Senin, Juni 27, 2022
Apasi Overthingking Itu?
Sabtu, Juni 25, 2022
Pentingnya Self-Talk
Apakah Self-Talk Berbahaya?
Halo
sobat DuPi! Bagaimana kabarnya? Semoga dalam keadaan yang baik serta sehat
selalu ya. Kembali lagi dengan Dunia psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara. Baik, disini saya akan menjelaskan mengenai self-talk.
Sobat
semua apakah pernah melakukan self-talk?
Atau malah memendam semuanya? Alangkah baiknya, perasaan serta pikiran tersebut
diluapkan ya sobat. Apakah kamu pernah mengajak berbicara sendiri dengan diri
kamu? Seperti berbagi pikiran, pendapat serta pertanyaan. Lantas apakah hal
tersebut baik bagi kesehatan?
Berbicara sendiri, sehat atau gangguan jiwa? Pernahkah kamu
berbicara dengan diri sendiri? Mungkin banyak orang berpikir bicara sendiri
atau self-talk terkait erat dengan
gangguan jiwa seperti skizofrenia
atau semacamnya. Akibatnya,
banyak orang merasa tidak nyaman berbicara dengan diri sendiri. Padahal, hal
tersebut tak sepenuhnya benar.
James
McConnell, seorang ahli biologi dan ahli
psikologi hewan Amerika, mengatakan bahwa berbicara sendiri sebenarnya sehat
secara psikologis. Hal serupa juga diungkapkan oleh Jill Bolte Taylor, seorang ahli saraf. Begitu banyak
manfaat ketika seseorang berbicara dengan dirinya, selain sebagai proses
memahami dirinya. Hal tersebut dapat membantu juga untuk menghilangkan rasa
stress.
Dikutip dari laman Healthline, self-talk adalah dialog
atau percakapan internal pada diri
sendiri yang dipengaruhi oleh pikiran bawah sadar dengan mengungkapkan pikiran,
pertanyaan, serta gagasan, yang diucapkan dalam hati atau disuarakan secara
lantang sehingga menjadi sugesti bagi diri sendiri. Dapat dikatakan juga self-talk adalah suatu keadaan ketika seseorang sedang bermonolog
dan hal ini membantu diri sendiri menjadi lebih
sadar dalam berpikir, merasa, dan bertindak.
Jenis self-talk itu ada apa
aja?
Dilansir dari Tirto.id, self-talk terdapat
dua jenis yaitu self-talk negatif
dan positif. Dalam hal negatif, self-talk cenderung
kepada pikiran yang bersifat pesimistis, tidak percaya diri, dan mudah
menyerah. Jika terjadi secara berkelanjutan, tentunya dapat
mempengaruhi pola pikir dan berakibatkan overthinking.
Namun, enggak usah khawatir sebab hal tersebut dapat dihentikan dengan pikiran
optimistis, yang disebut sebagai self-talk positif. Hmmm,
mengapa demikian, ya?
Diperoleh dari Kompasiana, menurut Robert
S. Weinberg, psikolog dari Miami University, seseorang
yang memilki self-talk positif
tidak akan mudah putus asa, melainkan akan terus berusaha mencapai tujuan
dengan menjadikan kegagalan atau kesalahan sebagai pelajaran. Dengan kata
lain self-talk positif dapat membangun kepercayaan diri seseorang dan membuat
perasaan seseorang merasa lebih baik.
Lantas apa sih manfaat
dari self-talk positif?
Menukil dari Tirto.id, dalam sebuah studi yang dihimpun dalam Journal of Personality and Social
Psychology, self-talk positif
memiliki lima manfaat di antaranya: membantu berdamai dengan situasi yang tidak
bisa dikontrol, membantu meredakan stress, meningkatkan perfomansi diri,
menjadi pribadi yang senantiasa beraura positif, serta membantu diri
melakukan self-reflection.
Wah, keren banget kan.
Selain itu, dengan melakukan self-talk positif, situasi
yang ditakutkan akan mudah dilewati. Self-talk positif
dapat membantu mencari solusi dengan kepala dingin, juga memberikan efek yang
membuat pikiran lebih sehat dan fokus terhadap suatu hal. Penting untuk
diingat, sesuatu yang positif akan membuahkan hasil yang positif pula. Namun perlu
diingat, bahwa berpikiran selalu positif dapat mengakibatkan toxic positivity yang membuat kamu sulit
untuk merasa terbuka atas perasaan yang kamu alami.
Cara mengatasi negatif self-talk dengan mudah. Berikut beberapa strategi
cara mengatasi negatif self-talk yang
perlu kamu coba:
Sadari ketika sedang mengkritik: hal
pertama yang perlu dilakukan adalah menyadari bahwa kamu sedang mengkritik diri
sendiri dengan pikiran negatif. Ketika sudah menyadari, berarti kamu memahami
bahwa itu tidak baik dan perlu dihentikan. Kritik negatif tersebut tidak
selayaknya dikatakan pada diri sendiri, seperti ketika kamu tidak boleh
mengatakannya pada orang lain.
Walaupun begitu, self-talk
sendiri dapat dihentikan jika sudah hal tersebut sudah terasa tidak nyaman.
Ubah menjadi netralitas: ubah pikiran
negatif menjadi pikiran yang lebih netral. Misalnya:
"Saya tidak tahan ini" ubahlah menjadi, "Ini
menantang."
"Saya benci ..." ubahlah menjadi, "Saya
tidak suka ..."
Dengan menggunakan bahasa yang lebih
lembut, perlahan pikiran negatif akan tenang dengan lebih mudah.
Selalu bertanya: bertanyalah kepada diri
sendiri, seberapa benar pikiran negatif yang sedang dipikirkan. Apakah benar,
atau justru kamu hanya berpikir berlebihan. Sebagian besar pikiran negatif
memang selalu dilebih-lebihkan, hingga jauh dari realitas. Hal ini
juga dapat menimbulkan overthinking
yang padahal tersebut belum tentu terjadi.
Ubah perspektif: terkadang melihat
sesuatu dalam jangka panjang dapat membantu kamu menyadari bahwa kamu sudah
terlalu menekankan sesuatu. Ubah perspektif kamu dengan mendalami dan melihat
masalah kamu dari jarak yang sangat jauh. Kamu perlu keluar dari dalam pikiran
dan memandang masalah sebagai objek yang netral. Perlu sekali
untuk kamu memahami sesuatu dari berbagai sudut pandang lain, selain untuk
meringankan beban pikiran. Hal ini dapat membantu kamu untuk menemukan jawaban
serta solusi atas masalah yang sedang kamu hadapi.
Ganti menjadi hal yang lebih baik: cara
mengatasi negatif self-talk juga bisa
dengan mengganti pikiran negatif dengan hal yang lebih baik. Kamu bisa melihat
sisi positif dari masalah yang terjadi untuk mengalahkan pikiran negatif yang
sedang terjadi. Hal ini dapat membuat perasaan dan pikiran menjadi lebih
tenang.
Referensi :
Walter, N., Nikoleizig, L., &
Alfermann, D. (2019). Effects of Self-Talk Training on Competitive Anxiety,
Self-Efficacy, Volitional Skills, and Performance: An Intervention Study with
Junior Sub-Elite Athletes. Sports (Basel, Switzerland). 7(6), pp. 148.
Jantz, G. Psychology Today (2016). The
Power of Positive Self-Talk. Psychology Today. Self-Talk.
Health Direct (2019). Self-Talk.
Holland, K. Healthline (2020). Positive
Self-Talk: How Talking to Yourself Is a Good Thing.
Senin, Juni 20, 2022
Open Minded
Halo sabahat DuPi di mana pun berada, apa kabar? Kembali lagi dengan Dunia psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara.
Temen-temen sebelumnya udah pada tau belum sih apa itu open minded?
Nah, jadi teman-teman open minded adalah berfikir terbuka. Berpikiran terbuka umumnya dianggap sebagai kualitas positif. Ini adalah kemampuan yang diperlukan untuk berpikir kritis dan rasional.
Berfikir terbuka itu sangat penting loh. Berfikir terbuka dapat memudahkan anda untuk melihat semua faktor yang berkontribusi terhadap masalah atau menghasilkan solusi yang efektif.
Tidak berarti bahwa berpikiran terbuka itu mudah loh. Bersikap terbuka terhadap ide dan pengalaman baru kadang juga dapat menyebabkan kebingungan dan disonansi kognitif ketika kita mempelajari hal-hal baru yang bertentangan dengan kepercayaan yang ada.
Kebalikan dari pikiran terbuka adalah pikiran tertutup atau dogmatis. Orang yang berpikiran tertutup biasanya hanya mau mempertimbangkan sudut pandang mereka sendiri dan tidak mau menerima gagasan lain.
Berpikiran terbuka berarti memiliki kemampuan untuk mempertimbangkan perspektif lain dan berusaha untuk berempati terhadap orang lain, bahkan ketika Anda tidak setuju dengan mereka.
Akan tetapi, pikiran terbuka juga memiliki batasnya.Itu tidak menyiratkan bahwa Anda harus bersimpati dengan setiap ideologi. Tetapi berusaha memahami faktor-faktor yang mungkin mengarah pada ide-ide itu dapat membantu dalam menemukan cara untuk membujuk orang untuk mengubah pikiran mereka.
Karakteristik dan Tanda-tanda Orang Open Minded
•Mereka penasaran mendengar apa yang dipikirkan orang lain.
•Mereka dapat ditantang gagasannya.
•Mereka tidak marah ketika mereka salah.
•Mereka memiliki empati terhadap orang lain.
•Mereka berpikir tentang apa yang dipikirkan orang lain.
•Mereka rendah hati tentang pengetahuan dan keahlian mereka sendiri.
