Apa kabar sobat? Semoga dalam keadaan fine, ya. Ngomong-ngomong ada yang penasaran tidak nih mengenai ilmu ghaib? Aku sih penasaran, pernah berfikir tidak, mengapa orang yang agamis cenderung tidak realistis? Dan mengapa mereka mempercayai hal-hal yang ghaib? Yang takmampu dijelaskan oleh pengetahuan. Dan mereka terlihat lebih menikmati hidup ... seolah semua baik-baik saja. Dan yakin dengan apa yang diyakini.
Kita bahas sedikit, ya sobat. Biar cara berpikir kita nanti tidak bengkok. Lurus mulus seperti jalan tol.
Dikutip dari E-Journal UNDIP, ilmu ghaib yang berbau mistis secara khusus mengkaji hubungan manusia dengan yang Transenden. Psikologi berpartisipasi dalam hal ini melalui kemunculan psikologi transpersonal.
Dalam bab tersebut, mistisisme menjadi salah satu tema sentral. Bila perhatian difokuskan pada mistisisme, maka psikologi akan berkembang menjadi psychologia mystica(psikologi mistis).
Itu artinya psikologi mistis hanya sebagian atau salah satu dari psikologi transpersonal. Jika diulik mengenai psikologi transpersonal, maka sudah dipastikan butuh beribu-ribu lembar kertas untuk menjelaskannya.
Dalam perspektif awam, mistis umumnya diasosiasikan dengan klenik, sihir, atau gaib. Pemaknaan seperti ini sudah menjamur tidak hanya dalam masyarakat, tetapi juga di kalangan akademisi.
Sobat, mistisme sulit dimengerti jika kita hanya mengandalkan literatur tanpa masuk sendiri dalam dunia mistis itu sendiri. Tanpa mengalami gejolak batin, pikiran, roh, dan tubuh.
Adakah dari sobat DuPi yang mendapati hal-hal ghaib atau mistis? Sebenarnya mengapa bisa seperti itu? Pengalaman mistis sendiri bisa dicirikan sebagi berikut:
▪︎ Orang yang mengalami pengalaman mistis akan mengungkapkan bahwa pengalaman itu tidak bisa diekspresikan. Kata-kata tidak cukup untuk menampung isi pengalaman itu. Pengalaman ini harus dialami langsung. Ia tidak bisa diberikan atau dialihkan kepada orang lain. Pengalaman ini lebih banyak melibatkan perasaan.
▪︎ Perasaan tidak dapat dijelaskan pada orang lain yang belum pernah mengalaminya. Seperti halnya orang bisa menilai alunan musik bila ia memiliki telinga yang peka untuk menilai.
▪︎ Meski pengalaman mistis lebih banyak melibatkan perasaan, pengalaman ini juga sebenarnya melibatkan pengetahuan orang yang mengalaminya. Pengetahaun di sini bukanlah pengetahuan rasional, tapi pemahaman langsung akan sesuatu di luar penalaran atau hukum-hukum logis. Inilah yang umum disebut iluminasi, pewahyuan, perasaan bermakna dan bernilai.
Pengalaman mistis berlangsung singkat. Dalam beberapa kasus yang sangat jarang terjadi, pengalaman ini berlangsung selama setengah jam atau paling lama satu atau dua jam. Ketika pengalaman itu berakhir, kualitasnya tidak bisa ditangkap penuh oleh ingatan.
Kehendak sadar bisa menjadi alat bantu dalam mencapai pengalaman mistis. Sebagai contoh, seseorang dengan sadar bisa berkonsentrasi pada objek tertentu atau menjaga sikap tubuh tertentu seperti dalam berdoa atau bermeditasi.
Meski demikian, ketika pengalaman mistis terjadi, mistikus merasa seolah-olah kehendak sadarnya melayang-layang, kadang-kadang terasa seperti direnggut dan dipegang oleh kekuatan yang lebih tinggi. Kondisi yang aneh ini membuat pengalaman mistis kadang-kadang dihubungkan dengan fenomena-fenomena yang dianggap abnormal atau paranormal seperti ucapan profetis (ramalan), penulisan otomatis (automatic writing), atau trans mediumistis (kemampuan berkomunikasi dengan roh di saat trans).
Ketika pengalaman akan fenomena paranormal itu berakhir dan orang yang mengalaminya kembali “sadar”, maka ia mungkin tidak mengingat apa yang sudah terjadi. Dengan kata lain, pengalaman paranormal hanya interupsi dalam pengalaman mistis. Pengalaman mistis jauh lebih luas daripada ini. Sulit sekali memilah pengalaman mistis secara jelas. Beberapa kejadian dalam pengalaman ini masih bisa diingat dan memiliki dampak yang besar bagi perubahan kualitas hidup.
So, sobat DuPi dah tahu sedikit mengenai ilmu ghaib atau alam ghaib atau juga hal-hal mistis. Hal itu tidak lain dan tidak bukan hanya bisa dirasakan oleh masing-masing individu, dan tidak bisa ditransfer oleh pengetahuan biasa. Karena melibatkan gejolak hati, roh, jiwa, dan tubuh seseorang.
Penyunting: Awal
Sumber : YF La Kajiha. 2009. Menuju Psikologi Mistis. Jurnal Psikologi Undip, Vol. 5. No. 2, Desember 2009. Hlm. 148-176.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar