Jumat, Oktober 29, 2021
17 Tahun, Jadi Apakah Aku?
Minggu, Oktober 24, 2021
Mengenal Jurusan Psikologi Lebih Dekat
Hai, hai, halo ... para sobat DuPi di mana pun kalian berada, semoga sehat selalu ya ...
Ketemu lagi dengan Dunia Psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara.
Wah, sudah hari minggu lagi nih sob, kalian punya rencana apa nih untuk mengisi ahir pekan?
Aku kasih info ya, minggu ini merupakan minggu spesial lho ...
Loh, kok bisa?
Iya, hari ini merupakan Hari Dokter Nasional
Hari Dokter Nasional setiap tahunnya diperingati pada tanggal 24 Oktober oleh
para dokter di seluruh Indonesia. Hari Dokter Nasional juga identik dengan hari
jadi Ikatan Dokter Indonesia (IDI).
Kalian pasti mengerti jika peran dokter sangat penting, terlebih di masa- masa pandemi seperti ini. Dokter dan para tenaga medis lain seperti perawat dan petugas-petugas kesehatan lainnya patut mendapatkan gelar pahlawan dalam masa pandemi corona saat ini. Dokter beserta para petugas kesehatan telah bekerja dalam senyap dan sukarela, mempertaruhkan nyawa demi keselamatan orang lain.
Apakah dari kalian ada yang bermimpi jadi seorang dokter? atau ragu untuk menjadi dokter?
Kali ini aku bakal mengulas tentang salah satu jurusan di bidang kedokteran, yakni psikologi. Yuk simak ulasannya!
Apa Itu Jurusan Psikologi?
Jurusan Psikologi adalah salah satu bidang keilmuan yang mempelajari tentang manusia. Manusia yang dimaksud di sini tak sebatas pada perilakunya saja, melainkan mempelajari jiwa yang mempengaruhi tindakan tersebut. Misalnya pada konteks sosial, seperti mempelajari bagaimana manusia berinteraksi dengan lingkungannya, atau dalam konteks industri mempelajari bagaimana seseorang berperilaku terkait dengan posisinya di sebuah perusahaan.
🗣Pembelajarannya Seperti Apa, Kak?
Jadi, kalian akan diajak untuk meneliti alur pemikiran seseorang dan mencari tahu alasan yang ada di balik perilakunya.
Artinya, mahasiswa akan belajar tentang "manusia" sebagai individu, dengan memperhatikan setiap latar belakang yang mengikutinya.
Seperti yang kita ketahui bahwa manusia adalah makhluk yang unik, bahkan ketika diberi stimulus yang sama pun responnya bisa berbeda tergantung pada pengetahuan, pengalaman, perasaan, harapan, dan banyak faktor penentu lainnya.
🗣Apa Saja yang Dipelajari?
Banyak banget sobat...
Rentang Perkembangan Manusia, Biopsikologi, Teori-teori Kepribadian, Psikologi Sosial, Psikologi Pendidikan, Psikologi Komunikasi, Asesmen Dasar, Teori dan Aplikasi Pengukuran Psikologi, Kesehatan Mental, Psikologi Industri, Intervensi Psikologi, Psikologi Pendidikan ARBK, Gangguan Mental, Psikologi Organisasi, Integrasi Psikologi, Psikologi Faal, Psikologi Perkembangan, Statistika, Psikometri, Psikodiagnostik, Kode Etik Psikologi, Psikologi Konseling, Patologi & Rehabilitasi Sosial, Psikologi Lintas Budaya, Psikologi Lingkungan, Masalah-masalah Psikologis Remaja, Psikogeriatri, Psikologi Perkembangan Anak Usia Dini, Psikogerontologi, Andragogi, Pengelolaan Sumber Daya Manusia, Psikologi sekolah, Bimbingan dan Konseling
Nah, di jurusan psikologi juga ada peminatannya lho, sob, seperti Psikologi Klinis, Psikologi Pendidikan, Psikologi Sosial, Psikologi Industri dan Organisasi, serta Psikologi Perkembangan.
Jadi, kamu akan mempelajarinya tergantung dengan peminatan yang kamu ambil.
🗣Kalau Lulusan Psikologi, Apa Cuma bisa Jadi Psikiater atau Bidang Konseling Psikolog saja?
It’ s big No,
Faktanya prospek kerja lulusan psikologi itu tidak hanya di bidang konseling. Ada banyak sekali peluang kerja yang menanti lulusan psikologi, karena psikologi merupakan salah satu prodi yang paling banyak dicari di dunia kerja.
Beberapa pilihan karier yang bisa kamu geluti setelah kuliah di jurusan ini adalah pekerjaan di bidang human resorces atau HRD, bidang pelatihan (learning & development), rekruiter, assesor, dosen, perawat kesehatan mental, tenaga pendidik atau konsultan karier.
🗣Kuntungan Apa Saja yang Didapatkan Jika Memilih Jurusan Psikologi?
▪︎ Lulusan Psikologi memiliki fungsi asesmen yang kuat, sehingga mampu memetakan personil berdasarkan potensi dan karakternya.
▪︎ Kamu bisa bergabung dengan consulting firm atau mendirikan perusahaan jasa konsultan psikologi, dengan begitu kamu akan menjadi HR consultant.
▪︎ Kalau kamu ingin jadi abdi negara bisa juga bergabung dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, dan banyak lembaga lainnya.
▪︎ Institusi pemerintah, BUMN, maupun perusahaan swasta membutuhkan lulusan Psikologi pada bagian personalia untuk membantu mengelola SDM
Gimana-gimana?
Keren nggak ... keren nggak?
Kerenlah, masa enggak!
Sahabat DuPi tertarik dengan jurusan psikologi? Jika tertarik tingkatkan prestasi dan rajin belajar ya.
Ada sedikit pesan buat para dokter dan tenaga medis di seluruh tanah air.
"Dirgahayu Dokter Indonesia, terima kasih atas pengabdianmu, demi sehatnya negeri ini, yang rela melindungi anak bangsa dengan sepenuh hati, yang rela berkorban demi menyelamatkan negeri. Jasamu 'kan kukenang sebagai pahlawan negeri pertiwi." ~R.H Salsabila
Oke sob, cukup sampai di sini pertemuan kita hari ini.
Salam penuh cinta, Dunia Psikologi.
R.H Salsabila, 24 Oktober 2021
Jumat, Oktober 15, 2021
Kenali Hewan Peliharaan: Hak, Psikologi dan Perilakunya
Rabu, Oktober 13, 2021
Jangan Khawatir, Itu Hanya Kecemasan
Halo sahabat DuPi, apa kabar? Ketemu lagi dengan Dunia Psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara.
"Ada orang-orang yang selalu mengatisipasi masalah, dan dengan cara ini mereka berusaha menikmati segala kesedihan yang tidak pernah benar-benar terjadi pada mereka."—Josh Billings
Seberapa seringkah kita tidak menikmati situasi-situasi malapetaka atau kesuraman❓
Penelitian menunjukkan bahwa :
▪︎ 40% dari kekhawatiran kita tidak akan pernah terjadi
▪︎ 30% terjadi
▪︎ 12% kekhawatiran tentang kesehatan tidak berdasar
▪︎ 10 % kekhawatiran tentang masalah-masalah yang tidak ada hubungannya dengan kehidupan.
Lihatlah, sahabat DuPi , 92% dari yang kita khawatirkan hanyalah—sebuah kecemasan.
Maka, apa yang akan kita lakukan dengan 8% sisanya❓
Sederhana: berhentilah khawatir. Cegahlah kekhawatiran dengan menganggapnya sebagai kenyataan. Berhentilah merasa cemas dari pikiran yang mendominasi.
Ada sebuah cerita dari seorang istri yang dulunya selalu merasa cemas. Karena selalu takut rumahnya akan dirampok, dia menyuruh suaminya turun ke bawah setiap malam hanya untuk mengecek apakah ada perampok yang masuk ke dalam rumahnya.
Setiap malam, selama 30 tahun, suaminya patuh turun ke lantai bawah untuk memastikan kalau rumah mereka aman. Karena memang sudah takdirnya, suatu malam seorang penyusup pun muncul di rumah mereka.
Sebaliknya, bukannya terkejut melihatnya, sang suami malah berkata, "Tuan, aku memiliki dua permintaan. Pertama, ambil apa yang kau butuhkan, dan kedua, aku akan mengenalkanmu pada istriku karena dia telah menunggu selama 30 tahun untuk bertemu denganmu."
Seorang penulis dari Inggris William Ralph Inge menyatakan, "Kecemasan adalah bunga kesulitan yang terbayarkan sebelum jatuh tempo."
Ramalan-ramalan yang belum tentu terjadi adalah hasil dari kecemasan yang berlebihan. Kita mengubah kecemasan menjadi ramalan jika kita memanjakan diri di dalamnya. Kita bisa mencegah terwujudnya ramalan semacam itu daripada tenggelam dalam ketidakberdayaan.
