Halo sahabat DuPi di mana pun kamu berada, apa kabar ? Kembali lagi dengan Dunia Psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara.
Sahabat DuPi pernah tidak merasa iri melihat kawan kita yang nyantai-nyantai saja belajarnya, tetapi nilainya bagus terus? sedangkan kita yang sudah berjuang malah tidak sebagus dia. Kasus lainnya, ada juga kita lihat teman yang biasa saja parasnya, tetapi dia malah dapat jodoh terlebih dahulu daripada kita. Begitulah hidup, kadang ada juga yang merasa iri dengan keberhasilan kita sehingga berusaha menjatuhkan kita. Huff ....
Kesuksesan orang lain seharusnya bisa menjadi cambuk untuk terus meningkatkan kualitas diri. Melihat orang lain sukses, patut rasanya menjadi motivasi untuk diri sendiri. Namun ternyata, banyak orang yang menganggap kesuksesan orang lain adalah hambatan.
Nah sahabat DuPi, ternyata kalau tidak suka melihat keberhasilan yang dicapai oleh teman atau kolega ternyata bisa masuk sebagai sindrom psikologis, loh.
⎙ 𝑨𝒑𝒂 𝒊𝒕𝒖 𝑪𝒓𝒂𝒃 𝑴𝒆𝒏𝒕𝒂𝒍𝒊𝒕𝒚 ❓
Crab Mentality merupakan sebuah fenomena psikologis yang membuat diri kita tidak suka dengan pencapaian orang lain.
Diambil dari wikipedia, Crab Mentality dikenal sebagai teori kepiting, mentalitas kepiting dalam ember, atau efek kepiting-ember, adalah cara berpikir yang dijelaskan dengan ungkapan "Jika saya tidak dapat memilikinya, kamu juga tidak dapat."
Dibanding bertahan hidup atau melarikan diri dari kelompoknya, kepiting memilih untuk mati bersama. Perilaku ini adalah analogi dari pola pikir egois dan iri terhadap kesuksesan orang lain yang disebut sebagai Crab Mentality atau mentalitas kepiting.
Tidak jarang, Crab Mentality muncul dengan : tindakan mengkritik tanpa memberi solusi. Selain itu, sikap dan perkataan yang bersifat meremehkan dan memanipulasi.
⎙𝐀𝐩𝐚 𝐇𝐮𝐛𝐮𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐆𝐚𝐲𝐚 𝐇𝐢𝐝𝐮𝐩 𝐊𝐞𝐩𝐢𝐭𝐢𝐧𝐠 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐌𝐞𝐧𝐭𝐚𝐥 𝐌𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚❓
Manusia merupakan mamalia, yang secara alamiah memang bertahan hidup dengan cara berlindung di dalam kelompok. Secara alamiah, otak manusia akan memproduksi serotonin (perasaan nyaman) ketika merasa memiliki kontrol dan kuasa. Sementara itu, hormon kortisol (perasaan terancam) akan diproduksi ketika seseorang berada dalam posisi lemah. Hidup dalam komunitas sosial membuat manusia terus menerus berkompetisi untuk memperoleh kebutuhan dasar.
Sebagai mamalia modern, manusia menaruh perhatian besar pada status sosialnya. Manusia berusaha mempertahankan perasaan nyamannya sebagai bagian dari sifat alami untuk bertahan hidup. Dalam konteks ini, Crab Mentality muncul dari perasaan rekan yang merasa stagnan dengan perkembangan dirinya sementara orang lain mengalami perkembangan lebih pesat. Perasaan ini kemudian merangsang hormon kortisol dan membuat keputusan-keputusan yang diambil menjadi tak jernih.
Dalam kehidupan nyata, perilaku yang mirip seperti ini sangat mungkin ditemui di sekitar kita. Bisa jadi teman, rekan kerja, atau keluarga dekat yang secara sengaja maupun tidak sedang menghalang-halangi usahamu. Mereka yang memiliki Crab Mentality akan kurang memberi dukungan atau apresiasi terhadap apa yang tengah kamu kerjakan karena mereka memiliki Crab Mentality atau sikap iri denganmu.
⎙ 𝐂𝐚𝐫𝐚 𝐌𝐞𝐧𝐠𝐡𝐚𝐝𝐚𝐩𝐢 𝐌𝐞𝐧𝐭𝐚𝐥 𝐤𝐞𝐩𝐢𝐭𝐢𝐧𝐠 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐂𝐫𝐚𝐛 𝐌𝐞𝐧𝐭𝐚𝐥𝐢𝐭𝐲
Bila kamu merasa diperlakukan dengan sikap yang menghalangi perkembangan, atau mulai merasa terganggu dengan perkembangan orang lain, Loretta Graziano Breuning, profesor di California State University East Bay dalam Psychology Today menyarankan cara-cara berikut untuk menghadapi mental kepiting:
🍁𝟏. 𝐊𝐨𝐧𝐬𝐢𝐬𝐭𝐞𝐧
╰⌲Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk melawan Crab Mentality adalah konsisten dengan pilihan yang diambil. Bila orang lain yang memberikan tanggapan negatif atas apa yang kamu lakukan, jangan berhenti melakukan apa yang menurutmu benar atau penting.
🍁𝟐. 𝐌𝐞𝐧𝐚𝐦𝐛𝐚𝐡 𝐧𝐢𝐥𝐚𝐢 𝐝𝐢𝐫𝐢
╰⌲Menambah keahlian-keahlian baru dapat membantu kamu meningkatkan kepercayaan diri. Dengan memiliki keahlian-keahlian baru, kemungkinan kamu untuk dijatuhkan akan lebih kecil ketimbang menjadi orang dengan kemampuan rata-rata. Selain itu, nilai diri yang bertambah juga membuatmu tidak perlu merasa berkecil hati hingga mencegah orang lain untuk berkembang.
🍁𝟑. 𝐉𝐚𝐝𝐢𝐥𝐚𝐡 𝐦𝐨𝐝𝐞𝐥 𝐛𝐚𝐠𝐢 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐥𝐚𝐢𝐧
╰⌲Mengetahui maksud dari setiap perilakumu akan membuat kamu semakin sulit dijatuhkan. Sikap-sikap positif yang kamu adopsi dan tunjukkan bisa saja menginspirasi orang lain. Dengan menjadi role model, orang akan cenderung tidak menjatuhkanmu dan membuatmu merasa takperlu memiliki mental kepiting.
🍁𝟒. 𝐓𝐞𝐭𝐚𝐩 𝐛𝐞𝐫𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐚𝐩𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐚𝐦𝐮 𝐤𝐞𝐫𝐣𝐚𝐤𝐚𝐧
╰⌲Bila kamu tertarik dengan sesuatu dan bersemangat melakukannya, maka lakukan dengan gigih. Terlalu sering mengganti jalan yang kamu ambil menjadikanmu rawan untuk dijatuhkan. Lakukan sesuatu dengan sepenuh hati dan terima segala tantangannya dengan fokus hingga kamu tidak punya waktu untuk mengkhawatirkan perkembangan orang lain.
🍁𝟓. 𝐓𝐞𝐭𝐚𝐩 𝐠𝐢𝐠𝐢𝐡, 𝐛𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐚𝐭 𝐠𝐚𝐠𝐚𝐥
╰⌲Mencapai suatu tujuan tidaklah luput dari kegagalan. Namun, jangan sampai kegagalan membuatmu menyerah dan menelan mentah-mentah komentar negatif orang lain yang justru bisa membuatmu semakin terpuruk. Ingatlah bahwa dalam setiap kegagalan selalu ada pelajaran yang dapat diambil. Jadi, cobalah untuk mengevaluasi diri atas kegagalan yang kamu alami. Dengan begitu, rasa percaya dirimu akan bangkit kembali dan kamu semakin bersemangat untuk meraih kesuksesan.
Manusia hidup dalam komunitas dan tidak bisa dilepaskan dari konteks sosialnya. Crab Mentality pada orang lain bisa berdampak besar pada dirimu, mulai dari menurunkan rasa percaya diri hingga menghambat kesuksesanmu. Meski begitu, perlu diingat, kamu tidak perlu kesal atau marah kepada orang yang memiliki Crab Mentality, karena itu hanya membuang-buang waktu dan energimu saja.
Lebih baik fokuskan perhatianmu untuk mencapai kesuksesan yang kamu impikan dan biarkan mereka dengan masalah mereka sendiri. Tetaplah berpegang teguh dengan pendirianmu dan terapkan cara bertahan dari orang-orang dengan sikap Crab Mentality.
Namun, bila kamu memang merasa perlakuan dari orang dengan Crab Mentality benar-benar menjatuhkanmu dan membuatmu ingin menyerah, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog, ya. Semoga bermanfaat.
Penulis : Ayasa Coz
Sumber :
▪︎alodokter.com
▪︎wikipedia
▪︎yoursay.id
____________________________________________
Tidak ada komentar:
Posting Komentar