kesadaran hukum masyarakat di Indonesia diharapkan bisa terus meningkat dan lembaga Hukum terus berbenah. Agar tidak ada lagi yang namanya kekerasan dalam rumah tangga yang menimpa baik perempuan dan anak-anak. 

Seperti kata Gandhi, "An unjust law is itself a species of violence. (Hukum yang tidak adil itu merupakan jenis kekerasan sendiri)."

Mari sahabat DuPi, menjaga diri dan perlakukanlah orang terdekat dan sekitar kita dengan lemah lembut tanpa kekerasan. Salam penuh cinta Dunia Psikologi


Jumat, Oktober 01, 2021

Orang yang Sulit Dikalahkan

Halo sahabat Dupi, apa kabar? Ketemu lagi dengan Dunia Psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara. 

Menurut kalian orang yang sulit dikalahkan seperti apa sih? 

Apakah kita pernah merasa diri kita tidak berguna? Apakah kita selalu cemas akan  ketakutan pada masa depan yang belum tentu terjadi?

Masalahnya sekarang, tidak semua orang memiliki keinginan yang kuat untuk meraih atau menerima sesuatu. Kehidupan tidak selalu menyediakan jalan yang mulus untuk mendapat sebuah keberhasilan. Akan tetapi, kita diberikan kemampuan untuk menyiasati dan melalui jalan itu dengan penuh kemenangan. 

Jika kamu berpikir bahwa saat ini hanya sebagai beban keluarga dan tidak mungkin lagi melakukan sesuatu yang berarti, semoga kita bisa mengambil hikmah yang terpendar dari kisah ini. 

Di usia 5 tahun ayahnya meninggal.
Di usia 16 tahun dia berhenti bersekolah.
Di usia 17 tahun dia sudah dipecat 4 kali dari pekerjaan.
Di usia 18 tahun dia menikah.
Di usia 18 - 22 tahun dia menjadi konduktor dan gagal.
Di usia 19 tahun dia menjadi ayah.
Di usia 20 tahun istrinya meninggalkannya membawa serta anaknya.
Lalu dia ikutan militer dan dikeluarkan.
Dia mencoba tes masuk fakultas hukum, tetapi gagal.
Dia bekerja di cafe kecil sebagai tukang cuci piring dan tukang masak.
Dia mencoba mengambil lagi putrinya dari istrinya yang pergi meninggalkannya dan akhirnya berhasil meyakinkan istrinya untuk kembali pulang.

Di usia 65 tahun dia pensiun dari pekerjaan dan di hari pertama menjadi pensiunan, dia mendapat dana jaminan sosial dari negara senilai 99 dollar. Perjalanan hidup membawanya pada satu titik terendah dalam hidupnya, titik di mana dia jatuh miskin. Yang dimilikinya hanyalah sebuah rumah kecil dan sebuah mobil butut yang lebih pantas disebut rongsokan.

Akhirnya dia memutuskan untuk melakukan percobaan bunuh diri, karena merasa selama 65 tahun hidup, selalu menjadi orang gagal di bidang apa pun. Dia duduk di bawah pohon, menuliskan niat bunuh dirinya disecarik surat. Namun akhirnya, dia mengurungkan niat dan sebaliknya dia menulis, "Apa yang mau kucapai di sisa hidupku ini?"

Orang tua ini sadar, bahwa dia masih punya kesempatan dan keahlian, yaitu memasak. Dia akhirnya meminjam uang dengan jaminan cek, kemudian membeli ayam, dan memasak dengan resepnya. Lalu berjualan dari pintu ke pintu hingga ditolak 1.009 kali dari satu rumah ke rumah lainnya di kota Kentucky. Pada suatu ketika, sebuah restoran mencoba memakai resepnya. 

Kelezatan resep milik Sanders membuat gubernur Kentucky saat itu memberikan gelar Kolonel. Gelar ini merupakan gelar tertinggi yang diberikan oleh pemerintah. Di sinilah awal kesuksesan seorang tua bernama Kolonel Harland Sanders. Pendiri KFC ini meninggal di usia 90 tahun pada 16 Desember 1980 di Louisville, Kentucky.

Saat ini, siapa yang tidak kenal makanan cepat saji Kentucky Fried Chicken? Menunya tersebar di seluruh belahan dunia. 


Pesan moral :

Gagal itu tidak harus kamu takuti. Untuk meraih keberhasilan dan membuat perubahan hidup dibutuhkan kegigihan dan sifat pantang menyerah. Tidak selamanya usia bisa dijadikan alasan untuk tidak berkarya atau melakukan sesuatu. Dalam hidup yang dibutuhkan adalah tekad dan kemauan keras. 

Ingat sahabat DuPi, "Orang yang paling sulit untuk dikalahkan adalah orang yang tidak pernah menyerah." Ketika telah tiba di puncak kesuksesan kita akan tahu bahwa Tuhan memberikan kesuksesan kepada mereka yang benar-benar tekun untuk mendapatkannya. 

SELAMAT HARI KESAKTIAN PANCASILA
1 Oktober 2021


Salam penuh cinta Dunia Psikologi.


Penulis : Ayasa Coz 

Referensi : 

Mei Katrin (2009). Segenggam Mutiara Kehidupan : Hasil Sebuah Ketekunan


Mengenal Kepribadian Ekstrovert

Halo Sabahat DuPi di mana pun berada, apa kabar? Kembali lagi dengan Dunia psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara. Minggu lalu...