Kecemasan di definiskan sebagai kesulitan secara mental atau agitasi yang dihasilkan dari keprihatinan biasa pada sesuatu yang akan terjadi atau diantisipasi. Catatlah, kata terakhir adalah "diantisipasi". Maka, berhentilah mengantisipasi!
"Dunia kecemasan" merupakan wilayah kekuasaan virtual; hiduplah dalam kenyataan saat ini.
Salam penuh cinta, Dunia Psikologi
Penulis : Ayasa Coz
Sumber :
- Ong, Johnny (2013) Don't Live Your Life in One Day.
Senin, Oktober 11, 2021
PEDIOPHOBIA, Kenali Hubungan Psikologi Manusia dengan Boneka
Hai para sobat DuPi di mana pun kalian berada, semoga sehat selalu ya ...
Ketemu lagi dengan Dunia Psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara.
Jadi hari ini kita akan membahas tentang hubungan manusia dan boneka.
Boneka sering dijadikan sebagai mainan kesayangan oleh anak-anak. Bentuk yang lucu dan menggemaskan serta warnanya yang beragam dan menarik, menjadikan benda satu ini banyak disukai banyak orang namun, ada juga yang takut dengan benda ini. Untuk lebihnya yuk simak penjelasan berikut!
Pediophobia atau yang sering dikenal dengan fobia terhadap boneka. Hal ini termasuk dalam ketakutan jenis automatonofobia atau ketakutan terhadap figur yang mirip manusia. Salah satu alasan seseorang takut dengan boneka mungkin karena banyak bermunculan film-film horor yang bertema boneka, contohnya seperti boneka yang ada pada serial drama Squid Game itu, sob.
Sebenarnya, rasa takut yang ditimbulkan dari efek film mungkin tidak seberapa. Namun pada beberapa orang, ketakutan terhadap boneka ini bisa sangat tidak rasional. Mereka bisa menganggap bahwa boneka benar-benar mampu melukai orang tersebut. Selain dari menonton film, fobia ini juga dapat dipicu oleh peristiwa traumatis, sehingga orang tersebut takut dengan boneka. Bayangan menyeramkan mengenai boneka yang tertanam sejak kecil juga bisa mengakibatkan orang tersebut mengalami pediophobia dikemudian hari. Biasanya pediophobia lebih cenderung dialami oleh wanita dibandingkan pria.
Lalu seperti apa gejala yang ditimbulkan?
Orang yang mengalami pediophobia dia akan merasa takut yang intens, kesulitan bernapas. nyeri dada atau sesak napas, detak jantung cepat, berkeringat, gemetar, serangan panik, seperti ingin mencoba melarikan diri, mual, pusing, menangis bersembunyi di belakang orang lain, atau mengamuk saat melihat atau sekedar membayangkan boneka.
Bagiamana cara mengatasinya?
Cara untuk mengatasi pediophobia yakni dengan melakukan
1. Terapi
Ada beberapa terapi yang dapat dilakukan, antara lain:
- Terapi Pajanan
- Terapi Keluarga
- Terapi Virtual
- Terapi Perilaku Kognitif
- Hipnosis
2. Minum obat-obatan
Obat-obatan yang dikonsumsi tentunya obat yang disarankan oleh dokter.
Buat beberapa orang, takut boneka dianggap sebagai hal yang lucu, aneh, dan bahkan bisa jadi bahan bercandaan. Namun percayalah, menjadikan fobia spesifik sebagai bahan olok-olokan
bukanlah hal yang baik. Itu sungguh menyiksa penderitanya.
Sobat DuPi, setiap manusia memiliki rasa takutnya masing-masing, juga kekurangannya tersendiri. Jadi marilah kita saling menghargai perbedaan yang ada dan saling menjaga sesama manusia.
Sampai Jumpa,
Salam penuh cinta, Dunia Psikologi.
Jumat, Oktober 08, 2021
HYPOPHRENIA, Bukanlah Kondisi Sedih Tanpa Alasan yang Jelas
Halo sahabat Dupi, apa kabar? Ketemu lagi dengan Dunia Psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara.
Sahabat DuPi pernah mendengar istilah hypophrenia yang sering disebut dalam konten atau artikel? Benarkah kondisi ini bisa membuat seseorang sedih tanpa sebab dan alasan yang jelas?
Jadi sahabat DuPi, banyak orang yang salah kaprah dan menganggap bahwa hypophrenia adalah sebuah terminologi untuk menjelaskan gangguan mental yang berkaitan dengan fungsi emosional.
Lebih jauh lagi, hypophrenia disalahartikan sebagai salah satu penyebab mengapa seseorang menangis tanpa alasan. Penjelasan ini kurang tepat, ya guys! karena hypophrenia sebenarnya hanyalah 'nama beken' dari keterbelakangan mental.
Kamus psikologi referensi Oxford mendefinisikan hypophrenia adalah keterbelakangan mental atau disabilitas intelektual. Orang dengan keterbelakangan mental memiliki kesulitan dalam fungsi intelektual dan fungsi adaptifnya, yang meliputi kehidupan sosial dan keterampilan praktis (IQ). Namun, definisi tersebut tidak menggambarkan secara langsung gejala yang dialami oleh penderita hypophrenia.
Diambil dari chanel youtube dr. Jiemi Ardian, SpKJ menjelaskan bahwa perlu diketahui, ketika seorang psikiater atau seorang psikolog dalam mendiagnosis gangguan kejiwaan itu ada caranya, ada panduannya. Termasuk ada juga prosedur diagnosisnya. Jadi kita tidak bisa atau langsung simpulkan kalau mengetahui seseorang menangis tanpa sebab maka dikatakan hypophrenia. Tidak boleh ya guys.
Hal yang seperti itu tidak bisa. Perlu ada kriteria yang terukur, di mana jelas dan bisa diobservasi yang kalau orang-orang melihat observasinya juga sama.
Adapun dalam mendiagnosis, seorang psikiatri atau psikolog memiliki kitab pedoman mereka sendiri dan yang paling sering digunakan adalah Diagnostic Enstatistical Manual-Five (DSM-V). Buku ini adalah buku panduan diagnosisnya Psikolog dan Psikiater. Jadi, kalau diagnosisnya ada di dalam buku tersebut, berarti ada dan kalau tidak ada di situ maka kita tidak bisa mengatakan bahwa itu adalah sebuah gangguan kejiwaan karena tidak masuk dalam kategori gangguan kejiwaan dan ada di dalam kitabnya gangguan jiwa. Begitupun di ICD-10 milik WHO, tidak ada penyakit yang bernama hypophrenia.
Menurut Kamus psikologi referensi Oxford, hypophrenia adalah sinonim dari retardasi mental. Kalau melihat dari terjemahan bahasa maka bisa diketahui bahwa kata "hypo" itu berarti "di bawah" dan "phrenia" bermakna "pikiran atau jiwa". Jadi, hypophrenia bahasa liniernya adalah seakan-akan retardasi mental atau bahasa terbarunya adalah disabilitas intelektual.
Dalam penjelasannya dr Jiemi memberi sebuah pelajaran, bahwa kita, sebagian orang Indonesia mungkin kurang menangkap maksud aslinya. Bahwa hypophrenia ini adalah sinonim dari disabilitas mental, tidak ada hubungan dengan rasa sedih yang tanpa sebab.
Dan yang menjadi menarik bahwasanya seakan-akan manusia itu membutuhkan label untuk mengenal dirinya. Seperti halnya contoh, kita melabeli diri kita sebagai introvert atau ekstrovert, sanguin atau melankolis, atau bahkan ada yang melabeli bertameng pada zodiak. Seakan-akan kita memang membutuhkan sebuah label yang menjelaskan mengenai siapa saya? seperti apa saya? dan lebih jelasnya seperti kita harus mengelompokkan diri sendiri masuk ke kelompok yang mana.
Karena hal tersebut juga maka bisa saja, munculnya istilah "hypophrenia" ini adalah bentuk label yang dipakai untuk seakan menjelaskan kesedihan yang tidak jelas sumbernya. Lalu dilemparkan pada penjelasan pada trauma di masa lalu dan lain sebagainya.
Memang benar bahwa trauma di masa lalu memang dapat membuat perubahan emosi di masa kini, tetapi kita tidak bisa menggunakan istilah baru yang tidak jelas sudut pandangnya atau alat ukurnya, atau kriteria penggunaannya.
Dalam hal ini adalah kriteria diagnosis. Ketika seseorang menyebutkan mengenai kriteria diagnosis, maka harus ada panduannya tidak semata-mata hanya berbekal search mbah google dan langsung menganggap itu benar.
Sekalipun kamu rasa kalimat itu saya banget, kamu tidak butuh kriteria diagnosis untuk mengetahui bahwa rasa sakitmu itu valid.
