Sabtu, Juni 18, 2022

Menghindari Self-love Berubah Jadi Toxic Positivity

Halo sobat DuPi! Bagaimana kabarnya? Semoga dalam keadaan baik serta sehat selalu ya. Baik, perkenalkan saya Kiki Zulaikha dari divisi Jurnalis Blog Writer. Dari pada berlama-lama, mari kita langsung saja menuju pembahasannya!


Sobat semua apakah pernah merasakan insecure? Ya, seperti materi sebelumnya yang saya bahas. Insecure ialah suatu keadaan seseorang yang memiliki rasa kepercayaan dirinya kurang dan ketidakmampuan dalam menghadapi suatu masalah. Dan salah satu cara melawan insecure itu sendiri ialah dengan mulai mencintai diri sendiri atau istilahnya ialah self love. Namun, apakah sobat tahu apa itu self love sebenarnya?


Dilansir dari laman Abrand Theraphy, menurut ahli therapist Abrand Brandt, self love bukan berarti kamu berpikir bahwa kamu adalah orang yang paling cerdas, paling berbakat, dan paling cantik di dunia. Sebaliknya, self love artinya ketika kamu tau cara mencintai diri sendiri, kamu akan menerima apa yang menjadi kelemahanmu, menghargai apa yang disebut kekuranganmu, ini sebagai sesuatu yang membuat kamu menjadi diri sendiri. 


Berbicara mengenai self love, pendekatan setiap orang boleh jadi berbeda dalam prosesnya. Dan bisa jadi ketika kamu dengan lantang mengkampanyekan ajakan untuk mencintai diri sendiri sepenuhnya malah terjerumus ke dalam toxic positivity


Melansir laman Psychology Today, frasa toxic positivity mengacu pada konsep tetap positif sebagai metode konstan dalam menjalani hidup. Dengan kata lain, kamu hanya fokus pada hal-hal positif dan menolak apa pun yang dapat memicu emosi negatif.


Meditation Instructor, Cindy Gozali, menyatakan, supaya tak mencampur adukkan self love dengan toxic positivity, kamu harus memastikan punya kesadaran diri tentang masalah yang dihadapi. Jadi bisa dikatakan, kamu harus mengetahui dan memahami betul bentuk dari kekurangan yang ada pada dirimu. Agar kita tidak menjadikannya sebagai bentuk pelarian atas tanggung jawab kita sendiri.


Artha Julie Nava, selaku Personal Branding Coach menjelaskan bahwa pikiran positif bakal menjelma jadi racun ketika seseorang mulai mengabaikan masalah. Yang harus digaris bawahi, punya pola pikir positif bukan berarti mengecilkan masalah atau bertindak seolah-olah tak ada masalah sama sekali.


Secara Tidak Sadar Terjebak dalam Toxic Positivity

Namun, tanpa disadari banyak orang yang tidak mengetahui batasan antara self love dengan toxic positivity. Dilansir dari laman Very Well Mind, frasa toxic positivity mempunyai arti keyakinan bahwa tidak peduli seberapa parah atau sulitnya suatu situasi, orang harus mempertahankan pola pikir positif.


Secara singkatnya, toxic positivity ini hanya fokus pada hal-hal positif yang dapat menenangkan pikiran diri sendiri dan menolak hal-hal yang memicu emosi negatif. Pikiran positif ini yang kemudian akan berubah menjadi racun ketika seseorang mulai mengabaikan masalah dan hidup seolah-olah tidak ada masalah.


Misalnya, ketika berat badan kamu mengalami kenaikkan yang drastis, lantas kamu sama sekali tidak melakukan sebuah usaha seperti berolahraga, memakan makanan yang sehat serta menjaga pola hidup. Justru kamu mengatakan kamu menerima dan mencintai dirimu yang seperti itu, padahal hal itu bisa saja membahayakan dirimu.


Kapan Sebenarnya Self Love Berubah Menjadi Toxic Positivity?

Seruan ‘love yourself’ yang salah kaprah dan ditelan mentah-mentah dapat berubah menjadi toxic positivity. Misalnya, menghabiskan banyak uang dengan tujuan berjalan-jalan ke tempat yang ingin didatangi dengan alasan healing karena stress. Mendukung kebiasaan buruk seperti tidak mengontrol asupan makanan atau menghabiskan banyak uang dengan dalih self reward, tidak berolahraga dan tidak merawat diri dengan dalih body positivity yang kemudian bersembunyi di balik kata self love. Semua itu adalah kesalahan yang kerap kali kita temukan seolah hal ini merupakan sesuatu yang wajar. Bahkan beberapa orang menjadikan sebuah istilah ‘seni’ ini sebagai ajang perlombaan.


Dampak Toxic Positivity


1. Toxic positivity bikin merasa malu dan tidak nyaman sama emosi sendiri

Memaksakan buat berpikir positif ketika lagi merasa sakit cenderung bisa membuat seseorang menderita dalam diam. Kita menyembunyikan perasaan kita yang sebenarnya karena takut dinilai negatif, lemah, atau tidak asyik. Kalo sudah kayak begitu, biasanya kita jadi malu dan merasa kurang nyaman kalau diminta buat jujur mengenai perasaan kita. Dan cenderung akan menutup diri dan bersikap seolah baik-baik saja.


2. Toxic positivity berarti menekan emosi yang sebenarnya dirasakan

Sebuah studi menemukan bahwa mengekspresikan emosi, bahkan yang negatif sekali pun, ternyata membantu kita untuk mengatur respon stress. Menekan emosi dengan bertindak seolah-olah tidak ada apa-apa malah meningkatkan kadar stres di dalam diri kita. Sebab itu, kita harus pintar dalam mengolah emosi, terutama perasaan negatif. Dengan menekannya, hal itu malah berdampak pada pola pikir dan perilaku, misalnya kamu merasakan sedih teramat dalam. Namun kamu sulit dalam melampiaskannya dan justru mensugesti untuk jangan menangis. Hal ini bisa berbahaya karena emosi negatif yang telah lama dipendam, bisa saja meledak sewaktu-waktu. Alangkah baiknya, kita menerima perasaan negatif tersebut.



3. Merasa terisolasi gara-gara toxic positivity

Bersikap seolah-olah selalu tangguh karena toxic positivity malah membuat kita seperti bukan manusia sewajarnya. Akhirnya, kita jadi tidak terkoneksi lagi dengan diri sendiri, dan orang lain pun jadi sulit juga untuk terkoneksi sama kita.

Padahal, kamu bisa minta bantuan kepada orang terdekat ketika lagi tidak baik-baik saja. Tapi, toxic positivity bikin kamu tidak bisa jujur bahwa sebenarnya kamu butuh pertolongan. Kalo sudah begitu, tidak heran kalau kamu mulai merasa terisolasi. Kamu akan merasa minder ketika merasa membutuhkan pertolongan dan semakin tidak mengenal sisi dari dirimu sendiri. Hal ini tentunya akan membebani dirimu.


Nah, seperti saya jelaskan bahwa toxic positivity bisa menjadi baik asal kita bisa membatasi hal yang memang perlu kita anggap positif atau tidak. Jangan merasa terbebani atas rasa bahwa semua hal akan menjadi lebih baik jika kita hanya memandang satu sisi saja. Jika kamu merasakan hal yang tidak nyaman atau berpikir bahwa selama ini kamu mengalami toxic positivity, saya sarankan untuk membicarakannya dengan tenaga ahli profesionalnya langsung. Akhir kata untuk membantu kamu memahami perbedaan self love dan toxic positivity. Terima kasih!



Referensi :

https://doi.org/10.1111%2Fj.1467-9280.2009.02370.x

•https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-man-cave/201908/toxic-positivity-dont-always-look-the-bright-side

• https://thepsychologygroup.com/toxic-positivity/

•https://www.medicalnewstoday.com/articles/toxic-positivity












Tidak ada komentar:

Mengenal Kepribadian Ekstrovert

Halo Sabahat DuPi di mana pun berada, apa kabar? Kembali lagi dengan Dunia psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara. Minggu lalu...