Jumat, Oktober 29, 2021

17 Tahun, Jadi Apakah Aku?

Halo sahabat DuPi, apa kabar ?

Kembali lagi dengan Dunia Psikologi, satu dua telinga untuk berjuta-juta suara.

Sahabat DuPi, apa yang pertama kali sahabat DuPi pikirkan, saat menginjak usia 17 tahun?

Masa depan? Doi? Kerja? Seberapa banyak masalah yang akan dihadapi? Atau malah tersadar bahwa tidak akan dapat jatah jajan lagi?

  ☆Perkembangan pemuda usia 17 & 18 tahun.☆ 🎭)

 1.🎭 Perkembangan Kognitif

1️⃣7️⃣ Anak dengan usia 17 tahun biasanya mencoba berpikir 'dewasa' atau kritis. Ia mulai memikirkan masa depan yang sifatnya lebih realistis. Mencoba dan ingin mandiri, serta berusaha untuk tetap kuat terhadap tekanan dari orang luar. 

Sekolah, organisasi, ataupun kegiatan sosial yang ia ikuti adalah sarana yang baik untuk perkembangannya. Hal ini bisa memberikan pelajaran pada anak, bagaiaman menyerap informasi, menyikapi sudut pandang, melatih berbicara di depan umum, sehingga mempengaruhi pola pikirnya yang semakin dewasa.

1️⃣8️⃣ Pola pikirnya sudah seperti orang dewasa walau otak masih terus berkembang. Ada kalanya sudah mampu memahami konflik. Dan sudah memikirkan masa depannya nanti. Ia dapat melihat masalah dengan beberapa kemungkinan, mampu membedakan benar salah, mampu mempertimbangkan pilihan, meningkatkan simpati dan empati, serta masa berpikir idealis.

2.🎭 Perkembangan Psikologis

1️⃣7️⃣ Sahabat DuPi yang berbahagia, secara psikologis usia 17 tahun, remaja ini mulai mencari jati diri. Semakin jauh memikirkan kehidupannya kelak.

Usia ini sudah merasa dirinya mandiri namun emosinya masih naik turun. Ia akan belajar memaafkan apabila ada masalah dengan teman dekat. Selain itu juga merasa nyaman saat mempunyai hubungan dengan lawan jenis. Benih-benih cinta ini, kawan.

1️⃣8️⃣ Tidak semua remaja 18 tahun sudah mengetahui identitas diri dan apa yang diinginkan. Lingkungan juga bisa mempengaruhi perkembangan psikologisnya. Ketika ia ada di lingkungan yang tepat, maka ia bisa membangun support system yang sejalan dengannya. Ia membutuhkan pendapat orang lain sebagai petunjuk. Hubungannya dengan lawan jenis semakin intim, serta membuka diri memperluas pertemanan.

3.🎭 Perkembangan emosional

1️⃣7️⃣ Perkembangan emosional pada  usia 17 tahun, tidak akan sama satu dengan lainnya. Apalagi saat menangani masalah. Tiap remaja berbeda-beda menanganinya. Ada yang sudah mampu menjalani segala sesuatu dengan mandiri, ada juga yang masih khawatir dan belum mampu. Hal ini karena dia tidak yakin dengan apa yang diinginkan.

1️⃣8️⃣ Secara umum, remaja  perempuan mempunyai sisi emosional yang lebih tinggi. Karenanya ia lebih sulit memutuskan apa yang diinginkan. Pada perkembangannya, ia merasakan ada sedikit kebebasan dalam mendalami dunia barunya. Ada kebahagiaan dan ketakutan sehingga masih membutuhkan orang tua agar tidak keluar dati jalur.

4. 🎭 Perkembangan sosial

1️⃣7️⃣ Kedekatan dengan sahabat biasanya sudah dimulai sejak usia 12 tahun. Walau sesekali ada perdebatan, hal ini wajar. Karena sifat masing-masing anak berbeda. Berbeda hubungan dengan keluarganya, meluangkan waktu untuk keluarga. Di usia ini, akan lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman/pacar. Anak usia 17 tahun harus bisa bertanggung jawab dan memahami batasan yang boleh dan tidak boleh dilakukan dengan lawan jenis.

1️⃣8️⃣ Hal wajar jika orang tua khawatir ketika anak berhubungan dengan lawan jenis. Sehingga anak seusianya harus mengerti dan memahami pendidikan seks sedini mungkin. Beri batasan yang harus dijaga. Jija hubungannya dengan teman, remaja 18 tahun sudah stabil. Ia akan lebih menyeleksi di lingkungan baru. 

5. 🎭 Perkembangan bahasa

1️⃣7️⃣ Kebanyakan remaja 17 tahun akan berbicara seperti orang dewasa. Apalagi mereka memiliki istilah-istilah baru. Dalam perkembangan di usia 17 tahun, cari pemahaman agar bisa mengendalikan perkataan kepada orang yang lebih tua. Tontonan informatif bisa menambah pembendaharaan kata. Selain itu, cobalah untuk mempelajari bahasa asing.

1️⃣8️⃣ Tidak berbeda jauh dengan usia 17 tahun.  Remaja ini sudah bisa menyesuaikan diri dalan konteks berbicara dengan orang lain.

[Jika Aku, Dewasa Nanti ... ]

Sobat DuPi, masih ingatkah kalian waktu kecil dulu. Banyak diantara kita yang mendambakan kedewasaan. Menanti datangnya masa itu dan sampai akhirnya tibalah masa itu, kita malah ingin kembali pada masa anak-anak. 

Lucu Bukan? Mari, sesekali kita tertawakan diri sendiri. Agar segera sadar!

Sahabat DuPi semua, seperti yang sudah aku sampaikan. Kita akan membahas mengenai perkembangan remaja dan dewasa. Langsung kita bahas sisanya saja yups!

 ☆Perkembangan pemuda usia 20 tahun-an.☆ 🎭

 1.🎭 Adolensaensi (17-19/21 tahun)

Pada masa ini, remaja mulai menemukan nilai-nilai hidup baru, sehingga semakin jelaslah pemahaman tentang diri sendiri. Ia lebih kritis terhadap objek di luar dirinya. Dan mampu mengambil sintese antara dunia luar dan internal.

Secara obyektif dan aktif, ia melibatkan diri dengan dunia luar sambil mencoba 'mendidik' dirinya sendiri. Di usia ini yang sangat dibutuhkan adalah pendidikan dari orang tua hang berkepribadian sederhana dan jujur, yang tidak banyak menuntut anak dan membiarkannya berkembang sesuai kodratnya. 

Narsitik pada adolensensi sifatnya seringkali 'banyak menuntut'. Ia sangat sensitif terhadap kekecewaan dan mudah mengunggah harga diri berlebihan

Pengamatan intensif ke dalam diri sendiri juga menjadi ciri khas masa ini. Umumnya lebih lebih kuat dan lama berlangsung pada gadis dari pada laki-laki. Inilah yang menjadi sebab timbulnya dua ciri khas wanita, intuisi yang halus dan tajam.

2.🎭 Dewasa Awal

Merupakan peralihan dari masa remaja. Pada masa awal dewasa, identitas diri di dapat sedikit demi sedikit sesuai dengan jmur kronologis dan mental. Dengan bertambahnya umur berbagai masalah muncul. Dari segi emosional, pada masa ini adalah masa dimana motivasi meraih sesuatu sangat besar didukug oleh fisik yang prima. Sehingga ada steriotipe yang lebih mengutamakan kekuatan fisik daripada rasio.

Perkembangan sosial masa dewasa awal adalah puncak dari perkembangan sosial masa dewasa. Pada masa ini, penentuan relasi memegang peran sangat penting. Menurut Havighurst, tugas perkembangan dewasa awal adalah menikah atau membangun satu keluarga, mengelola rumah tangga, mendidik atau mengasuh anak, memikul tanggung jawab sebagai warg negara, membuat hubungan dengan suatu kelompok tertentu, dan melakukan suatu pekerjaan. Dewasa awal merupakan masa permulaan dimana seseorang mulai menjalin hubungan secara intim dengan lawan jenisnya.

Yups! Seperti itu kira-kira penjelasannya, Sobat. Bagaimana? So sudah pahamlah ya ... bagaimana perkembangan psikologis usia 17 dan 20 an. 

Sampai jumpa di lain waktu. 
Salam penuh cinta, Dunia Psikologi


Sumber
Hello sehat 
DosenPsikologi.com

Minggu, Oktober 24, 2021

Mengenal Jurusan Psikologi Lebih Dekat

Hai, hai, halo ... para sobat DuPi di mana pun kalian berada, semoga sehat selalu ya ... 

Ketemu lagi dengan Dunia Psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara. 


Wah, sudah hari minggu lagi nih sob, kalian punya rencana apa nih untuk mengisi ahir pekan?

Aku kasih info ya, minggu ini merupakan minggu spesial lho ...

Loh, kok bisa?

Iya, hari ini merupakan Hari Dokter Nasional


Hari Dokter Nasional setiap tahunnya diperingati pada tanggal 24 Oktober oleh para dokter di seluruh Indonesia. Hari Dokter Nasional juga identik dengan hari jadi Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Kalian pasti mengerti jika peran dokter sangat penting, terlebih di masa- masa pandemi seperti ini. Dokter dan para tenaga medis lain seperti perawat dan petugas-petugas kesehatan lainnya patut mendapatkan gelar pahlawan dalam masa pandemi corona saat ini. Dokter beserta para petugas kesehatan telah bekerja dalam senyap dan sukarela, mempertaruhkan nyawa demi keselamatan orang lain.

Apakah dari kalian ada yang bermimpi jadi seorang dokter? atau ragu untuk menjadi dokter?

Kali ini aku bakal mengulas tentang salah satu jurusan di bidang kedokteran, yakni psikologi. Yuk simak ulasannya!

 

Apa Itu Jurusan Psikologi?

Jurusan Psikologi adalah salah satu bidang keilmuan yang mempelajari tentang manusia. Manusia yang dimaksud di sini tak sebatas pada perilakunya saja, melainkan mempelajari jiwa yang mempengaruhi tindakan tersebut. Misalnya pada konteks sosial, seperti mempelajari bagaimana manusia berinteraksi dengan lingkungannya, atau dalam konteks industri mempelajari bagaimana seseorang berperilaku terkait dengan posisinya di sebuah perusahaan.

🗣Pembelajarannya Seperti Apa, Kak?

Jadi, kalian akan diajak untuk meneliti alur pemikiran seseorang dan mencari tahu alasan yang ada di balik perilakunya. 

Artinya, mahasiswa akan belajar tentang "manusia" sebagai individu, dengan memperhatikan setiap latar belakang yang mengikutinya.

Seperti yang kita ketahui bahwa manusia adalah makhluk yang unik, bahkan ketika diberi stimulus yang sama pun responnya bisa berbeda tergantung pada pengetahuan, pengalaman, perasaan, harapan, dan banyak faktor penentu lainnya.

🗣Apa Saja yang Dipelajari?

Banyak banget sobat...

Rentang Perkembangan Manusia, Biopsikologi, Teori-teori Kepribadian, Psikologi Sosial, Psikologi Pendidikan, Psikologi Komunikasi, Asesmen Dasar, Teori dan Aplikasi Pengukuran Psikologi, Kesehatan Mental, Psikologi Industri, Intervensi Psikologi, Psikologi Pendidikan ARBK, Gangguan Mental, Psikologi Organisasi, Integrasi Psikologi, Psikologi Faal, Psikologi Perkembangan, Statistika, Psikometri, Psikodiagnostik, Kode Etik Psikologi, Psikologi Konseling, Patologi & Rehabilitasi Sosial, Psikologi Lintas Budaya, Psikologi Lingkungan, Masalah-masalah Psikologis Remaja, Psikogeriatri, Psikologi Perkembangan Anak Usia Dini, Psikogerontologi, Andragogi, Pengelolaan Sumber Daya Manusia, Psikologi sekolah, Bimbingan dan Konseling

 

Nah, di jurusan psikologi juga ada peminatannya lho, sob, seperti Psikologi Klinis, Psikologi Pendidikan, Psikologi Sosial, Psikologi Industri dan Organisasi, serta Psikologi Perkembangan.

Jadi, kamu akan mempelajarinya tergantung dengan peminatan yang kamu ambil.

🗣Kalau Lulusan Psikologi, Apa Cuma bisa Jadi Psikiater atau Bidang Konseling Psikolog saja?

It’ s big No,

Faktanya prospek kerja lulusan psikologi itu tidak hanya di bidang konseling. Ada banyak sekali peluang kerja yang menanti lulusan psikologi, karena psikologi merupakan salah satu prodi yang paling banyak dicari di dunia kerja.

Beberapa pilihan karier yang bisa kamu geluti setelah kuliah di jurusan ini adalah pekerjaan di bidang human resorces atau HRD, bidang pelatihan (learning & development), rekruiter, assesor, dosen, perawat kesehatan mental, tenaga pendidik atau konsultan karier.

 

🗣Kuntungan Apa Saja yang Didapatkan Jika Memilih Jurusan Psikologi?

▪︎ Lulusan Psikologi memiliki fungsi asesmen yang kuat, sehingga mampu memetakan personil berdasarkan potensi dan karakternya.

▪︎ Kamu bisa bergabung dengan consulting firm atau mendirikan perusahaan jasa konsultan psikologi, dengan begitu kamu akan menjadi HR consultant.

▪︎ Kalau kamu ingin jadi abdi negara bisa juga bergabung dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, dan banyak lembaga lainnya.

▪︎ Institusi pemerintah, BUMN, maupun perusahaan swasta membutuhkan lulusan Psikologi pada bagian personalia untuk membantu mengelola SDM


Gimana-gimana? 

Keren nggak ... keren nggak? 

Kerenlah, masa enggak! 

Sahabat DuPi tertarik dengan jurusan psikologi? Jika tertarik tingkatkan prestasi dan rajin belajar ya.


Ada sedikit pesan buat para dokter dan tenaga medis di seluruh tanah air.

"Dirgahayu Dokter Indonesia, terima kasih atas pengabdianmu, demi sehatnya negeri ini, yang rela melindungi anak bangsa dengan sepenuh hati, yang rela berkorban demi menyelamatkan negeri. Jasamu 'kan kukenang sebagai pahlawan negeri pertiwi." ~R.H Salsabila

 

Oke sob, cukup sampai di sini pertemuan kita hari ini.

Salam penuh cinta, Dunia Psikologi.



 

 

 


R.H Salsabila, 24 Oktober 2021

 

 

 

 

Jumat, Oktober 15, 2021

Kenali Hewan Peliharaan: Hak, Psikologi dan Perilakunya

Hallo sahabat DuPi. Bagaimana kabarnya? Bahagia? Sedih? Kecewa? Bersemangat? Atau sedang menunggu dia yang tak kunjung memberi kepastian? 
Dari pada merenungi kesedihan mari berbincang sedikit mengenai hari ini. 

Tahukah kalian? Hari ini, bertepatan  dengan tanggal 15 Oktober merupakan hari hak asasi hewan lho!

Loh, memang hewan ada hak asasi juga ya?

Eitsh .... 
Jangan salah guys. Hewan juga punya hak asasi seperti kita. 

Mau tahu apa saja hak asasi yang dimiliki hewan. Mari simak bersama.

Hak Asasi Hewan :
     1. Bebas rasa haus dan lapar.
     2. Bebas dari rasa tidak nyaman.
     3. Bebas untuk berekspresi sesuai tingkah         laku alami mereka
     4. Bebas dari rasa takut dan tertekan
     5. Bebas dari sakit atau dilukai.

Bagaiamana jika ada yang melanggar hak asasi hewan? 

Tentu dikenakan KUHP pasal 302. Nah, buat teman-teman sahabat DuPi, jika kalian memiliki hewan peliharaan di rumah. Wajib diperlakukan dengan baik ya. Memberi makan, tempat tinggal yang nyaman dan layak, jangan lupa merawatnya dengan penuh kasih sayang.

Sahabat DuPi tahu tidak? Kalau hewan bisa juga mengalami masalah psikologis loh. Untuk sebagiannya mimin akan paparkan 5 masalah psikologis hewan.

Masalah psikologi pada hewan

• 1. Depresi
Gangguan depresi sangat lekat dengan primata dan tikus, kemungkinan besar karena mereka selalu dijadikan subjek percobaan ilmiah. Beberapa hewan di kebun binatang juga sering menunjukkan gejala depresi seperti lesu, perilaku kompulsif, gangguan pada nafsu makan, dan kecenderungan untuk melukai diri sendiri.

Dilansir Pet Health Center, tindakan pertama pada hewan peliharaan yang mengalami depresi adalah menghilangkan penyebab medis yang mendasarinya. Baik depresi maupun rasa sakit fisik dapat memicu kecemasan di dalam diri hewan peliharaan, yang membuat mereka menarik diri dari interaksi sosial dan menunjukkan perilaku aneh lainnya.
Para dokter hewan setuju kalau kemungkinan depresi pada kucing jauh lebih kecil daripada anjing. Bagi mereka, gangguan yang sering dialami kucing adalah kecemasan.

2. Kecemasan
Stres adalah reaksi normal yang dikeluarkan hewan ketika lingkungan di sekitarnya mulai tidak kondusif. Penyedot debu, orang asing, dan pemilik yang berisik dapat membuat hewan peliharaan stres. Namun, beberapa hewan peliharaan akan mengalami stres yang jauh lebih parah daripada hewan lainnya.
Jika seekor kucing merasa stres, mereka akan gemetar, bersembunyi, bersikap agresif, terus mengeong dengan keras, dan enggan masuk ke dalam kotak kotoran. Untuk anjing, ciri-cirinya nyaris serupa. 

3. Gangguan tidur
Baik kucing maupun anjing dapat menderita gangguan tidur yang berbeda-beda. Misalnya narkolepsi, yang dapat menyebabkan mereka tertidur lelap dalam waktu yang lama, sleep apnea yang dapat merusak kualitas tidur, atau gangguan perilaku REM (Rapid Eye Movement) yang dapat menyebabkan anjing menabrakan diri ke dinding saat sedang tertidur.

Beberapa pemilik kucing juga sering mendeskripsikan kucing mereka sebagai penderita insomnia, walau hal ini sering kali menjadi kesalahpahaman tentang siklus tidur kucing. Kucing sendiri adalah hewan krepuskular, artinya mereka aktif di antara waktu senja dan subuh.
Melatonin, akupunktur, dan obat-obatan herbal dapat membantu mengatasi insomnia pada hewan, walau terkadang beberapa dokter hewan juga meresepkan diet khusus yang mengandung asam lemak omega-3 dan antioksidan yang tinggi.

4. Gangguan makan
Sulit untuk mengetahui apakah hewan peliharaan kita menderita gangguan makan seperti yang kita alami atau tidak, karena sangat sulit untuk memastikan dorongan mental dan emosional di balik kebiasaan makan mereka. Beberapa hewan bisa sulit makan, walau kucing dan anjing bisa makan secara terus menerus jika kita membiarkannya.

Namun, pernahkah kalian melihat hewan liar yang mengalami obesitas? Menurut beberapa dokter hewan, mereka terus menerus makan karena minimnya aktivitas harian. Berbeda dengan hewan liar, mereka tidak harus berburu untuk mendapatkan makanan di rumah.
Jadi, beberapa dokter menyarankan untuk mengalihkan dorongan makan mereka ke beberapa jenis aktivitas seperti berjalan-jalan di taman atau bermain dengan bola.

5. Gangguan pica
Sebagian besar pemilik kucing dan anjing mungkin memiliki cerita lucu tentang bagaimana hewan kesayangan mereka mengunyah atau mencakar perabotan rumah. Namun, ada hal yang patut diwaspadai dari perilaku ini. Saat hewan peliharaan terus memakan sesuatu yang bukan makanan, itu adalah gangguan yang disebut pica.

Terlepas dari terminologinya, pica dapat berupa kecemasan biasa hingga gangguan yang dapat mengancam jiwa mereka. Jika disebabkan oleh kekurangan nutrisi atau masalah gigi, perawatannya cukup mudah. Namun, pica sering kali disebabkan oleh kebosanan atau kecemasan yang muncul karena berpisah dengan pemilik mereka.

Jika itu masalahnya, akan lebih sulit lagi untuk diobati. Namun terkadang, gangguan ini dapat ditangani dengan cara membuang atau menyembunyikan barang-barang yang biasa mereka gigit.

Itu hanya sebagiannya saja ya sahabat DuPi. Bagaimana keadaan peliharaan kalian? Pastikan mereka mendapat hak mereka ya. Kira-kira sahabat DuPi, penasaran tidak ya? Ilmu apa yang mempelajari psikologi hewan itu? Barangkali ada yang berminat. Saya kasih bocoran sedikit, namanya psikologi komparatif

Bukannya etologi, ya?

Bukan. Etologi itu cabang dari biologi sobat. Persamaannya, sama-sama mempelajari tingkah laku hewan. Perbedaanya, kalau etologi dikaji secara anatomi. Berbeda dengan psikologi komparatif, ia mengkaji menggunakan sudut pandang psikologi dari hewan.

Apa sih psikologi komperatif?

Psikologi komparatif adalah cabang psikologi yang berkaitan dengan studi perilaku hewan. Penelitian modern tentang perilaku hewan dimulai dengan karya Charles Darwin dan Georges Romanes dan bidang tersebut telah berkembang menjadi subjek multidisiplin. Ahli biologi, psikolog , antropolog, ahli ekologi, ahli genetika, dan banyak lainnya berkontribusi pada studi perilaku hewan.

Psikologi komparatif sering menggunakan metode komparatif untuk mempelajari perilaku hewan. Metode komparatif melibatkan membandingkan persamaan dan perbedaan di antara spesies untuk mendapatkan pemahaman tentang hubungan evolusi. Metode komparatif juga dapat digunakan untuk membandingkan spesies hewan modern dengan spesies purba.

Sejarah Singkat Psikologi Komparatif

Pierre Flourens, seorang mahasiswa Charles Darwin dan George Romanes, menjadi orang pertama yang menggunakan istilah ini dalam bukunya Comparative Psychology (Psychologie Comparée ), yang diterbitkan pada tahun 1864. Pada tahun 1882, Romanes menerbitkan bukunya Animal Intelligence di mana ia mengajukan sebuah sains. dan sistem membandingkan perilaku hewan dan manusia. Pemikir komparatif penting lainnya termasuk C. Lloyd Morgan dan Konrad Lorenz.
Perkembangan psikologi komparatif juga dipengaruhi oleh psikolog belajar termasuk Ivan Pavlov dan Edward Thorndike dan oleh behavioris termasuk John B.
Watson dan BF Skinner .

Psikologi komparatif juga terkenal digunakan untuk mempelajari proses perkembangan. Dalam percobaan pencetakan Konrad Lorenz yang terkenal, ia menemukan bahwa angsa dan itik memiliki masa kritis perkembangan di mana mereka harus melekat pada sosok orang tua, sebuah proses yang dikenal sebagai pencantuman. Lorenze bahkan menemukan bahwa dia bisa membuat burung-burung itu menempel pada dirinya sendiri. Jika hewan melewatkan kesempatan penting ini, mereka tidak akan mengembangkan keterikatan di kemudian hari.

Selama tahun 1950-an, psikolog Harry Harlowmelakukan serangkaian eksperimen yang mengganggu pada deprivasi ibu. Monyet rhesus bayi dipisahkan dari ibu mereka. Dalam beberapa variasi percobaan, monyet muda akan dipelihara dengan kawat "ibu." Seorang ibu akan ditutupi kain, sementara yang lain menyediakan makanan. Harlow menemukan bahwa monyet terutama akan mencari kenyamanan ibu kain versus makanan ibu kawat.

Dalam semua contoh eksperimennya, Harlow menemukan bahwa kekurangan ibu awal ini menyebabkan kerusakan emosional yang serius dan tidak dapat diubah.

Monyet yang dicabut ini tidak dapat berintegrasi secara sosial, tidak dapat membentuk ikatan, dan sangat terganggu secara emosional. Karya Harlow telah digunakan untuk menunjukkan bahwa anak-anak manusia juga memiliki jendela kritis untuk membentuk keterikatan. Ketika keterikatan ini tidak terbentuk selama tahun-tahun awal masa kanak-kanak, psikolog menyarankan, kerusakan emosional jangka panjang dapat terjadi.

Literatur yang menarik dalam psikologi komparatif

Ada sejumlah topik yang berbeda yang menarik minat para psikolog komparatif. Evolusi adalah salah satu subjek utama yang menarik, dan penelitian sering berfokus pada bagaimana proses evolusi telah berkontribusi pada pola perilaku tertentu.

Beberapa bidang lain yang menarik termasuk faktor keturunan (bagaimana genetik berkontribusi terhadap perilaku), adaptasi dan pembelajaran (bagaimana lingkungan berkontribusi terhadap perilaku), perkawinan (bagaimana spesies berbeda bereproduksi), menjadi orang tua (bagaimana perilaku orang tua berkontribusi terhadap perilaku keturunan), dan studi primata.

Psikolog komparatif terkadang berfokus pada perilaku individu spesies hewan tertentu termasuk topik seperti perawatan pribadi, bermain, bersarang, menimbun, makan, dan perilaku gerakan. Topik lain yang mungkin dipelajari oleh psikolog komparatif mencakup perilaku reproduksi, pencetakan, perilaku sosial, pembelajaran, kesadaran, komunikasi, naluri, dan motivasi.

Studi perilaku hewan dapat mengarah pada pemahaman psikologi manusia yang lebih dalam dan lebih luas. Penelitian tentang perilaku hewan telah menghasilkan banyak penemuan tentang perilaku manusia, seperti penelitian Ivan Pavlov tentang pengkondisian klasik atau karya Harry Harlow dengan monyet rhesus. Mahasiswa ilmu biologi dan ilmu sosial dapat mengambil manfaat dari mempelajari psikologi komparatif.

Segitu dulu ya sobat DuPi. Kalau ingin berlanjut pembahasannya bisa komen saja di bawah ya! Nanti kita diskusikan bersama. 
Sampai Jumpa!



Penulis : Awal 

Sumber:
https://id.reoveme.com/psikologi-komparatif-dan-perilaku-hewan/

https://www.google.com/amp/s/www.idntimes.com/science/discovery/amp/shandy-pradana/masalah-psikologis-ini-bisa-menyerang-hewan-peliharaanmu-c1c2

Rabu, Oktober 13, 2021

Jangan Khawatir, Itu Hanya Kecemasan


Halo sahabat DuPi, apa kabar? Ketemu lagi dengan Dunia Psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara.

 "Ada orang-orang yang selalu mengatisipasi masalah, dan dengan cara ini mereka berusaha menikmati segala kesedihan yang tidak pernah benar-benar terjadi pada mereka."—Josh Billings

 Seberapa seringkah kita tidak menikmati situasi-situasi malapetaka atau kesuraman❓

Penelitian menunjukkan bahwa :

     ▪︎ 40% dari kekhawatiran kita tidak akan pernah terjadi

     ▪︎ 30% terjadi

     ▪︎ 12% kekhawatiran tentang kesehatan tidak berdasar

     ▪︎ 10 % kekhawatiran tentang masalah-masalah yang tidak ada hubungannya dengan kehidupan.

Lihatlah, sahabat DuPi , 92% dari yang kita khawatirkan hanyalah—sebuah kecemasan.

Maka, apa yang akan kita lakukan dengan 8% sisanya❓

Sederhana: berhentilah khawatir. Cegahlah kekhawatiran dengan menganggapnya sebagai kenyataan. Berhentilah merasa cemas dari pikiran yang mendominasi. 

Ada sebuah cerita dari seorang istri yang dulunya selalu merasa cemas. Karena selalu takut rumahnya akan dirampok, dia menyuruh suaminya turun ke bawah setiap malam hanya untuk mengecek apakah ada perampok yang masuk ke dalam rumahnya. 

Setiap malam, selama 30 tahun, suaminya patuh turun ke lantai bawah untuk  memastikan kalau rumah mereka aman. Karena memang sudah takdirnya, suatu malam seorang penyusup pun muncul di rumah mereka. 

Sebaliknya, bukannya terkejut melihatnya, sang suami malah berkata, "Tuan, aku memiliki dua permintaan. Pertama, ambil apa yang kau butuhkan, dan kedua, aku akan mengenalkanmu pada istriku karena dia telah menunggu selama 30 tahun untuk bertemu denganmu."

Seorang penulis dari Inggris William Ralph Inge menyatakan, "Kecemasan adalah bunga kesulitan yang terbayarkan sebelum jatuh tempo."

Ramalan-ramalan yang belum tentu terjadi adalah hasil dari kecemasan yang berlebihan. Kita mengubah kecemasan menjadi ramalan  jika kita memanjakan diri di dalamnya. Kita bisa mencegah terwujudnya ramalan semacam itu daripada tenggelam dalam ketidakberdayaan.

Kecemasan di definiskan sebagai kesulitan secara mental atau agitasi yang dihasilkan dari keprihatinan biasa pada sesuatu yang akan terjadi atau diantisipasi. Catatlah, kata terakhir adalah "diantisipasi". Maka, berhentilah mengantisipasi!

"Dunia kecemasan" merupakan wilayah kekuasaan virtual; hiduplah dalam kenyataan saat ini.

Salam penuh cinta, Dunia Psikologi


Penulis : Ayasa Coz 


Sumber : 

- Ong, Johnny (2013) Don't Live Your Life in One Day.


Senin, Oktober 11, 2021

PEDIOPHOBIA, Kenali Hubungan Psikologi Manusia dengan Boneka

Hai para sobat DuPi di mana pun kalian berada, semoga sehat selalu ya ... 

Ketemu lagi dengan Dunia Psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara. 

 
 
"Mugunghwa Kkoci pieot seumnida”, 

Nah pasti banyak yang tahu kan, kata-kata ini? Terutama bagi kalian yang sudah nonton serial drama Squid Game.
 
Kata ini diucapkan oleh sosok boneka berbaju kuning dengan mata pendeteksi gerak manusia. Tugas dari boneka tersebut adalah mengeliminasi peserta permainan yang bergerak, dengan cara menembaknya. Wih, serem juga ya, sob.

Jadi hari ini kita akan membahas tentang hubungan manusia dan boneka.

Boneka sering dijadikan sebagai mainan kesayangan oleh anak-anak. Bentuk yang lucu dan menggemaskan serta warnanya yang beragam dan menarik, menjadikan benda satu ini banyak disukai banyak orang namun, ada juga yang takut dengan benda ini. Untuk lebihnya yuk simak penjelasan berikut! 


Pediophobia atau yang sering dikenal dengan fobia terhadap boneka. Hal ini termasuk dalam ketakutan jenis automatonofobia atau ketakutan terhadap figur yang mirip manusia. Salah satu alasan seseorang takut dengan boneka mungkin karena banyak bermunculan film-film horor yang bertema boneka, contohnya seperti boneka yang ada pada serial drama Squid Game itu, sob

Sebenarnya, rasa takut yang ditimbulkan dari efek film mungkin tidak seberapa. Namun pada beberapa orang, ketakutan terhadap boneka ini bisa sangat tidak rasional. Mereka bisa menganggap bahwa boneka benar-benar mampu melukai orang tersebut. Selain dari menonton film, fobia ini juga dapat dipicu oleh peristiwa traumatis, sehingga orang tersebut takut dengan boneka. Bayangan menyeramkan mengenai boneka yang tertanam sejak kecil juga bisa mengakibatkan orang tersebut mengalami pediophobia dikemudian hari. Biasanya pediophobia lebih cenderung dialami oleh wanita dibandingkan pria.

Lalu seperti apa gejala yang ditimbulkan?

Orang yang mengalami pediophobia dia akan merasa takut yang intens, kesulitan bernapas. nyeri dada atau sesak napas, detak jantung cepat, berkeringat, gemetar, serangan panik, seperti ingin mencoba melarikan diri, mual, pusing, menangis bersembunyi di belakang orang lain, atau mengamuk saat melihat atau sekedar membayangkan boneka. 

 Bagiamana cara mengatasinya?  

Cara untuk mengatasi pediophobia yakni dengan melakukan 

1. Terapi

Ada beberapa terapi yang dapat dilakukan, antara lain:

  • Terapi Pajanan
  • Terapi Keluarga
  • Terapi Virtual
  • Terapi Perilaku Kognitif
  • Hipnosis

 2. Minum obat-obatan 

Obat-obatan yang dikonsumsi tentunya obat yang disarankan oleh dokter. 

 

Buat beberapa orang, takut boneka dianggap sebagai hal yang lucu, aneh, dan bahkan bisa jadi bahan bercandaan. Namun percayalah, menjadikan fobia spesifik sebagai bahan olok-olokan bukanlah hal yang baik. Itu sungguh menyiksa penderitanya.

Sobat DuPi, setiap manusia memiliki rasa takutnya masing-masing, juga kekurangannya tersendiri. Jadi marilah kita saling menghargai perbedaan yang ada dan saling menjaga sesama manusia.

Sampai Jumpa,

Salam penuh cinta, Dunia Psikologi.

 

 

 

Jumat, Oktober 08, 2021

HYPOPHRENIA, Bukanlah Kondisi Sedih Tanpa Alasan yang Jelas

Halo sahabat Dupi, apa kabar? Ketemu lagi dengan Dunia Psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara. 

Sahabat DuPi pernah mendengar istilah hypophrenia yang sering disebut dalam konten atau artikel? Benarkah kondisi ini bisa membuat seseorang sedih tanpa sebab dan alasan yang jelas?

Jadi sahabat DuPi, banyak orang yang salah kaprah dan menganggap bahwa hypophrenia adalah sebuah terminologi untuk menjelaskan gangguan mental yang berkaitan dengan fungsi emosional.

Lebih jauh lagi, hypophrenia disalahartikan sebagai salah satu penyebab mengapa seseorang menangis tanpa alasan. Penjelasan ini kurang tepat, ya guys!  karena hypophrenia sebenarnya hanyalah 'nama beken' dari keterbelakangan mental. 

Kamus psikologi referensi Oxford mendefinisikan hypophrenia adalah keterbelakangan mental atau disabilitas intelektual. Orang dengan keterbelakangan mental memiliki kesulitan dalam fungsi intelektual dan fungsi adaptifnya, yang meliputi kehidupan sosial dan keterampilan praktis (IQ). Namun, definisi tersebut tidak menggambarkan secara langsung gejala yang dialami oleh penderita hypophrenia. 

Diambil dari chanel youtube dr. Jiemi Ardian, SpKJ menjelaskan bahwa perlu diketahui, ketika seorang psikiater atau seorang psikolog dalam  mendiagnosis gangguan kejiwaan itu ada caranya, ada panduannya. Termasuk ada juga prosedur diagnosisnya. Jadi kita tidak bisa atau langsung simpulkan kalau mengetahui seseorang menangis tanpa sebab maka dikatakan hypophrenia. Tidak boleh ya guys. 

Hal yang seperti itu tidak bisa. Perlu ada kriteria yang terukur, di mana jelas dan bisa diobservasi yang kalau orang-orang melihat observasinya juga sama.

Adapun dalam mendiagnosis, seorang psikiatri atau psikolog memiliki kitab pedoman mereka sendiri dan yang paling sering digunakan adalah Diagnostic Enstatistical Manual-Five (DSM-V). Buku ini adalah buku panduan diagnosisnya Psikolog dan Psikiater. Jadi, kalau diagnosisnya ada di dalam buku tersebut, berarti ada dan kalau tidak ada di situ maka kita tidak bisa mengatakan bahwa itu adalah sebuah gangguan kejiwaan karena tidak masuk dalam kategori gangguan kejiwaan dan ada di dalam kitabnya gangguan jiwa. Begitupun di ICD-10 milik WHO, tidak ada penyakit yang bernama hypophrenia. 

Menurut Kamus psikologi referensi Oxford, hypophrenia adalah sinonim dari retardasi mental. Kalau melihat dari terjemahan bahasa maka bisa diketahui bahwa kata "hypo" itu berarti "di bawah" dan "phrenia" bermakna "pikiran atau jiwa". Jadi, hypophrenia bahasa liniernya adalah seakan-akan retardasi mental atau bahasa terbarunya adalah disabilitas intelektual.

Dalam penjelasannya dr Jiemi memberi sebuah pelajaran, bahwa kita, sebagian orang Indonesia mungkin kurang menangkap maksud aslinya. Bahwa hypophrenia ini adalah sinonim dari disabilitas mental, tidak ada hubungan dengan rasa sedih yang tanpa sebab. 

Dan yang menjadi menarik bahwasanya seakan-akan manusia itu membutuhkan label untuk mengenal dirinya. Seperti halnya contoh, kita melabeli diri kita sebagai introvert atau ekstrovert, sanguin atau melankolis, atau bahkan ada yang melabeli bertameng pada zodiak. Seakan-akan kita memang membutuhkan sebuah label yang menjelaskan mengenai siapa saya? seperti apa saya? dan lebih jelasnya seperti kita harus mengelompokkan diri sendiri masuk ke kelompok yang mana.

Karena hal tersebut juga maka bisa saja, munculnya istilah "hypophrenia" ini adalah bentuk label yang dipakai untuk seakan menjelaskan kesedihan yang tidak jelas sumbernya. Lalu dilemparkan pada penjelasan pada trauma di masa lalu dan lain sebagainya.

Memang benar bahwa trauma di masa lalu memang dapat membuat perubahan emosi di masa kini, tetapi kita tidak bisa menggunakan istilah baru yang tidak jelas sudut pandangnya atau alat ukurnya, atau kriteria penggunaannya. 

Dalam hal ini adalah kriteria diagnosis. Ketika seseorang menyebutkan mengenai kriteria diagnosis, maka harus ada panduannya tidak semata-mata hanya berbekal search mbah google dan langsung menganggap itu benar.

Sekalipun kamu rasa kalimat itu saya banget, kamu tidak butuh kriteria diagnosis untuk mengetahui bahwa rasa sakitmu itu valid. 

Artinya : kamu tidak perlu mengubah nama sedih, nama terpuruk, nama kecewa, nama menangis menjadi hypophrenia. Kamu tidak butuh itu. 

Menggunakan bahasa yang sederhana itu akan jauh lebih mudah untuk dimengerti daripada seperti, "Eh, aku kena hypophrenia nih." 

Itu tidak mudah dimengerti. Berceritalah, berkisahlah dengan menggunakan bahasa yang sederhana sehingga orang lain bisa memahami dan kita enggak butuh kok label-label seperti itu. 

Oleh karena itu, yuk sahabat DuPi, mari lepaskan label hypophrenia, karena istilah itu adalah sinonim dari disabilitas mental bukan karena kita yang sering sedih atau menangis karena sebab yang tidak jelas. 

Apabila sahabat DuPi mengalami rasa sedih, yang harus sahabat DuPi lakukan adalah belajar mengenali diri sendiri dulu, bukan sibuk melabeli diri dengan istilah-istilah. Semoga bermanfaat.

Salam penuh cinta, Dunia Psikologi


Penulis : Ayasa Coz

Sumber : https://youtu.be/t55ymiXW4ws

Selasa, Oktober 05, 2021

Peran Guru Terhadap Psikologi Siswa

Halo sahabat DuPi yang dirahmati Allah, di mana pun berada ... ketemu lagi dengan Dunia Psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara. 

Apakah sahabat DuPi tahu kalau tanggal 5 Oktober diperingati sebagai Hari Guru Sedunia? Dah pada tahu ya, untuk itu hari ini DuPi akan menuliskan peran guru terhadap psikologi siswa. 

Sahabat DuPi pasti paham bahwa profesi guru dituntut untuk dapat berbuat banyak hal berkaitan dengan pendidikan. Selain mengajar, guru juga melakukan pendidikan, pembinaan terhadap anak didiknya. Maka tidak salah jika guru berperan sebagai psikolog bagi anak didiknya. 

Psikologi dibutuhkan oleh manusia dalam setiap kehidupannya agar selalu dapat berhubungan dan bersama dengan yang lain. 

Psikologi secara umum dapat didefinisikan sebagai disiplin ilmu yang berfokus pada perilaku dan berbagai proses mental serta bagaimana perilaku dan berbagai proses mental ini dipengaruhi oleh kondisi mental organisme dan lingkungan eksternal. Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang apa itu psikologi, maka perlu memahami lebih jauh mengenai metodenya, hasil-hasil temuannya, dan berbagai cara yang biasa ditempuh untuk menginterpretasikan informasinya ( Carole Wade, 2007).

Banyak manfaat didapat dari mempelajari psikologi dalam belajar, terutama bagi seorang guru, yang tugas utamanya adalah mengajar. Sangat penting memahami psikologi belajar dalam kegiatan pembelajaran. Proses belajar mengajar sangat syarat dengan muatan psikologis. Mengabaikan aspek–aspek psikologis dalam proses pembelajaran akan berakibat kegagalan, sehingga tujuan pembelajaran tidak tercapai.

Tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa antara proses perkembangan dengan proses belajar mengajar terdapat saling keterkaitan. Sehubungan dengan ini, setiap guru seyogyanya mampu memahami seluruh proses dan perkembangan peserta didiknya dengan baik.

Pengetahuan mengenai proses dan perkembangan dan segala aspeknya itu sangat bermanfaat, antara lain :

    🧩 Guru dapat memberikan layanan, bantuan dan bimbingan yang tepat kepada siswanya dengan menggunakan pendekatan yang relevan sesuai tingkat perkembangannya. 

   ðŸ§© Guru dapat mengantisipasi kemungkinan–kemungkinan timbulnya kesulitan belajar siswa tertentu. 

   ðŸ§© Guru dapat mempertimbangkan waktu yang tepat dalam memulai aktifitas proses belajar mengajar bidang studi tertentu.

   ðŸ§© Guru dapat menemukan dan menetapkan tujuan–tujuan pengajaran sesuai dengan kemampuan psikologisnya.

Psikologi dalam belajar memiliki peranan penting dalam membantu mempersiapkan guru atau calon guru yang professional untuk mampu membantu memecahkan permasalahan siswa dalam belajar. Dengan memahami psikologi belajar, guru dapat memudahkan penerapan pengetahuan, pendekatan dan komunikasi yang baik kepada anak didik. 

Dengan demikian seorang guru yang memahami bidang psikologi dapat membantu menciptakan suasana edukatif, efektif, efisien dan menyenangkan.

Guru bertanggung jawab untuk mengantarkan anak didik ke arah kedewasaan susila yang cakap dengan memberikan sejumlah ilmu pengetahuan dan membimbingnya. Sedangkan anak didik berusaha untuk mancapai tujuan itu dengan bantuan dan pembinaan dari guru.

Interaksi edukatif harus menggambarkan hubungan aktif dua arah dengan sejumlah pengetahuan sebagai mediumnya, sehingga interaksi itu merupakan hubungan yang bermakna dan kreatif.

Karena profesinya sebagai guru adalah berdasarkan panggilan jiwa, maka bila guru melihat anak didiknya senang berkelahi, meminum minuman keras, menghisap ganja, datang ke rumah-rumah bordil, dan sebagainya, guru merasa sakit hati. Siang atau malam selalu memikirkan bagaimana caranya agar anak didiknya itu dapat dicegah dari perbuatan yang kurang baik, asusila, dan amoral.

Guru seperti itulah yang diharapkan untuk mengabdikan diri di lembaga pendidikan. Bukan guru yang hanya menuangkan ilmu pengetahuan ke dalam otak anak didik. Sementara jiwa, dan wataknya tidak dibina. 

Memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik adalah suatu perbuatan yang mudah, tetapi untuk membentuk jiwa dan watak anak didik itulah yang sukar, sebab anak didik yang dihadapi adalah makhluk hidup yang memiliki otak dan potensi yang perlu dipengaruhi dengan sejumlah norma hidup sesuai ideologi falsafah dan bahkan agama.

Menjadi tanggung jawab guru untuk memberikan sejumlah norma kepada anak didik agar tahu mana perbuatan yang susila dan asusila, mana perbuatan yang bermoral dan amoral. Semua norma itu tidak mesti harus guru berikan ketika di kelas, di luar kelas pun sebaiknya guru contohkan melalui sikap, tingkah laku, dan perbuatan. Pendidikan dilakukan tidak semata-mata dengan perkataan, tetapi dengan sikap, tingkah laku, dan perbuatan.

Anak didik lebih banyak menilai apa yang guru tampilkan dalam pergaulan di sekolah dan di masyarakat dari pada apa yang guru katakan, tetapi baik perkataan maupun apa yang guru tampilkan, keduanya menjadi penilaian anak didik. Jadi, apa yang guru katakan harus guru praktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Wens Tanlain dan kawan-kawan (1989: 31) guru yang bertanggung jawab memiliki beberapa sifat, yakni:

      ▪︎ 1. Menerima dan mematuhi norma, nilai-nilai kemanusiaan

      ▪︎ 2. Memikul tugas mendidik dengan bebas, berani, gembira (tugas bukan menjadi beban baginya)

      ▪︎ 3. Sadar akan nilai-nilai yang berkaitan dengan perbuatannya serta akibat-akibat yang timbul (kata hati)

      ▪︎ 4. Menghargai orang lain, termasuk anak didik

      ▪︎ 5. Bijaksana dan hati-hati (tidak nekat, tidak sembrono, tidak singkat akal)

      ▪︎ 6. Takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Untuk itu guru harus bertanggung jawab atas segala sikap, tingkah laku, dan perbuatannya dalam rangka membina jiwa dan watak anak didik. Dengan demikian, tanggung jawab guru adalah untuk membentuk anak didik agar menjadi orang bersusila yang cakap, berguna bagi agama, nusa, dan bangsa di masa yang akan datang. Semoga bermanfaat.



Penulis : Ayasa Coz

Sumber :

- Fahyuni, Eni Fariyatul (2016) Kunci Sukses Guru dan Peserta didik dalam Interaksi Edukatif

Mengenal Kepribadian Ekstrovert

Halo Sabahat DuPi di mana pun berada, apa kabar? Kembali lagi dengan Dunia psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara. Minggu lalu...