•Mereka ingin mendengar apa yang dikatakan orang lain.
•Mereka percaya bahwa orang lain memiliki hak untuk membagikan kepercayaan dan pikiran mereka.
Manfaat Menjadi Berpikiran Terbuka
Apa manfaat dari menjadi lebih berpikiran terbuka?
1. Memiliki Pengalaman Baru:
Terbuka untuk ide-ide lain juga dapat membuka Anda terhadap pengalaman baru.
2. Mencapai Pertumbuhan Pribadi:
Menjaga pikiran terbuka dapat membantu Anda tumbuh sebagai pribadi. Anda belajar hal-hal baru tentang semua yang anda belum ketahui sebelumnya.
3. Menjadi Kuat Secara Mental:
Tetap terbuka terhadap gagasan dan pengalaman baru dapat membantu Anda menjadi orang yang lebih kuat dan lebih bersemangat. Pengalaman dan pengetahuan Anda terus saling membangun.
4. Merasa Lebih Optimis:
Salah satu masalah dengan tetap berpikiran tertutup adalah sering menimbulkan perasaan negatif yang lebih besar. Bersikap terbuka dapat membantu menginspirasi sikap yang lebih optimis terhadap kehidupan dan masa depan.
5. Mempelajari Hal-Hal Baru:
Sulit untuk terus belajar ketika Anda mengelilingi diri Anda dengan ide-ide lama yang sama. Mendorong batas-batas Anda dan menjangkau orang-orang dengan berbagai perspektif dan pengalaman dapat membantu menjaga pikiran Anda tetap segar.
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Open-Mindedness
Ada beberapa hal yang dapat memengaruhi seberapa terbuka atau tertutupnya seseorang:
1. Kepribadian
Keterbukaan terhadap pengalaman adalah salah satu dari lima dimensi luas yang membentuk kepribadian manusia. Ciri kepribadian ini memiliki banyak sifat yang sama dengan pikiran terbuka, seperti mau mempertimbangkan pengalaman dan gagasan baru dan terlibat dalam pemeriksaan diri.
2. Keahlian
Penelitian menunjukkan bahwa orang berharap para ahli menjadi lebih dogmatis tentang bidang keahlian mereka. Ketika orang merasa bahwa mereka lebih berpengetahuan atau terampil dalam suatu bidang daripada orang lain, mereka cenderung berpikiran terbuka.
3. Nyaman dengan Ambiguitas
Orang memiliki berbagai tingkat kenyamanan ketika berhadapan dengan ketidakpastian. Terlalu banyak ambiguitas membuat orang merasa tidak nyaman dan bahkan tertekan.
Cara Memiliki Pemikiran Yang Terbuka
1. Bijaklah dalam merespons suatu informasi
Salah satu yang membedakan antara orang yang open minded dan close minded adalah cara mereka dalam merespons suatu informasi. Orang yang close minded atau berpikiran tertutup umumnya akan menanggapi suatu informasi atau pendapat yang berbeda dengan emosi. Sebaliknya, orang yang berpikiran terbuka atau open minded menanggapi suatu hal yang berbeda dengan santai.
2. Rajin bersosialisasi dan perluas lingkaran pertemanan
Dengan memperluas lingkaran pertemanan, kamu akan banyak mempelajari hal-hal baru dan pemikiran yang berbeda-beda yang akan memperluas wawasanmu.
3. Jauhi kebiasaan berasumsi
Daripada banyak berasumsi dan menebak-nebak, jauh lebih baik kalau kamu mencari tahu secara langsung. Selain dapat membuat dirimu lebih yakin, tentunya kamu juga akan mendapatkan pengalaman yang tidak akan kamu dapatkan jika hanya terus berasumsi.
4. Perbanyak pengalaman
Pengalaman yang kamu dapatkan juga bisa memberikanmu perspektif yang baru terhadap suatu hal.
5. Jangan kaku
Untuk menjadi orang yang lebih open minded, kamu harus bersikap fleksibel dalam menerima hal-hal baru. Semakin banyak mencoba hal-hal baru, menemui orang-orang baru, dan berusaha merangkul ide-ide baru, kamu akan banyak mengalami keberhasilan, bahagia, bangga, gagal, kecewa, hingga sedih.
Nah, itu dia pemaparan mengenai open minded. Ayo ciptakan pemikiran yang terbuka, untuk generasi yang terampil.
Penulis : Aliya Jahwania
Referensi :
• m.merdeka.com
• idn.times.com
Sabtu, Juni 18, 2022
Menghindari Self-love Berubah Jadi Toxic Positivity
Halo sobat DuPi! Bagaimana kabarnya? Semoga dalam keadaan baik serta sehat selalu ya. Baik, perkenalkan saya Kiki Zulaikha dari divisi Jurnalis Blog Writer. Dari pada berlama-lama, mari kita langsung saja menuju pembahasannya!
Sobat semua apakah pernah merasakan insecure? Ya, seperti materi sebelumnya yang saya bahas. Insecure ialah suatu keadaan seseorang yang memiliki rasa kepercayaan dirinya kurang dan ketidakmampuan dalam menghadapi suatu masalah. Dan salah satu cara melawan insecure itu sendiri ialah dengan mulai mencintai diri sendiri atau istilahnya ialah self love. Namun, apakah sobat tahu apa itu self love sebenarnya?
Dilansir dari laman Abrand Theraphy, menurut ahli therapist Abrand Brandt, self love bukan berarti kamu berpikir bahwa kamu adalah orang yang paling cerdas, paling berbakat, dan paling cantik di dunia. Sebaliknya, self love artinya ketika kamu tau cara mencintai diri sendiri, kamu akan menerima apa yang menjadi kelemahanmu, menghargai apa yang disebut kekuranganmu, ini sebagai sesuatu yang membuat kamu menjadi diri sendiri.
Berbicara mengenai self love, pendekatan setiap orang boleh jadi berbeda dalam prosesnya. Dan bisa jadi ketika kamu dengan lantang mengkampanyekan ajakan untuk mencintai diri sendiri sepenuhnya malah terjerumus ke dalam toxic positivity.
Melansir laman Psychology Today, frasa toxic positivity mengacu pada konsep tetap positif sebagai metode konstan dalam menjalani hidup. Dengan kata lain, kamu hanya fokus pada hal-hal positif dan menolak apa pun yang dapat memicu emosi negatif.
Meditation Instructor, Cindy Gozali, menyatakan, supaya tak mencampur adukkan self love dengan toxic positivity, kamu harus memastikan punya kesadaran diri tentang masalah yang dihadapi. Jadi bisa dikatakan, kamu harus mengetahui dan memahami betul bentuk dari kekurangan yang ada pada dirimu. Agar kita tidak menjadikannya sebagai bentuk pelarian atas tanggung jawab kita sendiri.
Artha Julie Nava, selaku Personal Branding Coach menjelaskan bahwa pikiran positif bakal menjelma jadi racun ketika seseorang mulai mengabaikan masalah. Yang harus digaris bawahi, punya pola pikir positif bukan berarti mengecilkan masalah atau bertindak seolah-olah tak ada masalah sama sekali.
Secara Tidak Sadar Terjebak dalam Toxic Positivity
Namun, tanpa disadari banyak orang yang tidak mengetahui batasan antara self love dengan toxic positivity. Dilansir dari laman Very Well Mind, frasa toxic positivity mempunyai arti keyakinan bahwa tidak peduli seberapa parah atau sulitnya suatu situasi, orang harus mempertahankan pola pikir positif.
Secara singkatnya, toxic positivity ini hanya fokus pada hal-hal positif yang dapat menenangkan pikiran diri sendiri dan menolak hal-hal yang memicu emosi negatif. Pikiran positif ini yang kemudian akan berubah menjadi racun ketika seseorang mulai mengabaikan masalah dan hidup seolah-olah tidak ada masalah.
Misalnya, ketika berat badan kamu mengalami kenaikkan yang drastis, lantas kamu sama sekali tidak melakukan sebuah usaha seperti berolahraga, memakan makanan yang sehat serta menjaga pola hidup. Justru kamu mengatakan kamu menerima dan mencintai dirimu yang seperti itu, padahal hal itu bisa saja membahayakan dirimu.
Kapan Sebenarnya Self Love Berubah Menjadi Toxic Positivity?
Seruan ‘love yourself’ yang salah kaprah dan ditelan mentah-mentah dapat berubah menjadi toxic positivity. Misalnya, menghabiskan banyak uang dengan tujuan berjalan-jalan ke tempat yang ingin didatangi dengan alasan healing karena stress. Mendukung kebiasaan buruk seperti tidak mengontrol asupan makanan atau menghabiskan banyak uang dengan dalih self reward, tidak berolahraga dan tidak merawat diri dengan dalih body positivity yang kemudian bersembunyi di balik kata self love. Semua itu adalah kesalahan yang kerap kali kita temukan seolah hal ini merupakan sesuatu yang wajar. Bahkan beberapa orang menjadikan sebuah istilah ‘seni’ ini sebagai ajang perlombaan.
Dampak Toxic Positivity
1. Toxic positivity bikin merasa malu dan tidak nyaman sama emosi sendiri
Memaksakan buat berpikir positif ketika lagi merasa sakit cenderung bisa membuat seseorang menderita dalam diam. Kita menyembunyikan perasaan kita yang sebenarnya karena takut dinilai negatif, lemah, atau tidak asyik. Kalo sudah kayak begitu, biasanya kita jadi malu dan merasa kurang nyaman kalau diminta buat jujur mengenai perasaan kita. Dan cenderung akan menutup diri dan bersikap seolah baik-baik saja.
2. Toxic positivity berarti menekan emosi yang sebenarnya dirasakan
Sebuah studi menemukan bahwa mengekspresikan emosi, bahkan yang negatif sekali pun, ternyata membantu kita untuk mengatur respon stress. Menekan emosi dengan bertindak seolah-olah tidak ada apa-apa malah meningkatkan kadar stres di dalam diri kita. Sebab itu, kita harus pintar dalam mengolah emosi, terutama perasaan negatif. Dengan menekannya, hal itu malah berdampak pada pola pikir dan perilaku, misalnya kamu merasakan sedih teramat dalam. Namun kamu sulit dalam melampiaskannya dan justru mensugesti untuk jangan menangis. Hal ini bisa berbahaya karena emosi negatif yang telah lama dipendam, bisa saja meledak sewaktu-waktu. Alangkah baiknya, kita menerima perasaan negatif tersebut.
3. Merasa terisolasi gara-gara toxic positivity
Bersikap seolah-olah selalu tangguh karena toxic positivity malah membuat kita seperti bukan manusia sewajarnya. Akhirnya, kita jadi tidak terkoneksi lagi dengan diri sendiri, dan orang lain pun jadi sulit juga untuk terkoneksi sama kita.
Padahal, kamu bisa minta bantuan kepada orang terdekat ketika lagi tidak baik-baik saja. Tapi, toxic positivity bikin kamu tidak bisa jujur bahwa sebenarnya kamu butuh pertolongan. Kalo sudah begitu, tidak heran kalau kamu mulai merasa terisolasi. Kamu akan merasa minder ketika merasa membutuhkan pertolongan dan semakin tidak mengenal sisi dari dirimu sendiri. Hal ini tentunya akan membebani dirimu.
Nah, seperti saya jelaskan bahwa toxic positivity bisa menjadi baik asal kita bisa membatasi hal yang memang perlu kita anggap positif atau tidak. Jangan merasa terbebani atas rasa bahwa semua hal akan menjadi lebih baik jika kita hanya memandang satu sisi saja. Jika kamu merasakan hal yang tidak nyaman atau berpikir bahwa selama ini kamu mengalami toxic positivity, saya sarankan untuk membicarakannya dengan tenaga ahli profesionalnya langsung. Akhir kata untuk membantu kamu memahami perbedaan self love dan toxic positivity. Terima kasih!
Referensi :
• https://doi.org/10.1111%2Fj.1467-9280.2009.02370.x
•https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-man-cave/201908/toxic-positivity-dont-always-look-the-bright-side
• https://thepsychologygroup.com/toxic-positivity/
•https://www.medicalnewstoday.com/articles/toxic-positivity
Senin, Juni 13, 2022
Self Defelopment
Halo sabahat DuPi di mana pun berada, apa kabar? Kembali lagi dengan Dunia psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara.
Bagi kamu yang tidak ingin stuck disitu-situ saja, maka melakukan self development adalah suatu hal wajib bagi kamu. Self development dapat meningkatkan skill serta kualitas diri untuk menjadi pribadi lebih baik.
Self development tidak hanya dilakukan untuk kepentingan pekerjaan saja loh, tetapi juga dalam berbagai hal, seperti sikap dan emosional. Oleh sebab itu, penting bagi kamu untuk melakukan introspeksi diiringi dengan pengembangan diri. Bagaimana caranya? Yuk simak pembahasan kita kali ini
Apa itu Self Development?
Self development merupakan suatu strategi atau cara yang dilakukan oleh seseorang individu guna meningkatkan kesadaran diri bahkan keterampilan atau potensi yang dimiliki. Tujuannya adalah peningkatan priadi dan kualitas hidup.
Self development adalah salah satu kunci untuk meningkatkan kualitas hidup dan diri priadi. Dengan kata lain individu yang menerapkan pengembangan pribadi berusaha untuk meningkatkan dan mengubah kualitas pribadinya maupun kehidupannya.
Setiap individu tentunya memiliki perspektif masing-masing dalam menjelaskan “kualitas hidup”. Beberapa menafsirkan serta mempertimbangkannya dari perspektif spiritual dan finansial. Hal itu karena setiap orang pernah dan berada pada tingkat perkembangan pribadi yang berbeda. sehingga kebutuhan perkembangannya juga berbeda.
Ada orang yang membutuhkan pengembangan pribadi terkait karir seperti pekerjaan, jabatan, dan sebagainya. Kemudian ada yang membutuhkan pengembangan priadi terkait dengan kemampuan dan bakatnya, seperti public speaking, seni atau olahraga. Ada juga yang membutuhkannya di segi keuangan atau situasi keuangan mereka.
Cara Melakukan Self Development
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya jika melakukan metode dari setiap orang itu berbeda-beda. Kebutuhan pengembangan juga berbeda-beda untuk setiap orang. Namun secara garis besar ada beberapa cara untuk melakukan pengembangan diri ini. Meski ada cara yang dilakukan, namun kalian juga perlu tahu jika melakukan self development perlu proses. Semua perlu tahapan dan waktu yang dibutuhkan juga berbeda-beda. Lantas apa saja sebenarnya cara yang bisa dilakukan untuk pengembangan diri?
1. Kenali Diri Sendiri
Hal pertama yang bisa dilakukan untuk self development adalah mengenali diri sendiri. Apa saja sih sebenarnya kekuatan dan kelemahan dalam diri sendiri? Jika ada pertanyaan seperti itu, maka yang bisa menjawab adalah diri kita sendiri.
Sebab tak ada orang lain yang bisa mengenal diri kita selain diri kita pribadi. Karena diri kita sendirilah yang mampu mengenal siapa diri kita sebenarnya. Bahkan lewat beberapa kejadian juga bisa membuat kita lebih mengenal diri sendiri loh. Nah dari mengenal diri sendiri inilah nantinya kita bisa ke tahap perubahan.
2. Kenali Tujuan Hidup Secara Pasti
Berikutnya adalah mengenali tujuan hidup secara pasti. Ketahui apa yang ingin benar-benar diraih dalam hidup kita selanjutnya. Sebab tujuan hidup yang sudah pasti akan membimbing kita mengambil langkah-langkah ke yang lebih baik lagi.
3. Selalu Belajar
Proses pembelajaran dalam hidup ini tetap perlu berlangsung setiap saat. Mereka yang berhenti belajar ketika keluar dari bangku sekolah secara tidak langsung akan menurunkan kualitas dari dirinya sendiri
Waktu terus berjalan dan tentunya banyak perkembangan yang terus berlangsung. Bahkan setiap harinya banyak hal-hal baru. Bayangkan saja jika kita tak belajar lagi. Maka hal-hal baru dari perkembangan yang sedang berjalan selama ini juga tak akan diketahui.
Belajar juga tak harus melalui pendidikan atau sekolah, namun belajar juga bisa melalui berbagai aspek seperti belajar dari orang lain atau belajar dari kejadian yang telah terjadi. Perlu kalian tahu bahwa setiap orang mampu memberikan pembelajaran untuk diri kita, setiap kejadian juga mampu membuat kita ingin lebih baik lagi kedepannya.
4. Ciptakan Pola Pikir Terbuka dan Berkembang
“fixed midset” atau pola pikir sempit cenderung mencari aman dan menghindari tantangan. Memang bagus, hanya saja pola pikir itu akan membuat kita menghindari pengalaman baru pengalaman yang akan membantu kita tumbuh dan mengembangkan diri. Sebaliknya, ”growth mindset” atau pola pikir terbuka dan berkembang membantu kita menikmati tantangan, terlepas dari resikonya. Biasanya, karena kita menghargai pembelajaran dan pertumbuhan. Itulah mengapa mereka yang memiliki mindset berkembang seringkali lebih mudah membangun keterampilan baru.
5. Kembangkan Refleks Positif
Hidup terkadang sulit. Semua orang mengalami pasang dan surut kehidupan. Tetapi, tidak semua menanggapi pasang surut ini dengan cara yang sama. Beberapa orang membiarkan masa-masa sulit mengalahkan mereka. Orang lain yang berpikir positif, akan menyelesaikannya dengan hati-hati. Untuk itulah pentingnya mengembangkan refleks positif dalam diri, sehingga kamu bisa menanggapi masa sulit dengan lebih bijak dan tenang.
6. Nikmati Hari Ini
Belajar untuk menikmati dan menerima apa yang kita miliki hari ini. Meskipun kita memiliki tujuan atau impian yang sedang kita perjuangkan, tetap nikmati prosesnya dan nikmati juga bagian sederhana yang berlangsung saat ini.
Manfaat Self Defelopment
Saat kamu mencoba untuk fokus melakukan self development, akan ada manfaat yang kamu dapat, diantaranya:
1. Know Yourself Better
Dengan berfokus pada self development, kamu bisa mulai meningkatkan awareness tentang diri sendiri dan bisa mengenal dirimu dengan baik. Setelah hal ini tercapai, kamu bisa melihat kira-kira sifat atau karakter apa yang ada di diri kamu yang perlu diperbaiki.
2. Bisa level up confidence
Setelah kamu merasa berhasil melakukan self development, akan mulai terlihat versi diri kamu yang lebih baik atau bahkan terbaik. Dengan begitu, point of view kamu terhadap dirimu sendiri akan otomatis berubah dan bisa mulai menyadari value kamu. Hal inilah yang nantinya akan membuat kamu bisa menjadi lebih percaya diri.
3. Membuat mental health menjadi lebih stabil
Self development bisa membantu kamu dalam memperluas perspektif dan pola pikir yang bisa berdampak pada bagaimana respon kita terhadap sesuatu. Sehingga bisa membuat kamu bisa lebih mengontrol emosi dan pikiran. Jika kamu bisa memegang kendali atas segala respon dari dirimu, kemungkinan untuk merasa stress atau cemas yang berlebihan akan berkurang, sehingga kondisi mental health kamu akan bisa lebih baik.
4. Improve your relationship
Saat kamu berfokus pada self development, kualitas dirimu akan menjadi lebih baik dan otomatis bisa membuat hubungan dengan orang lain menjadi lebih baik lagi. Mulai dari hubungan dengan keluarga, teman, pasangan, sampai dengan kolega juga bisa meningkat keharmonisannya. Bisa dibilang self development menjadi kunci dalam membuat hubungan kamu dengan orang lain mempunyai vibe yang positif.
Self development itu penting loh teman-teman yuk mulai lakukan self development. Lebih cepat lebih baik tetapi perlahan pun tak apa, asal tidak berhenti untuk mekar dan menjadi bunga yang layu.
Penulis : Aliya Jahwania
Sumber:
•ocbcnisp.com
•ekrut.com
•gramedia.com
•danacita.co.id
Sabtu, Juni 11, 2022
Insecure
Namun, apakah kita pernah melihat seseorang yang dengan mudahnya mengklaim jika dirinya sedang merasa insecure? Contohnya, pernahkah kita membandingkan diri kita dengan orang lain?
"Orang lain sudah sukses, aku kapan?"
"Kenapa aku enggak bisa seperti dia?"
"Perasaan, aku sudah berusaha, kenapa masih tidak ada perubahan, ya?"
Kemungkinan besar, sebagian orang pasti pernah mengucapkan kalimat tersebut atau bisa jadi kitalah yang berbicara seperti itu kepada orang lain. Dampak yang diberikan oleh insecure sendiri ialah rasa cemas atas dirinya dari segi pandangan orang lain, selalu menanyakan mengenai, "Orang seperti apa aku ini?" Lantas kenapa orang-orang yang mengalami insecure sering merasakan cemas, ragu atau kurang percaya diri?
Menurut Abraham Maslow, insecure adalah suatu keadaan di mana seseorang merasa tidak aman, menganggap dunia sebagai sebuah hutan yang mengancam dan kebanyakan manusia berbahaya dan egois. Mereka akan berusaha untuk mendapatkan kembali perasaan secure (aman) dengan berbagai cara.
Sementara American Psychology Association (APA) mendefinisikan insecure sebagai perasaan tidak baik. Seperti, kurangnya rasa percaya diri dan ketidakmampuan untuk menghadapi suatu masalah.
Kurangnya percaya diri dapat berdampak pada produktivitas. Misalnya, pada saat kamu sedang presentasi mengharuskan kamu berbicara di depan kelas, membuktikan kamu sudah berkembang dan belajar skill public speaking serta research beberapa hal mengenai cara-caranya.
Jika kamu tidak memiliki kepercaya pada diri sendiri, akan sulit menyampaikan materi. Ekspestasimu akan berbeda dengan kenyataannya. Oleh karena itu, kita harus membangun rasa percaya diri. Misalnya dengan latihan di depan cermin dan mencoba berbicara dihadapan orang banyak.
Lantas, mengapa masih ada orang-orang yang mendiagnois dirinya sendiri tanpa tahu penyebab terjadinya insecure? Hal ini disebabkan, ketika seseorang berasumsi bahwa dirinya memahami dan mengetahui betul apa yang sedang terjadi pada kondisi tubuhnya, serta masalah kesehatan yang tengah dialami.
Menurut psikologis klinis Melanie Greenberg, Ph.D., terdapat 3 penyebab umum seseorang merasa insecure. Insecure dapat terjadi karena pernah mengalami kegagalan, mendapatkan penilaian kurang baik dari orang, atau akibat memiliki sifat perfeksionis. Berikut penjelasannya.
1. Mengalami kegagalan atau penolakan.
Sering mengalami penolakan, kegagalan dalam mencapai sesuatu. Kehilangan pekerjaan atau sedang melamar di suatu perusahaan bisa membuat seseorang merasa insecure. Peristiwa tersebut membuat mereka melihat dirinya sendiri dan orang lain dari sudut pandang negatif. Seperti diri sendiri tidak mempunyai kelebihan sama sekali dan terus merasa rendah diri.
2. Mendapatkan penilaian kurang baik dari orang lain.
Rasa tidak aman bisa muncul karena pernah dinilai kurang atau tidak baik oleh orang lain saat bersosialisasi. Mungkin sebagian orang tak terlalu memikirkan hal tersebut, namun ada beberapa orang yang belum siap mendapatkan penilaian ataupun kritikan. Kondisi tersebut yang menyebabkan seseorang dengan insecure cenderung menghindari kegiatan sosial dan menarik diri.
3. Memiliki sifat perfeksionis
Orang yang memiliki sifat perfeksionis selalu menginginkan segala sesuatu berjalan sempurna. Sebenarnya boleh saja meminimalisir tingkat kesalahan, namun hal ini tentunya akan berdampak kurang baik pada diri sendiri yang harus bekerja lebih keras. Perasaan insecure dapat muncul ketika suatu hal tidak terjadi sesuai harapannya. Akibatnya, mereka akan kecewa dan terus-menerus menyalahkan dirinya sendiri.
