Sabtu, Juni 25, 2022

Pentingnya Self-Talk

Apakah Self-Talk Berbahaya?

Halo sobat DuPi! Bagaimana kabarnya? Semoga dalam keadaan yang baik serta sehat selalu ya. Kembali lagi dengan Dunia psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara. Baik, disini saya akan menjelaskan mengenai self-talk.

Sobat semua apakah pernah melakukan self-talk? Atau malah memendam semuanya? Alangkah baiknya, perasaan serta pikiran tersebut diluapkan ya sobat. Apakah kamu pernah mengajak berbicara sendiri dengan diri kamu? Seperti berbagi pikiran, pendapat serta pertanyaan. Lantas apakah hal tersebut baik bagi kesehatan?

Berbicara sendiri, sehat atau gangguan jiwa? Pernahkah kamu berbicara dengan diri sendiri? Mungkin banyak orang berpikir bicara sendiri atau self-talk terkait erat dengan gangguan jiwa seperti skizofrenia atau semacamnya. Akibatnya, banyak orang merasa tidak nyaman berbicara dengan diri sendiri. Padahal, hal tersebut tak sepenuhnya benar.

James McConnell, seorang ahli biologi dan ahli psikologi hewan Amerika, mengatakan bahwa berbicara sendiri sebenarnya sehat secara psikologis. Hal serupa juga diungkapkan oleh Jill Bolte Taylor, seorang ahli saraf. Begitu banyak manfaat ketika seseorang berbicara dengan dirinya, selain sebagai proses memahami dirinya. Hal tersebut dapat membantu juga untuk menghilangkan rasa stress.

Dikutip dari laman Healthlineself-talk adalah dialog atau percakapan internal pada diri sendiri yang dipengaruhi oleh pikiran bawah sadar dengan mengungkapkan pikiran, pertanyaan, serta gagasan, yang diucapkan dalam hati atau disuarakan secara lantang sehingga menjadi sugesti bagi diri sendiri. Dapat dikatakan juga self-talk adalah suatu keadaan ketika seseorang sedang bermonolog dan hal ini membantu diri sendiri menjadi lebih sadar dalam berpikir, merasa, dan bertindak.

Jenis self-talk itu ada apa aja?

Dilansir dari Tirto.id, self-talk terdapat dua jenis yaitu self-talk negatif dan positif. Dalam hal negatif, self-talk cenderung kepada pikiran yang bersifat pesimistis, tidak percaya diri, dan mudah menyerah. Jika terjadi secara berkelanjutan, tentunya dapat mempengaruhi pola pikir dan berakibatkan overthinking. Namun, enggak usah khawatir sebab hal tersebut dapat dihentikan dengan pikiran optimistis, yang disebut sebagai self-talk positif. Hmmm, mengapa demikian, ya?

Diperoleh dari Kompasiana, menurut Robert S. Weinberg, psikolog dari Miami University, seseorang yang memilki self-talk positif tidak akan mudah putus asa, melainkan akan terus berusaha mencapai tujuan dengan menjadikan kegagalan atau kesalahan sebagai pelajaran. Dengan kata lain self-talk positif dapat membangun kepercayaan diri seseorang dan membuat perasaan seseorang merasa lebih baik.

Lantas apa sih manfaat dari self-talk positif?

Menukil dari Tirto.id, dalam sebuah studi yang dihimpun dalam Journal of Personality and Social Psychologyself-talk positif memiliki lima manfaat di antaranya: membantu berdamai dengan situasi yang tidak bisa dikontrol, membantu meredakan stress,  meningkatkan perfomansi diri, menjadi pribadi yang senantiasa beraura positif, serta membantu diri melakukan self-reflection. Wah, keren banget kan.

Selain itu, dengan melakukan self-talk positif, situasi yang ditakutkan akan mudah dilewati. Self-talk positif dapat membantu mencari solusi dengan kepala dingin, juga memberikan efek yang membuat pikiran lebih sehat dan fokus terhadap suatu hal. Penting untuk diingat, sesuatu yang positif akan membuahkan hasil yang positif pula. Namun perlu diingat, bahwa berpikiran selalu positif dapat mengakibatkan toxic positivity yang membuat kamu sulit untuk merasa terbuka atas perasaan yang kamu alami.

Cara mengatasi negatif self-talk dengan mudah. Berikut beberapa strategi cara mengatasi negatif self-talk yang perlu kamu coba:

Sadari ketika sedang mengkritik: hal pertama yang perlu dilakukan adalah menyadari bahwa kamu sedang mengkritik diri sendiri dengan pikiran negatif. Ketika sudah menyadari, berarti kamu memahami bahwa itu tidak baik dan perlu dihentikan. Kritik negatif tersebut tidak selayaknya dikatakan pada diri sendiri, seperti ketika kamu tidak boleh mengatakannya pada orang lain. Walaupun begitu, self-talk sendiri dapat dihentikan jika sudah hal tersebut sudah terasa tidak nyaman.

Ubah menjadi netralitas: ubah pikiran negatif menjadi pikiran yang lebih netral. Misalnya:

"Saya tidak tahan ini" ubahlah menjadi, "Ini menantang."

"Saya benci ..." ubahlah menjadi, "Saya tidak suka ..."

Dengan menggunakan bahasa yang lebih lembut, perlahan pikiran negatif akan tenang dengan lebih mudah.

Selalu bertanya: bertanyalah kepada diri sendiri, seberapa benar pikiran negatif yang sedang dipikirkan. Apakah benar, atau justru kamu hanya berpikir berlebihan. Sebagian besar pikiran negatif memang selalu dilebih-lebihkan, hingga jauh dari realitas. Hal ini juga dapat menimbulkan overthinking yang padahal tersebut belum tentu terjadi.

Ubah perspektif: terkadang melihat sesuatu dalam jangka panjang dapat membantu kamu menyadari bahwa kamu sudah terlalu menekankan sesuatu. Ubah perspektif kamu dengan mendalami dan melihat masalah kamu dari jarak yang sangat jauh. Kamu perlu keluar dari dalam pikiran dan memandang masalah sebagai objek yang netral. Perlu sekali untuk kamu memahami sesuatu dari berbagai sudut pandang lain, selain untuk meringankan beban pikiran. Hal ini dapat membantu kamu untuk menemukan jawaban serta solusi atas masalah yang sedang kamu hadapi.

Ganti menjadi hal yang lebih baik: cara mengatasi negatif self-talk juga bisa dengan mengganti pikiran negatif dengan hal yang lebih baik. Kamu bisa melihat sisi positif dari masalah yang terjadi untuk mengalahkan pikiran negatif yang sedang terjadi. Hal ini dapat membuat perasaan dan pikiran menjadi lebih tenang.



Referensi :

Walter, N., Nikoleizig, L., & Alfermann, D. (2019). Effects of Self-Talk Training on Competitive Anxiety, Self-Efficacy, Volitional Skills, and Performance: An Intervention Study with Junior Sub-Elite Athletes. Sports (Basel, Switzerland). 7(6), pp. 148.

Jantz, G. Psychology Today (2016). The Power of Positive Self-Talk. Psychology Today. Self-Talk.

Health Direct (2019). Self-Talk.

Holland, K. Healthline (2020). Positive Self-Talk: How Talking to Yourself Is a Good Thing.

Tidak ada komentar:

Mengenal Kepribadian Ekstrovert

Halo Sabahat DuPi di mana pun berada, apa kabar? Kembali lagi dengan Dunia psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara. Minggu lalu...