Halo sahabat Dupi, apa kabar? Ketemu lagi dengan Dunia Psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara.
Sahabat DuPi pernah mendengar istilah hypophrenia yang sering disebut dalam konten atau artikel? Benarkah kondisi ini bisa membuat seseorang sedih tanpa sebab dan alasan yang jelas?
Jadi sahabat DuPi, banyak orang yang salah kaprah dan menganggap bahwa hypophrenia adalah sebuah terminologi untuk menjelaskan gangguan mental yang berkaitan dengan fungsi emosional.
Lebih jauh lagi, hypophrenia disalahartikan sebagai salah satu penyebab mengapa seseorang menangis tanpa alasan. Penjelasan ini kurang tepat, ya guys! karena hypophrenia sebenarnya hanyalah 'nama beken' dari keterbelakangan mental.
Kamus psikologi referensi Oxford mendefinisikan hypophrenia adalah keterbelakangan mental atau disabilitas intelektual. Orang dengan keterbelakangan mental memiliki kesulitan dalam fungsi intelektual dan fungsi adaptifnya, yang meliputi kehidupan sosial dan keterampilan praktis (IQ). Namun, definisi tersebut tidak menggambarkan secara langsung gejala yang dialami oleh penderita hypophrenia.
Diambil dari chanel youtube dr. Jiemi Ardian, SpKJ menjelaskan bahwa perlu diketahui, ketika seorang psikiater atau seorang psikolog dalam mendiagnosis gangguan kejiwaan itu ada caranya, ada panduannya. Termasuk ada juga prosedur diagnosisnya. Jadi kita tidak bisa atau langsung simpulkan kalau mengetahui seseorang menangis tanpa sebab maka dikatakan hypophrenia. Tidak boleh ya guys.
Hal yang seperti itu tidak bisa. Perlu ada kriteria yang terukur, di mana jelas dan bisa diobservasi yang kalau orang-orang melihat observasinya juga sama.
Adapun dalam mendiagnosis, seorang psikiatri atau psikolog memiliki kitab pedoman mereka sendiri dan yang paling sering digunakan adalah Diagnostic Enstatistical Manual-Five (DSM-V). Buku ini adalah buku panduan diagnosisnya Psikolog dan Psikiater. Jadi, kalau diagnosisnya ada di dalam buku tersebut, berarti ada dan kalau tidak ada di situ maka kita tidak bisa mengatakan bahwa itu adalah sebuah gangguan kejiwaan karena tidak masuk dalam kategori gangguan kejiwaan dan ada di dalam kitabnya gangguan jiwa. Begitupun di ICD-10 milik WHO, tidak ada penyakit yang bernama hypophrenia.
Menurut Kamus psikologi referensi Oxford, hypophrenia adalah sinonim dari retardasi mental. Kalau melihat dari terjemahan bahasa maka bisa diketahui bahwa kata "hypo" itu berarti "di bawah" dan "phrenia" bermakna "pikiran atau jiwa". Jadi, hypophrenia bahasa liniernya adalah seakan-akan retardasi mental atau bahasa terbarunya adalah disabilitas intelektual.
Dalam penjelasannya dr Jiemi memberi sebuah pelajaran, bahwa kita, sebagian orang Indonesia mungkin kurang menangkap maksud aslinya. Bahwa hypophrenia ini adalah sinonim dari disabilitas mental, tidak ada hubungan dengan rasa sedih yang tanpa sebab.
Dan yang menjadi menarik bahwasanya seakan-akan manusia itu membutuhkan label untuk mengenal dirinya. Seperti halnya contoh, kita melabeli diri kita sebagai introvert atau ekstrovert, sanguin atau melankolis, atau bahkan ada yang melabeli bertameng pada zodiak. Seakan-akan kita memang membutuhkan sebuah label yang menjelaskan mengenai siapa saya? seperti apa saya? dan lebih jelasnya seperti kita harus mengelompokkan diri sendiri masuk ke kelompok yang mana.
Karena hal tersebut juga maka bisa saja, munculnya istilah "hypophrenia" ini adalah bentuk label yang dipakai untuk seakan menjelaskan kesedihan yang tidak jelas sumbernya. Lalu dilemparkan pada penjelasan pada trauma di masa lalu dan lain sebagainya.
Memang benar bahwa trauma di masa lalu memang dapat membuat perubahan emosi di masa kini, tetapi kita tidak bisa menggunakan istilah baru yang tidak jelas sudut pandangnya atau alat ukurnya, atau kriteria penggunaannya.
Dalam hal ini adalah kriteria diagnosis. Ketika seseorang menyebutkan mengenai kriteria diagnosis, maka harus ada panduannya tidak semata-mata hanya berbekal search mbah google dan langsung menganggap itu benar.
Sekalipun kamu rasa kalimat itu saya banget, kamu tidak butuh kriteria diagnosis untuk mengetahui bahwa rasa sakitmu itu valid.
Artinya : kamu tidak perlu mengubah nama sedih, nama terpuruk, nama kecewa, nama menangis menjadi hypophrenia. Kamu tidak butuh itu.
Menggunakan bahasa yang sederhana itu akan jauh lebih mudah untuk dimengerti daripada seperti, "Eh, aku kena hypophrenia nih."
Itu tidak mudah dimengerti. Berceritalah, berkisahlah dengan menggunakan bahasa yang sederhana sehingga orang lain bisa memahami dan kita enggak butuh kok label-label seperti itu.
Oleh karena itu, yuk sahabat DuPi, mari lepaskan label hypophrenia, karena istilah itu adalah sinonim dari disabilitas mental bukan karena kita yang sering sedih atau menangis karena sebab yang tidak jelas.
Apabila sahabat DuPi mengalami rasa sedih, yang harus sahabat DuPi lakukan adalah belajar mengenali diri sendiri dulu, bukan sibuk melabeli diri dengan istilah-istilah. Semoga bermanfaat.
Salam penuh cinta, Dunia Psikologi
Penulis : Ayasa Coz
Sumber : https://youtu.be/t55ymiXW4ws
Tidak ada komentar:
Posting Komentar