Sabtu, Januari 29, 2022
Ilmu Ghaib Dalam Kacamata Psikologi
Jumat, Januari 28, 2022
CRAB MENTALITY : Rasa Iri terhadap Kesuksesan Orang Lain
Halo sahabat DuPi di mana pun kamu berada, apa kabar ? Kembali lagi dengan Dunia Psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara.
Sahabat DuPi pernah tidak merasa iri melihat kawan kita yang nyantai-nyantai saja belajarnya, tetapi nilainya bagus terus? sedangkan kita yang sudah berjuang malah tidak sebagus dia. Kasus lainnya, ada juga kita lihat teman yang biasa saja parasnya, tetapi dia malah dapat jodoh terlebih dahulu daripada kita. Begitulah hidup, kadang ada juga yang merasa iri dengan keberhasilan kita sehingga berusaha menjatuhkan kita. Huff ....
Kesuksesan orang lain seharusnya bisa menjadi cambuk untuk terus meningkatkan kualitas diri. Melihat orang lain sukses, patut rasanya menjadi motivasi untuk diri sendiri. Namun ternyata, banyak orang yang menganggap kesuksesan orang lain adalah hambatan.
Nah sahabat DuPi, ternyata kalau tidak suka melihat keberhasilan yang dicapai oleh teman atau kolega ternyata bisa masuk sebagai sindrom psikologis, loh.
⎙ 𝑨𝒑𝒂 𝒊𝒕𝒖 𝑪𝒓𝒂𝒃 𝑴𝒆𝒏𝒕𝒂𝒍𝒊𝒕𝒚 ❓
Crab Mentality merupakan sebuah fenomena psikologis yang membuat diri kita tidak suka dengan pencapaian orang lain.
Diambil dari wikipedia, Crab Mentality dikenal sebagai teori kepiting, mentalitas kepiting dalam ember, atau efek kepiting-ember, adalah cara berpikir yang dijelaskan dengan ungkapan "Jika saya tidak dapat memilikinya, kamu juga tidak dapat."
Dibanding bertahan hidup atau melarikan diri dari kelompoknya, kepiting memilih untuk mati bersama. Perilaku ini adalah analogi dari pola pikir egois dan iri terhadap kesuksesan orang lain yang disebut sebagai Crab Mentality atau mentalitas kepiting.
Tidak jarang, Crab Mentality muncul dengan : tindakan mengkritik tanpa memberi solusi. Selain itu, sikap dan perkataan yang bersifat meremehkan dan memanipulasi.
⎙𝐀𝐩𝐚 𝐇𝐮𝐛𝐮𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐆𝐚𝐲𝐚 𝐇𝐢𝐝𝐮𝐩 𝐊𝐞𝐩𝐢𝐭𝐢𝐧𝐠 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐌𝐞𝐧𝐭𝐚𝐥 𝐌𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚❓
Manusia merupakan mamalia, yang secara alamiah memang bertahan hidup dengan cara berlindung di dalam kelompok. Secara alamiah, otak manusia akan memproduksi serotonin (perasaan nyaman) ketika merasa memiliki kontrol dan kuasa. Sementara itu, hormon kortisol (perasaan terancam) akan diproduksi ketika seseorang berada dalam posisi lemah. Hidup dalam komunitas sosial membuat manusia terus menerus berkompetisi untuk memperoleh kebutuhan dasar.
Sebagai mamalia modern, manusia menaruh perhatian besar pada status sosialnya. Manusia berusaha mempertahankan perasaan nyamannya sebagai bagian dari sifat alami untuk bertahan hidup. Dalam konteks ini, Crab Mentality muncul dari perasaan rekan yang merasa stagnan dengan perkembangan dirinya sementara orang lain mengalami perkembangan lebih pesat. Perasaan ini kemudian merangsang hormon kortisol dan membuat keputusan-keputusan yang diambil menjadi tak jernih.
Dalam kehidupan nyata, perilaku yang mirip seperti ini sangat mungkin ditemui di sekitar kita. Bisa jadi teman, rekan kerja, atau keluarga dekat yang secara sengaja maupun tidak sedang menghalang-halangi usahamu. Mereka yang memiliki Crab Mentality akan kurang memberi dukungan atau apresiasi terhadap apa yang tengah kamu kerjakan karena mereka memiliki Crab Mentality atau sikap iri denganmu.
⎙ 𝐂𝐚𝐫𝐚 𝐌𝐞𝐧𝐠𝐡𝐚𝐝𝐚𝐩𝐢 𝐌𝐞𝐧𝐭𝐚𝐥 𝐤𝐞𝐩𝐢𝐭𝐢𝐧𝐠 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐂𝐫𝐚𝐛 𝐌𝐞𝐧𝐭𝐚𝐥𝐢𝐭𝐲
Bila kamu merasa diperlakukan dengan sikap yang menghalangi perkembangan, atau mulai merasa terganggu dengan perkembangan orang lain, Loretta Graziano Breuning, profesor di California State University East Bay dalam Psychology Today menyarankan cara-cara berikut untuk menghadapi mental kepiting:
🍁𝟏. 𝐊𝐨𝐧𝐬𝐢𝐬𝐭𝐞𝐧
╰⌲Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk melawan Crab Mentality adalah konsisten dengan pilihan yang diambil. Bila orang lain yang memberikan tanggapan negatif atas apa yang kamu lakukan, jangan berhenti melakukan apa yang menurutmu benar atau penting.
🍁𝟐. 𝐌𝐞𝐧𝐚𝐦𝐛𝐚𝐡 𝐧𝐢𝐥𝐚𝐢 𝐝𝐢𝐫𝐢
╰⌲Menambah keahlian-keahlian baru dapat membantu kamu meningkatkan kepercayaan diri. Dengan memiliki keahlian-keahlian baru, kemungkinan kamu untuk dijatuhkan akan lebih kecil ketimbang menjadi orang dengan kemampuan rata-rata. Selain itu, nilai diri yang bertambah juga membuatmu tidak perlu merasa berkecil hati hingga mencegah orang lain untuk berkembang.
🍁𝟑. 𝐉𝐚𝐝𝐢𝐥𝐚𝐡 𝐦𝐨𝐝𝐞𝐥 𝐛𝐚𝐠𝐢 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐥𝐚𝐢𝐧
╰⌲Mengetahui maksud dari setiap perilakumu akan membuat kamu semakin sulit dijatuhkan. Sikap-sikap positif yang kamu adopsi dan tunjukkan bisa saja menginspirasi orang lain. Dengan menjadi role model, orang akan cenderung tidak menjatuhkanmu dan membuatmu merasa takperlu memiliki mental kepiting.
🍁𝟒. 𝐓𝐞𝐭𝐚𝐩 𝐛𝐞𝐫𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐚𝐩𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐚𝐦𝐮 𝐤𝐞𝐫𝐣𝐚𝐤𝐚𝐧
╰⌲Bila kamu tertarik dengan sesuatu dan bersemangat melakukannya, maka lakukan dengan gigih. Terlalu sering mengganti jalan yang kamu ambil menjadikanmu rawan untuk dijatuhkan. Lakukan sesuatu dengan sepenuh hati dan terima segala tantangannya dengan fokus hingga kamu tidak punya waktu untuk mengkhawatirkan perkembangan orang lain.
🍁𝟓. 𝐓𝐞𝐭𝐚𝐩 𝐠𝐢𝐠𝐢𝐡, 𝐛𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐚𝐭 𝐠𝐚𝐠𝐚𝐥
╰⌲Mencapai suatu tujuan tidaklah luput dari kegagalan. Namun, jangan sampai kegagalan membuatmu menyerah dan menelan mentah-mentah komentar negatif orang lain yang justru bisa membuatmu semakin terpuruk. Ingatlah bahwa dalam setiap kegagalan selalu ada pelajaran yang dapat diambil. Jadi, cobalah untuk mengevaluasi diri atas kegagalan yang kamu alami. Dengan begitu, rasa percaya dirimu akan bangkit kembali dan kamu semakin bersemangat untuk meraih kesuksesan.
Manusia hidup dalam komunitas dan tidak bisa dilepaskan dari konteks sosialnya. Crab Mentality pada orang lain bisa berdampak besar pada dirimu, mulai dari menurunkan rasa percaya diri hingga menghambat kesuksesanmu. Meski begitu, perlu diingat, kamu tidak perlu kesal atau marah kepada orang yang memiliki Crab Mentality, karena itu hanya membuang-buang waktu dan energimu saja.
Lebih baik fokuskan perhatianmu untuk mencapai kesuksesan yang kamu impikan dan biarkan mereka dengan masalah mereka sendiri. Tetaplah berpegang teguh dengan pendirianmu dan terapkan cara bertahan dari orang-orang dengan sikap Crab Mentality.
Namun, bila kamu memang merasa perlakuan dari orang dengan Crab Mentality benar-benar menjatuhkanmu dan membuatmu ingin menyerah, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog, ya. Semoga bermanfaat.
Penulis : Ayasa Coz
Sumber :
▪︎alodokter.com
▪︎wikipedia
▪︎yoursay.id
____________________________________________
Rabu, Januari 26, 2022
SKIZOPHRENIA : Gangguan Penilaian Realistis
Halo sahabat DuPi di mana pun kamu berada, apa kabar? Sehat-sehat saja kan. Kembali dengan Dunia Psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara.
Sahabat DuPi masih ingat dengan kasus yang viral di dunia tahun 2013 ? Ya, kasus Isabella Yun Mi Guzman yang membunuh ibu kandungnya, Yun Mi Hoy, dengan cara yang mengerikan. Pada usianya yang baru menginjak 19 tahun, ia membunuh ibunya dengan 151 tusukan di bagian wajah serta leher sang bunda.
Yang membuat kisah ini menjadi ramai yaitu pada sidang pengadilannya, Isabella Guzman dinyatakan tidak bersalah dan tidak dipenjara. Selain itu, senyum Isabella di pengadilan pun menjadi sorotan. Ia tersenyum seperti tak bersalah. Hal itu karena Isabella Guzman dinyatakan mengalami gangguan kejiwaan dan dikirim ke Rumah Sakit Pemerintah di Pueblo untuk menjalani pengobatan dan perawatan kejiwaan.
Berdasarkan keterangan Dokter Richard Pounds, dokter yang merawat, Guzman didiagnosa mengalami paranoia skizophrenia. Dikatakan jika Isabella Guzman sering menatap ke ruang hampa, berbicara sendiri padahal tak ada orang lain hingga tertawa sendiri.
Dokter juga mengungkapkan jika Guzman selama ini berdelusi jika Yun Min Hoy bukanlah ibu kandungnya. Ia menyebut Cecela adalah sosok wanita yang dianggap sebagai ibu kandungnya. Isabella Guzman pun yakin, membunuh Yun Min Hoy demi menyelamatkan dunia.
Senin, Januari 24, 2022
ELLIPSISM : Ketakutan Akan Masa Depan yang Belum Tentu Terjadi
Halo sahabat DuPi di mana pun kamu berada. Apa kabar ? Kembali lagi dengan Dunia Psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara.
🎃Kamu pernah merasa cemas campur sedih memikirkan akan nasib Bangsa ini kelak jika negara Indonesia terjadi perang ke depannya?
🎃 Atau kamu pernah merasa sedih dan cemas akan hari tua, di mana kamu akan tinggal dan bagaimana hidup anak cucumu, padahal saat ini kamu masih remaja dan jomblo , eh ....
Kesedihan akan ketakutan yang tidak beralasan ini ya memang pernah dirasakan oleh kita. Kita mencemaskan hal-hal akan masa depan yang tidak kita ketahui, dan emosi ini sering dikatakan sebagai ellipsism.
Nah sebelum itu ada baiknya kita mengetahui apa pengertian emosi ini.
Ellipsisme: ▶️(n) Kesedihan yang muncul akibat kamu tidak bisa mengetahui bagaimana suatu momen (terutama yang buruk) akan berubah.
Elipsism diartikan sebagai rasa sedih yang muncul ketika seseorang memikirkan masa depan walaupun hal tersebut belum tentu akan terjadi nantinya.
Dalam skenario kehidupan, kesedihan itu sangat pribadi. Penderita ellipsism akan merasa tersiksa karena memusingkan hal yang belum tentu terjadi dan tidak tahu dasarnya darimana. Jika terus-terusan menderita ellipsism, kemungkinan seseorang akan merasakan stres dan menghabiskan sebagain waktunya untuk hal yang sia-sia.
⎙ Faktor Penyebab
Kasus ini terdengar mirip dengan overthinking. Kita menjadi sedih ketika memikirkan masa depan yang belum jelas. Menurut Danielle Syslo yang merupakan seorang therapist, umumnya dua penyebab utama dari kasus tersebut adalah faktor stres dan kecemasan, terlebih kita memiliki lebih banyak waktu sendiri. Kecemasan merupakan respons terhadap ketakutan-ketakutan akan dan apa yang mungkin terjadi. Sebenarnya, dengan adanya rasa cemas kita bisa memiliki rasa waspada terhadap bahaya yang mengancam kelangsungan hidup kita. Namun, jika tingkat kecemasan tersebut berlebih pastinya akan menimbulkan dampak negatif juga untuk diri kita.
Selain itu, trauma juga bisa menjadi penyebabnya. Trauma seperti pelecehan atau penelantaran saat masa kanak-kanak oleh orangtua bisa mengubah perkembangan otak menjadi terjebak dalam keadaan kewaspadaan tinggi yang konstan. Respon flight-fight-or-freeze dalam otak kita tetap hidup. Kita memiliki tingkat waspada yang tinggi dan terus memindai segala kemungkinan bahaya baik nyata maupun yang dirasakan. Dalam kasus ini, kita mungkin mengalami pikiran obsesif atau mengganggu.
⎙ Apa yang Harus Dilakukan Jika Merasakan Emosi ini❓
Seseorang yang mengalami ellipsism mungkin bukan penderitaan abadi. Ada kemungkinan, betapa pun tipisnya, bahwa kita bisa bersama-sama menghentikan keputusasaan yang tidak produktif ini. Elipsisme hanyalah produk dari pola pikir tertentu, dan pola pikir ini hanyalah salah satu dari banyak yang dapat kita pilih untuk diri kita sendiri. Pada dasarnya, persepsi waktu yang menyimpanglah yang menyebabkan perasaan menakutkan ini. Dan, jika kita mengubah persepsi kita tentang waktu, kita dapat secara efektif menghilangkan elipsisme dan kesengsaraannya yang luar biasa.
Kita sebagai manusia hanya bisa menerka takdir Tuhan yang sudah digariskan. Maka dari itu, bila hal yang kita ekspektasikan tidak akan sesuai dengan realitanya, kita akan merasa sedih. Setiap orang harus menyadari bahwa rasa sedih ini bisa muncul karena kurangnya sikap tawakkal dan istiqomah yang kita miliki. Karena pada hakikatnya Tuhan sudah mengetahui apa yang terbaik bagi kita, tinggal usaha kita dalam mewujudkannya yang harus maksimal.
Kebiasaan overthinking harus dikurangi, karena belum tentu hal-hal yang kita pikirkan akan sepenuhnya terjadi. Hendaknya kita lebih mendekatkan diri kepada Tuhan yang telah mengatur alam semesta ini.
Seperti sebuah pernyataan, “Kamu bisa tenang naik pesawat tanpa mengenal pilotnya, lalu kenapa selalu resah menjalani hidup, padahal kamu tahu Tuhan yang mengatur segalanya.”
Semoga bermanfaat. Salam penuh cinta, Dunia Psikologi.
Penulis : Ayasa Coz
Sumber :
▪︎owlcation.com
▪︎Psike.id
_______________________________
Selasa, Januari 18, 2022
LETHOLOGICA : Kondisi Sulit Mengingat Kata-kata Saat Berbicara
Halo sahabat DuPi di belahan bumi mana pun, apa kabar? Kembali dengan Dunia Psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara.
Sahabat DuPi pernah ngalami kejadian ketika sedang berbicara, tetapi seketika kamu terdiam karena lupa kata apa yang ingin diucapkan padahal sebelumnya sempat terbesit di otak?
Kita sering katakan, "Ih, sudah di ujung lidah, loh."
Kata-kata yang dilupakan sempat tebersit di otak, tetapi tidak kunjung terucap di bibir. Hal tersebut dikenal sebagai lethologica.
ミ✧ Mengenal Lethologica ❞
Lethologica berasal dari bahasa Yunani klasik, yakni lethe (forgetfulness atau kelupaan) dan logo (word atau kata). Jika digabungkan, istilah ini bisa mengarah pada makna ‘kelupaan suatu kata’.
Dalam mitologi Yunani, Lethe merupakan salah satu dari lima sungai di dunia bawah, yang merupakan tempat jiwa orang meninggal untuk melupakan semua kenangan duniawi.
Para psikolog mengartikan kondisi ini sebagai ketidakmampuan otak sementara untuk mengambil informasi dari ingatan atau memori. Lethologica adalah nama lain dari tip of the tongue atau fenomena di ujung lidah. Nama ini digunakan karena kata-kata yang terlupa sempat tebersit di pikiran, tetapi seperti tertahan di ujung lidah. Seseorang yang mengalaminya sudah mengetahui sesuatu yang ingin diucapkan, tetapi tiba-tiba lupa dan sulit mengungkapkan kata-kata tersebut. Saat ini terjadi, beberapa orang sibuk mengingat dan menemukan kata yang kelupaan. Namun, ada pula yang memilih kata alternatif untuk menggambarkan apa yang ingin ia ucapkan.
Lethologica secara istilah dipopulerkan oleh psikolog Carl Jung di awal abad ke 20. Tetapi catatan paling jelas terdapat dalam Kamus Medis Bergambar Amerika Dorland edisi 1915, di mana lethologica didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk mengingat kata yang tepat. Dalam studi yang dilakukan Carl Jung, lethologica dikaitkan tentang bagaimana ingatan bekerja di otak.
ミ✧ Hal Menarik Tentang Lethologica ❞
Beberapa hal menarik yang peneliti temukan mengenai lethologica di antaranya adalah:
🍁 Lethologica umum terjadi: Survei menunjukkan bahwa sekitar 90 persen penutur bahasa dari seluruh dunia melaporkan mengalami saat-saat di mana ingatan tampaknya sulit untuk diakses dalam jangka waktu singkat.
🍁 Momen ini cukup sering terjadi dan frekuensinya cenderung meningkat seiring dengan bertambahnya usia: Orang yang berusia muda biasanya memiliki momen otak dan mulut tidak sinkron atau tip-of-the-tongue sekitar sekali per pekan. Sementara itu, orang yang lebih dewasa lebih sering mengalaminya.
🍁 Orang sering kali mengingat sebagian informasi: Dalam kasus ini, misalnya saja mereka mungkin mengingat huruf awal dari kata yang mereka cari atau jumlah suku kata yang terkandung dalam kata tersebut.
ミ✧ Gejala Lethologica ❞
Pada dasarnya, lethologica tidak memiliki gejala yang spesifik. Sebab, lethologica hanya ditandai dengan otak dan mulut yang tidak sinkron atau merupakan ketidakmampuan sementara untuk mengingat informasi ataupun memori.
ミ✧ Mengapa Lethologica Bisa Terjadi ❓
Lethologica sendiri bukan sebuah golongan penyakit. Namun lethologica adalah sebuah fenomena yang sudah pasti pernah dialami atau terjadi pada 90% orang yang ada di dunia.
Lethologica sendiri biasanya kebanyakan dialami oleh orang yang suka mempelajari atau memahami banyak bahasa asing atau bilingual. Dalam otak terjadi sebuah proses kerja yaitu lexical retrieval, proses mengubah makna atau arti menjadi sebuah kata. Dan orang yang bilingual pasti memiliki bahasa-bahasa dan istilah yang cukup banyak, membuat memorinya menerima banyak kata asing sehingga proses lexical retrieval pada otaknya sedikit terhambat. Lexical retrieval sendiri terhambat karena sporadis. Akibatnya, orang itu akan mengingat sesuatu, tetapi tidak benar-benar mengingat apa yang ia rasa ingat.
Ini mengapa terkadang orang yang mengalami lethologica akan berpikir keras dan berusaha mengingat apa yang ia rasa bahwa ia mengetahuinya
Fenomena lethologica sendiri durasinya sulit di tebak. Bisa beberapa detik, menit, atau jam. Intinya, fenomena ini diprediksi hanya terjadi sebentar dan tidak berlarut-larut terlalu lama. Dan juga bisa terulang di kemudian hari, tidak hanya sekali seumur hidup. Lethologica bisa di rasakan pada semua golongan manusia. Muda atau pun tua tidak menjadi penghambat faktor seseorang untuk merasakan lethologica.
ミ✧ Kiat Mengatasi Lethologica ❞
Untuk pencegahan atau menghindari terjadinya lethologica itu sendiri pun tidak ada cara khusus, karena lethologica itu sendiri bukan sebuah penyakit atau virus yang bisa di cegah atau di hindari. Terjadinya lethologica bahkan kita tidak ketahui atau prediksi kapan kita akan mengalaminya.
Berikut ini beberapa kiat yang bisa dicoba untuk mengatasi lethologica, antara lain:
1. Membaca buku
╰⌲Membaca buku enggak hanya untuk mengisi waktu luang. Namun, juga bisa meningkatkan kosakata baru.
2. Banyak bertanya
╰⌲Dengan mengajukan pertanyaan dapat memperkuat informasi tertentu. Memiliki beragam pengetahuan dapat membantu mengatasi lethologica.
3. Meluangkan waktu di depan komputer
╰⌲Internet bisa membantu menemukan kata-kata yang jarang digunakan dalam keseharian. Semakin banyak kosakata yang dimiliki makan semakin kecil kemungkinan terkena lethologica.
4. Pola Tidur
╰⌲Pikiran yang jernih bisa diperoleh dengan tidur yang cukup. Badan akan segar dan perasaan akan lebih optimis. Sehingga membantu berpikir dengan baik ketikan tekanan yang memicu lethologica muncul.
Fenomena lethologica itu sendiri tidak berbahaya. Setelah fenomena ini terjadi, kamu akan bisa mengingat apa yang kamu ingat kembali. So, tidak perlu khawatir, ya sobat DuPi. Semoga bermanfaat.
Penulis : Ayasa Coz
Sumber :
▪︎hellosehat.com
▪︎Agorascientia.web.id
_______________________________
Sabtu, Januari 15, 2022
Bunda, Maaf ... Aku Gagal dalam Ujian
Sabtu, Januari 08, 2022
Kamu Harus Menjadi Juara Kelas!
Jumat, Januari 07, 2022
Semua Itu Hanya Ada dalam Pikiran
Halo sahabat DuPi di belahan bumi mana pun. Apa kabar ?
Ketemu lagi dengan Dunia Psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara.
Bagaimana dengan awal tahun 2022? Apa yang masih sabahat DuPi perjuangkan di tahun lalu, tetapi belum terwujud? Semoga di tahun ini semua keinginan dan kebahagiaan akan bisa di raih ya, guys. Aamiin.
Walaupun dirasa berat, sahabat DuPi harus percaya bahwa terkadang untuk bermimpi pun dibutuhkan sebuah keberanian. Iya, keberanian untuk mewujudkannya. Apa yang kita pikirkan bisa terealisasi, jika kita tekun, meyakini pertolongan Tuhan dan sabar dalam meraih impian tersebut.
Ada semacam kekuatan dalam pikiran. Tidak pernah ada kata terlambat untuk "mengendalikan pikiran" dan menyadarkan kita akan pengaruh terdalamnya terhadap kehidupan.