Artinya : kamu tidak perlu mengubah nama sedih, nama terpuruk, nama kecewa, nama menangis menjadi hypophrenia. Kamu tidak butuh itu.
Menggunakan bahasa yang sederhana itu akan jauh lebih mudah untuk dimengerti daripada seperti, "Eh, aku kena hypophrenia nih."
Itu tidak mudah dimengerti. Berceritalah, berkisahlah dengan menggunakan bahasa yang sederhana sehingga orang lain bisa memahami dan kita enggak butuh kok label-label seperti itu.
Oleh karena itu, yuk sahabat DuPi, mari lepaskan label hypophrenia, karena istilah itu adalah sinonim dari disabilitas mental bukan karena kita yang sering sedih atau menangis karena sebab yang tidak jelas.
Apabila sahabat DuPi mengalami rasa sedih, yang harus sahabat DuPi lakukan adalah belajar mengenali diri sendiri dulu, bukan sibuk melabeli diri dengan istilah-istilah. Semoga bermanfaat.
Salam penuh cinta, Dunia Psikologi
Penulis : Ayasa Coz
Sumber : https://youtu.be/t55ymiXW4ws
Selasa, Oktober 05, 2021
Peran Guru Terhadap Psikologi Siswa
Halo sahabat DuPi yang dirahmati Allah, di mana pun berada ... ketemu lagi dengan Dunia Psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara.
Apakah sahabat DuPi tahu kalau tanggal 5 Oktober diperingati sebagai Hari Guru Sedunia? Dah pada tahu ya, untuk itu hari ini DuPi akan menuliskan peran guru terhadap psikologi siswa.
Sahabat DuPi pasti paham bahwa profesi guru dituntut untuk dapat berbuat banyak hal berkaitan dengan pendidikan. Selain mengajar, guru juga melakukan pendidikan, pembinaan terhadap anak didiknya. Maka tidak salah jika guru berperan sebagai psikolog bagi anak didiknya.
Psikologi dibutuhkan oleh manusia dalam setiap kehidupannya agar selalu dapat berhubungan dan bersama dengan yang lain.
Psikologi secara umum dapat didefinisikan sebagai disiplin ilmu yang berfokus pada perilaku dan berbagai proses mental serta bagaimana perilaku dan berbagai proses mental ini dipengaruhi oleh kondisi mental organisme dan lingkungan eksternal. Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang apa itu psikologi, maka perlu memahami lebih jauh mengenai metodenya, hasil-hasil temuannya, dan berbagai cara yang biasa ditempuh untuk menginterpretasikan informasinya ( Carole Wade, 2007).
Banyak manfaat didapat dari mempelajari psikologi dalam belajar, terutama bagi seorang guru, yang tugas utamanya adalah mengajar. Sangat penting memahami psikologi belajar dalam kegiatan pembelajaran. Proses belajar mengajar sangat syarat dengan muatan psikologis. Mengabaikan aspek–aspek psikologis dalam proses pembelajaran akan berakibat kegagalan, sehingga tujuan pembelajaran tidak tercapai.
Tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa antara proses perkembangan dengan proses belajar mengajar terdapat saling keterkaitan. Sehubungan dengan ini, setiap guru seyogyanya mampu memahami seluruh proses dan perkembangan peserta didiknya dengan baik.
Pengetahuan mengenai proses dan perkembangan dan segala aspeknya itu sangat bermanfaat, antara lain :
🧩 Guru dapat memberikan layanan, bantuan dan bimbingan yang tepat kepada siswanya dengan menggunakan pendekatan yang relevan sesuai tingkat perkembangannya.
🧩 Guru dapat mengantisipasi kemungkinan–kemungkinan timbulnya kesulitan belajar siswa tertentu.
🧩 Guru dapat mempertimbangkan waktu yang tepat dalam memulai aktifitas proses belajar mengajar bidang studi tertentu.
🧩 Guru dapat menemukan dan menetapkan tujuan–tujuan pengajaran sesuai dengan kemampuan psikologisnya.
Psikologi dalam belajar memiliki peranan penting dalam membantu mempersiapkan guru atau calon guru yang professional untuk mampu membantu memecahkan permasalahan siswa dalam belajar. Dengan memahami psikologi belajar, guru dapat memudahkan penerapan pengetahuan, pendekatan dan komunikasi yang baik kepada anak didik.