Banyak orang yang tidak sadar bahwa untuk menjadi cukup adalah dengan menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.
Tentunya dengan melakukan serta memahami kelebihan dan kelemahan diri, kita pahami diri kita seutuhnya. Dengan memiliki pemahaman diri, kita akan lebih mudah untuk mencintai diri atau self love. Tidak memikirkan perkataan orang lain, jika perkataan itu buruk bagi diri kita. Cukup terima positifnya dan jadikan lonjakan bagi diri kita untuk menjadi lebih baik lagi.
Terkadang, kita sendiri tidak sadar bahwa diri kita mempunyai kelebihan yang orang lain inginkan.
Terkadang , kita tidak sadar bahwa pekerjaan ataupun kegiatan lain yang kita jalani sekarang ini merupakan dream job bagi orang lain.
Terkadang kita tidak sadar bahwa fisik yang kita punya adalah idaman bagi orang lain.
Kita terlalu banyak menutup mata sebab terlalu sibuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain, yang bahkan hal yang kita punya dan perolah merupakan impan bagi banyak orang.
Oleh karena itu, jangan terlalu fokus terhadap pencapaian orang lain, yang jelas-jelas berbeda dengan diri kita sendiri.
Faktor pembedanya? Tentu banyak, termasuk kepribadian, pemikiran, juga kapasitas effort yang dilakukan.
Adakah cara mudah untuk mengatasi insecure? Berikut cara simple mengatasi insecure :
1. Tingkatkan rasa percaya diri
Fokus terhadap kelebihan dan keunikan yang kamu punya. Mungkin dengan itu, akan lebih mudah menemukan ketertarikanmu dalam suatu bidang. Ketertarikan ini bisa kamu coba dan latih dengan baik, sehingga kamu lebih mudah menguasai kemampuan itu. Hal ini akan membuat kamu lebih percaya diri, karena merasakan diri kamu mempunyai value yang bisa kamu kembangkan.
2. Pilih lingkungan dan suasana yang positif
Mencoba mencari lingkungan yang positif dan mendukung. Seperti saat mengapresiasi apapun pilihan yang kamu ambil, memberikan saran dan masukan ketika kamu butuh, dari pada di satu lingkungan dengan orang-orang yang bikin kamu merasa kurang dihargai. Sebab, memilih lingkungan itu penting, karena dapat membentuk karakter seseorang.
3. Rehat sejenak dari sosial media
Jika dengan melihat pencapaian orang lewat sosial media dapat membuatmu cemas, lebih baik kamu mengurangi penggunaannya atau matikan HPmu. Karena, bisa saja kamu tiba-tiba terguncang dan mulai membandingkan. Hal ini bukan berarti seterusnya tidak membuka sosial media. Terkadang, kita perlu istirahat demi belajar memaknai arti hidup sesungguhnya.
Nah, seperti yang sudah saya jelaskan bahwa insecure sendiri merupakan hal yang wajar bagi diri seseorang, karena setiap orang pernah merasakan ketidakpercayaan diri.
Tapi, jika insecure kamu ternyata sudah membuatmu merasa tidak nyaman dan mengganggu keseharian serta produktivitas kamu, saya sarankan untuk konsultasi ke orang profesional secara langsung.
Akhir kata untuk membantu kamu mengenali insecure
Penulis: Kiki Zulaikha
Referensi :
•) Florencia, G. (2020). "Ini yang Akan Terjadi Ketika Merasa Insecure" diakses pada 9 Juni 2022, dari https://www.halodoc.com/ini-yang-akan-terjadi-ketika-merasa-
insecure
•) Greenberg, M. (2015). "The 3 Most Common Causes of Insecurity and How to Beat
Them" diakses pada 10 Juni 2022,
dari https://www.psychologytoday.com/intl/blog/the-mindful-self-
express/201512/the-3-most-common-causes-insecurity-and-how-beat-them
•) Maslow, A. H. (1942). The Dynamics of Psychological Security-Insecurity. Journal
of Personality 10 (4), 331–344. doi:10.1111/j.1467
Mengenal Kepribadian Ekstrovert
Halo Sabahat DuPi di mana pun berada, apa kabar? Kembali lagi dengan Dunia psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara. Minggu lalu...
-
Apakah Self-Talk Berbahaya? Halo sobat DuPi! Bagaimana kabarnya? Semoga dalam keadaan yang baik serta sehat selalu ya. Kembali lagi dengan ...
-
Art Therapy Dapat Mengurangi Stress? Halo sobat DuPi! Bagaimana kabarnya? Semoga dalam keadaan yang baik serta sehat selalu ya. Baik, d...
-
Halo sahabat Dupi, apa kabar? Ketemu lagi dengan Dunia Psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara. Sahabat DuPi pernah mendengar ...