𝐃𝐚𝐲𝐚 𝐤𝐡𝐚𝐲𝐚𝐥𝐦𝐮 𝐛𝐚𝐧𝐲𝐚𝐤 𝐦𝐞𝐦𝐩𝐞𝐧𝐠𝐚𝐫𝐮𝐡𝐢 𝐤𝐞𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩𝐚𝐧𝐦𝐮. 𝐃𝐚𝐲𝐚 𝐤𝐡𝐚𝐲𝐚𝐥 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐠𝐚𝐦𝐛𝐚𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐜𝐚𝐧𝐭𝐢𝐤𝐚𝐧, 𝐤𝐞𝐬𝐮𝐤𝐬𝐞𝐬𝐚𝐧, 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐛𝐞𝐫𝐡𝐚𝐬𝐢𝐥𝐚𝐧𝐦𝐮. 𝐍𝐚𝐦𝐮𝐧 𝐝𝐢 𝐥𝐚𝐢𝐧 𝐩𝐢𝐡𝐚𝐤 𝐝𝐚𝐲𝐚 𝐤𝐡𝐚𝐲𝐚𝐥 𝐣𝐮𝐠𝐚 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐚𝐭𝐦𝐮 𝐭𝐞𝐫𝐟𝐨𝐤𝐮𝐬 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐤𝐞𝐛𝐮𝐫𝐮𝐤𝐚𝐧, 𝐤𝐞𝐬𝐮𝐥𝐢𝐭𝐚𝐧, 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐠𝐚𝐠𝐚𝐥𝐚𝐧. 𝐊𝐚𝐦𝐮𝐥𝐚𝐡 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐦𝐞𝐦𝐮𝐭𝐮𝐬𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐚𝐠𝐚𝐢𝐦𝐚𝐧𝐚 𝐚𝐠𝐚𝐫 𝐝𝐚𝐲𝐚 𝐤𝐡𝐚𝐲𝐚𝐭 𝐭𝐞𝐫𝐬𝐞𝐛𝐮𝐭 𝐝𝐚𝐩𝐚𝐭 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐭𝐮𝐦𝐮. — 𝐏𝐡𝐢𝐥𝐢𝐩 𝐂𝐨𝐧𝐥𝐞𝐲
Akan tetapi pikiran membutuhkan semua perhatian dan dukungan untuk memastikan bahwa kita telah menjalani kehidupan yang memuaskan dan bermanfaat. Pikiran merupakan pengatur bagi keadaan kita saat ini dan bagaimana kita seharusnya, juga menjadi apa kita nantinya. Pikiran bisa menentukan kebahagiaan ataupun kesengsaraan kita. Ia juga dapat menyerang keberuntungan atau kemalangan kita, bergantung pada apa yang kita terapkan di dalamnya.
Pernahkah kamu "Memulai hari dengan langkah kaki yang salah?" atau kamu pernah mendengar sebuah komentar seperti, "Dia pasti bangun tidur pagi ini di sisi tempat tidur yang salah."
Pertama-tama, apakah ada langkah yang salah ataupun sisi tempat tidur yang salah?
Semua itu hanya ada dalam pikiran!
Ralph Waldo Emerson menulis, "Pelopor setiap tindakan adalah pikiran. Di balik semua yang kita lakukan pikiran kita lah yang mendorong kita untuk bertindak. Ini sederhana, tetapi mendalam. Semua penemuan yang diciptakan manusia tumbuh karena sebuah pikiran, sebuah ide."
Contohnya penerbangan, adalah sesuatu yang kita nikmati sekarang, tetapi itu semua tidak akan terjadi apabila Wright Brother tidak diilhami oleh pikiran akan terbang.
Pikiran menjadi kenyataan.
𝐊𝐢𝐭𝐚 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐛𝐚𝐡𝐚𝐠𝐢𝐚 𝐚𝐭𝐚𝐮𝐩𝐮𝐧 𝐬𝐞𝐝𝐢𝐡, 𝐩𝐫𝐨𝐝𝐮𝐤𝐭𝐢𝐟 𝐚𝐭𝐚𝐮𝐩𝐮𝐧 𝐯𝐞𝐠𝐞𝐭𝐚𝐭𝐢𝐟. 𝐘𝐚𝐧𝐠 𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐤𝐢𝐭𝐚 𝐥𝐚𝐤𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐛𝐞𝐫𝐩𝐢𝐤𝐢𝐫 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐩𝐢𝐤𝐢𝐫𝐚𝐧 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫.
Salam penuh cinta, Dunia Psikologi.
Penulis : Ayasa Coz
Sumber:
- Johnny Ong
- Manajemen Pikiran.
Mengenal Kepribadian Ekstrovert
Halo Sabahat DuPi di mana pun berada, apa kabar? Kembali lagi dengan Dunia psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara. Minggu lalu...
-
Apakah Self-Talk Berbahaya? Halo sobat DuPi! Bagaimana kabarnya? Semoga dalam keadaan yang baik serta sehat selalu ya. Kembali lagi dengan ...
-
Art Therapy Dapat Mengurangi Stress? Halo sobat DuPi! Bagaimana kabarnya? Semoga dalam keadaan yang baik serta sehat selalu ya. Baik, d...
-
Halo sahabat Dupi, apa kabar? Ketemu lagi dengan Dunia Psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara. Sahabat DuPi pernah mendengar ...