Dengan demikian seorang guru yang memahami bidang psikologi dapat membantu menciptakan suasana edukatif, efektif, efisien dan menyenangkan.
Guru bertanggung jawab untuk mengantarkan anak didik ke arah kedewasaan susila yang cakap dengan memberikan sejumlah ilmu pengetahuan dan membimbingnya. Sedangkan anak didik berusaha untuk mancapai tujuan itu dengan bantuan dan pembinaan dari guru.
Interaksi edukatif harus menggambarkan hubungan aktif dua arah dengan sejumlah pengetahuan sebagai mediumnya, sehingga interaksi itu merupakan hubungan yang bermakna dan kreatif.
Karena profesinya sebagai guru adalah berdasarkan panggilan jiwa, maka bila guru melihat anak didiknya senang berkelahi, meminum minuman keras, menghisap ganja, datang ke rumah-rumah bordil, dan sebagainya, guru merasa sakit hati. Siang atau malam selalu memikirkan bagaimana caranya agar anak didiknya itu dapat dicegah dari perbuatan yang kurang baik, asusila, dan amoral.
Guru seperti itulah yang diharapkan untuk mengabdikan diri di lembaga pendidikan. Bukan guru yang hanya menuangkan ilmu pengetahuan ke dalam otak anak didik. Sementara jiwa, dan wataknya tidak dibina.
Memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik adalah suatu perbuatan yang mudah, tetapi untuk membentuk jiwa dan watak anak didik itulah yang sukar, sebab anak didik yang dihadapi adalah makhluk hidup yang memiliki otak dan potensi yang perlu dipengaruhi dengan sejumlah norma hidup sesuai ideologi falsafah dan bahkan agama.
Menjadi tanggung jawab guru untuk memberikan sejumlah norma kepada anak didik agar tahu mana perbuatan yang susila dan asusila, mana perbuatan yang bermoral dan amoral. Semua norma itu tidak mesti harus guru berikan ketika di kelas, di luar kelas pun sebaiknya guru contohkan melalui sikap, tingkah laku, dan perbuatan. Pendidikan dilakukan tidak semata-mata dengan perkataan, tetapi dengan sikap, tingkah laku, dan perbuatan.
Anak didik lebih banyak menilai apa yang guru tampilkan dalam pergaulan di sekolah dan di masyarakat dari pada apa yang guru katakan, tetapi baik perkataan maupun apa yang guru tampilkan, keduanya menjadi penilaian anak didik. Jadi, apa yang guru katakan harus guru praktekkan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Wens Tanlain dan kawan-kawan (1989: 31) guru yang bertanggung jawab memiliki beberapa sifat, yakni:
▪︎ 1. Menerima dan mematuhi norma, nilai-nilai kemanusiaan
▪︎ 2. Memikul tugas mendidik dengan bebas, berani, gembira (tugas bukan menjadi beban baginya)
▪︎ 3. Sadar akan nilai-nilai yang berkaitan dengan perbuatannya serta akibat-akibat yang timbul (kata hati)
▪︎ 4. Menghargai orang lain, termasuk anak didik
▪︎ 5. Bijaksana dan hati-hati (tidak nekat, tidak sembrono, tidak singkat akal)
▪︎ 6. Takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Untuk itu guru harus bertanggung jawab atas segala sikap, tingkah laku, dan perbuatannya dalam rangka membina jiwa dan watak anak didik. Dengan demikian, tanggung jawab guru adalah untuk membentuk anak didik agar menjadi orang bersusila yang cakap, berguna bagi agama, nusa, dan bangsa di masa yang akan datang. Semoga bermanfaat.
Penulis : Ayasa Coz
Sumber :
- Fahyuni, Eni Fariyatul (2016) Kunci Sukses Guru dan Peserta didik dalam Interaksi Edukatif
Mengenal Kepribadian Ekstrovert
Halo Sabahat DuPi di mana pun berada, apa kabar? Kembali lagi dengan Dunia psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara. Minggu lalu...
-
Apakah Self-Talk Berbahaya? Halo sobat DuPi! Bagaimana kabarnya? Semoga dalam keadaan yang baik serta sehat selalu ya. Kembali lagi dengan ...
-
Art Therapy Dapat Mengurangi Stress? Halo sobat DuPi! Bagaimana kabarnya? Semoga dalam keadaan yang baik serta sehat selalu ya. Baik, d...
-
Halo sahabat Dupi, apa kabar? Ketemu lagi dengan Dunia Psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara. Sahabat DuPi pernah mendengar ...