Halo sahabat DuPi di mana pun kamu berada. Apa kabar ? Kembali lagi dengan Dunia Psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara.
🎃Kamu pernah merasa cemas campur sedih memikirkan akan nasib Bangsa ini kelak jika negara Indonesia terjadi perang ke depannya?
🎃 Atau kamu pernah merasa sedih dan cemas akan hari tua, di mana kamu akan tinggal dan bagaimana hidup anak cucumu, padahal saat ini kamu masih remaja dan jomblo , eh ....
Kesedihan akan ketakutan yang tidak beralasan ini ya memang pernah dirasakan oleh kita. Kita mencemaskan hal-hal akan masa depan yang tidak kita ketahui, dan emosi ini sering dikatakan sebagai ellipsism.
Nah sebelum itu ada baiknya kita mengetahui apa pengertian emosi ini.
Ellipsisme: ▶️(n) Kesedihan yang muncul akibat kamu tidak bisa mengetahui bagaimana suatu momen (terutama yang buruk) akan berubah.
Elipsism diartikan sebagai rasa sedih yang muncul ketika seseorang memikirkan masa depan walaupun hal tersebut belum tentu akan terjadi nantinya.
Dalam skenario kehidupan, kesedihan itu sangat pribadi. Penderita ellipsism akan merasa tersiksa karena memusingkan hal yang belum tentu terjadi dan tidak tahu dasarnya darimana. Jika terus-terusan menderita ellipsism, kemungkinan seseorang akan merasakan stres dan menghabiskan sebagain waktunya untuk hal yang sia-sia.
⎙ Faktor Penyebab
Kasus ini terdengar mirip dengan overthinking. Kita menjadi sedih ketika memikirkan masa depan yang belum jelas. Menurut Danielle Syslo yang merupakan seorang therapist, umumnya dua penyebab utama dari kasus tersebut adalah faktor stres dan kecemasan, terlebih kita memiliki lebih banyak waktu sendiri. Kecemasan merupakan respons terhadap ketakutan-ketakutan akan dan apa yang mungkin terjadi. Sebenarnya, dengan adanya rasa cemas kita bisa memiliki rasa waspada terhadap bahaya yang mengancam kelangsungan hidup kita. Namun, jika tingkat kecemasan tersebut berlebih pastinya akan menimbulkan dampak negatif juga untuk diri kita.
Selain itu, trauma juga bisa menjadi penyebabnya. Trauma seperti pelecehan atau penelantaran saat masa kanak-kanak oleh orangtua bisa mengubah perkembangan otak menjadi terjebak dalam keadaan kewaspadaan tinggi yang konstan. Respon flight-fight-or-freeze dalam otak kita tetap hidup. Kita memiliki tingkat waspada yang tinggi dan terus memindai segala kemungkinan bahaya baik nyata maupun yang dirasakan. Dalam kasus ini, kita mungkin mengalami pikiran obsesif atau mengganggu.
⎙ Apa yang Harus Dilakukan Jika Merasakan Emosi ini❓
Seseorang yang mengalami ellipsism mungkin bukan penderitaan abadi. Ada kemungkinan, betapa pun tipisnya, bahwa kita bisa bersama-sama menghentikan keputusasaan yang tidak produktif ini. Elipsisme hanyalah produk dari pola pikir tertentu, dan pola pikir ini hanyalah salah satu dari banyak yang dapat kita pilih untuk diri kita sendiri. Pada dasarnya, persepsi waktu yang menyimpanglah yang menyebabkan perasaan menakutkan ini. Dan, jika kita mengubah persepsi kita tentang waktu, kita dapat secara efektif menghilangkan elipsisme dan kesengsaraannya yang luar biasa.
Kita sebagai manusia hanya bisa menerka takdir Tuhan yang sudah digariskan. Maka dari itu, bila hal yang kita ekspektasikan tidak akan sesuai dengan realitanya, kita akan merasa sedih. Setiap orang harus menyadari bahwa rasa sedih ini bisa muncul karena kurangnya sikap tawakkal dan istiqomah yang kita miliki. Karena pada hakikatnya Tuhan sudah mengetahui apa yang terbaik bagi kita, tinggal usaha kita dalam mewujudkannya yang harus maksimal.
Kebiasaan overthinking harus dikurangi, karena belum tentu hal-hal yang kita pikirkan akan sepenuhnya terjadi. Hendaknya kita lebih mendekatkan diri kepada Tuhan yang telah mengatur alam semesta ini.
Seperti sebuah pernyataan, “Kamu bisa tenang naik pesawat tanpa mengenal pilotnya, lalu kenapa selalu resah menjalani hidup, padahal kamu tahu Tuhan yang mengatur segalanya.”
Semoga bermanfaat. Salam penuh cinta, Dunia Psikologi.
Penulis : Ayasa Coz
Sumber :
▪︎owlcation.com
▪︎Psike.id
_______________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar