Selasa, Februari 08, 2022

OCPD (Obsessive Compulsive Personality Disorder ) atau Gangguan Kepribadian Anankastik.

Halo sahabat DuPi di mana pun kamu berada, apa kabar? Kembali lagi dengan dunia psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara.

Sahabat DuPi pernah dengar kalimat sindiran ini; "Kalau ada cara yang rumit kenapa memilih cara yang mudah?"

Ucapan yang kadang terlontar untuk orang yang terlalu kaku, terlalu mengikuti aturan dan detail sekali dalam melakukan sesuatu hal/kegiatan. Pokoknya tidak boleh ada satu urutan pun yang terlewatkan, karena orang ini tidak suka kalau ada hal-hal takterduga muncul, apalagi kalau hal itu tidak bisa mereka kontrol. Orang dengan karakter ini susah banget kalau disuruh santai, merasa kehabisan waktu untuk beraktivitas dan bekerja ekstra keras untuk mencapai sesuatu yang sebenarnya simple.

Kondisi karakter seperti ini dinamakan dengan gangguan kepribadian anankastik alias gangguan kepribadian obsesif komplusif (OCPD). 


ッDefinisi Obsessive Compulsive Personality Disorder (OCPD)

Gangguan kepribadian anankastik atau gangguan kepribadian obsesif kompulsif (Obsessive Compulsive Personality Disorder atau OCPD) merupakan kondisi di mana penderitanya memiliki kepribadian yang sangat perfeksionis dan terobsesi dengan kesempurnaan dalam semua aspek hidupnya. Sering kali, penderitanya merasa bahwa caranya melakukan sesuatu adalah yang paling benar meskipun bertentangan dengan cara orang lain.

Penderita OCPD memiliki pemikiran yang terpaku (preokupasi) pada keteraturan, kesempurnaan (perfeksionisme), kontrol mental dan kontrol hubungan dengan orang lain (interpersonal). 

Gangguan kepribadian anankastik atau gangguan kepribadian obsesif kompulsif (OCPD) terjadi pada 2-8% populasi umum, dengan mayoritas penderita gangguan ini adalah pria.


ッCiri-ciri Gangguan Kepribadian Anankastik atau Gangguan Kepribadian Obsesif Kompulsif (OCPD)

Terdapat beberapa kondisi yang menandakan seseorang menderita OCPD.  Orang tersebut menimal memiliki 4 atau lebih dari ciri-ciri di bawah ini, maka dapat dipastikan jika dirinya mengidap gangguan kepribadian anankastik, antara lain: 

✿ Pikiran terpaku pada detail kecil, peraturan, urutan, daftar, atau jadwal atau organisasi secara berlebihan.

✿ Merasa cara hidupnya adalah cara hidup yang paling bagus.

✿ Dedikasi berlebihan terhadap pekerjaan (selain alasan keuangan) sehingga hubungan dengan orang di sekitarnya terabaikan.

✿ Bersifat sangat keras kepala, sangat kaku dan tidak fleksibel terhadap nilai moral dan etik.

✿ Tidak dapat membuang barang yang sudah tidak terpakai atau terlalu sering merapikan dan membersihkan rumah.

✿ Tidak dapat mempercayakan pekerjaan kepada orang lain dan tidak dapat bekerja sama dengan orang lain, kecuali jika orang lain mengikuti standar dan cara kerja penderita.

✿ Pelit pada dirinya sendiri maupun orang lain

✿ Perfeksionisme dalam segala aspek kehidupan.

✿ Khawatir ketika dia atau orang lain melakukan kesalahan.

✿ Merasa kiamat ketika ada yang nggak sempurna. 

✿ Aslinya pekerja keras, tetapi karena terlalu perfeksionis, akhirnya kerjanya nggak selesai-selesai.

✿ Sering merasa terisolir dari kehidupan sosial.

✿ Merasa cemas yang berujung pada depresi.


ッFaktor-faktor Penyebab OCPD

Hal yang paling utama yang menyebabkan gangguan kepribadian obsesif kompulsif (OCPD) ada pada:

°•—Lingkungan di mana tempat penderita tinggal.

°•—Pola asuh orang tua dan keluarga akan sangat berperan dalam membentuk karakteristik kepribadian seperti ini.

Belum ada penjelasan lanjutan mengenai apakah faktor biologis juga berpengaruh pada gangguan kepribadian ini.


ッOCPD Berbeda dengan OCD

Sebelumnya kita sudah membahas tentang OCD. Walaupun namanya nyaris sama, tetapi ada perbedaan antara gangguan obsesif kompulsif (OCD) dengan gangguan kepribadian obsesif kompulsif (OCPD)

Sebagian penelitian memang menemukan banyak kesamaan antara kedua gangguan ini. Bahkan buat yang awam pun keliatan sama, apalagi perilaku mereka yang kaku.

Keinginan yang berlebih akan keteraturan dan susunan yang simetris juga keliatan di kedua gangguan ini.

🗣 Lantas apa bedanya OCD dengan kepribadian OCPD?

Bedanya terletak pada perasaan orang tersebut terhadap gangguan yang ia punya. Pada orang yang memiliki OCD, sebenarnya merasa dan sadar kalau perilaku mereka ini mengganggu dan nggak sehat. Namun, mereka nggak bisa melawan dorongan itu.

Jadi, orang dengan OCD sadar kalau perilaku mereka ini adalah hal yang tidak wajar, tetapi mereka nggak kuasa melawannya.

Berbeda dengan gangguan kepribadian obsesif kompulsif (OCPD). Pemilik gangguan kepribadian obsesif kompulsif (OCPD) merasa bahwa yang mereka lakukan ini adalah pilihan mereka sendiri. Artinya walaupun mereka akhirnya jadi susah hidup normal; tapi semua kegilaan pada detail,  keteraturan, dan suka memeriksa sesuatu berulang kali adalah pilihan mereka sendiri.

Orang dengan gangguan kepribadian obsesif kompulsif (OCPD) merasa bahwa perilaku mereka adalah pilihan mereka sendiri. Jadi mereka tidak menganggap itu sebagai gangguan.


ッPenanganan Gangguan Kepribadian Obsesif Kompulsif (OCPD) 

Pengobatan gangguan anankastik atau gangguan kepribadian obsesif kompulsif perlu dilakukan di bawah bimbingan dokter psikiater untuk meningkatkan kemampuan dalam mengendalikan emosi serta pikiran dengan lebih baik. Terapi yang dapat diberikan meliputi:

🏷️  Terapi perilaku kognitif yang bertujuan untuk mengubah cara berpikir dan perilaku ke arah yang positif, didasarkan dari teori bahwa perilaku seseorang merupakan wujud dari pikirannya

🏷️ Terapi psikodinamik yang bertujuan untuk mencari tahu dan membenahi segala bentuk penyimpangan yang telah ada sejak masa kanak-kanak, nantinya anda juga akan diajarkan cara menghadapi masalah terkait penyimpang tersebut secara mandiri.

🏷️ Terapi interpersonal didasarkan pada teori bahwa kesehatan mental sangat dipengaruhi oleh interaksi dengan orang lain, dimana jika interaksi tersebut bermasalah, maka gangguan kepribadian pun dapat terbentuk.

🏷️ Penggunaan obat-obatan jika memang diperlukan untuk mengatasi gejala cemas

🏷️ Perubahan gaya hidup sehat seperti rajin berolahraga, aktif dalam berbagai kegiatan agar dapat membantu mengelola emosi dan menjauhkan diri dari kecemasan.


Dikarenakan pengobatan utama dari gangguan kepribadian anankastik adalah dengan terapi oleh dokter psikiater secara berkala, maka sebaiknya kamu berkonsultasi dengan dokter psikiater untuk dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu pada kondisimu, sehingga penanganannya akan disesuaikan dengan hasil pemeriksaan tersebut.

Sementara ini, untuk mengurangi risiko gangguan kepribadian, kamu dapat lebih berpartisipasi aktif dalam pergaulan dan aktivitas yang disenangi, berbagi cerita dengan teman dan keluarga saat menghadapi masalah, berolahraga, makan teratur, dan mengelola stres dengan baik, tidur dan bangun tidur teratur pada waktu yang sama setiap hari, serta tidak mengonsumsi minuman beralkohol. Semoga bermanfaat. 


Penulis : Ayasa Coz 

Sumber:

▪︎alodokter.com

▪︎psikologihore.com

▪︎dosenpsikologi.com


_______________________________

Sabtu, Februari 05, 2022

OCD (Obsessive Complusive Disorder )

Halo sahabat DuPi di mana pun berada, apa kabar? Kembali lagi dengan dunia psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara

Apa yang ada di benak sahabat DuPi, ketika mendengar kata OCD atau Obsessive Compulsive Disorder? Apa kamu langsung berpikir tentang seseorang yang maniak kebersihan, atau seseorang yang sering mencuci tangan, atau seseorang yang selalu mengerjakan suatu aktivitas berulang-ulang? Sebenarnya, apa sih, OCD itu?


༉Yang Dirasakan Penderita OCD 🎭

Bayangkan ketika otakmu sedang memikirkan suatu hal tertentu. Hal tersebut terus berputar di pikiranmu, berulang-ulang. Sekeras apa pun usaha yang kamu lakukan  tetap tidak bisa menyingkirkannya meskipun ingin. Pikiran tersebut bagaikan air terjun yang senantiasa mengalir dan sulit dihentikan. Akibatnya, kamu pun mulai merasa cemas. Rasa cemas sendiri merupakan sebuah peringatan dari sistem otak bahwa kamu sedang berada dalam bahaya dan ini mendorongmu untuk melakukan sesuatu. Namun di sisi lain, kamu tahu persis bahwa hal yang kamu pikirkan itu bukanlah suatu ancaman. Akan tetapi, tetap saja, rasanya sulit untuk tidak mencemaskan hal itu.

“Eh tadi kompornya sudah dimatikan belum ya? Cek dulu deh.”

🍃 Lima menit kemudian ....

“Eh tadi kompornya sudah dimatikan belum ya? Duh kalau nggak diperiksa bisa meledak.”

🍃 Beberapa menit kemudian ....

“Eh tadi kompornya sudah dimatikan belum ya? Rasanya kok nggak nyaman?”

🍃 Beberapa menit selanjutnya ....

“Eh tadi kompornya sudah dimatikan belum ya? Kok kayaknya kurang ya?”

🍃 Dan berulang terus selama lebih dari satu jam. 

Itulah yang dirasakan atau isi pikiran penderita OCD dengan insight buruk yang terobsesi kepada kompornya di rumah. 

Apabila kamu menderita OCD, maka otakmu akan senantiasa 'berbohong'. Ia mengatakan bahwa ada bahaya yang mengancam, padahal tidak ada. Akibatnya, kamu akan mengalami rasa cemas yang tidak berujung.


 ༉Definisi Obsessive Complusive Disorder 🎭 

OCD (Obsessive Compulsive Disorder—Gangguan Obsesif Kompulsif) adalah gangguan mental yang membuat seseorang terjebak dalam suatu siklus pikiran dan perilaku yang berulang dan tak berujung. Dulu, OCD termasuk ke dalam gangguan kecemasan (anxiety disorder), tetapi  sekarang dianggap menjadi suatu penyakit dengan kekhususan tersendiri. 

Kondisi ini terdiri atas dua unsur utama, yaitu: gangguan pikiran (obsession) dan keharusan untuk melakukan sesuatu (compulsion). 

Gangguan pikiran (obsession) ialah suatu pemikiran, ingatan, imajinasi, atau keraguan tidak diundang yang selalu berada di dalam pikiran seseorang. Misalnya; seseorang berpikir bahwa ia selalu terkontaminasi oleh kotoran atau bakteri. Pemikiran tersebut akan benar-benar mengganggu pikirannya dan membuatnya menjadi sangat cemassehingga mungkin ia bisa mencuci tangannya terus menerus sampai lama atau mungkin mandi hingga tiga jam.

Sedangkan keharusan untuk melakukan sesuatu (compulsion) adalah aktivitas berulang yang dilakukan karena 'dirasa' memang harus dilakukan. Misalnya; seseorang berulang kali memastikan apakah pintu sudah terkunci atau belum? Ini merupakan respons untuk menghilangkan gangguan pikiran dan rasa cemas yang telah muncul sebelumnya. Akan tetapi, 'rasa lega' ini hanya muncul sesaat. Setelah itu gangguan pikiran dan rasa cemas akan kembali muncul dan mendorong penderita untuk mengerjakan kembali aktivitas yang telah dikerjakannya.

Sebenarnya kegiatan ini dilakukan untuk mencegah atau mengurangi rasa cemas dan stress, tetapi kegiatan ini tidak memiliki hubungan yang jelas dengan masalah yang ingin diatasi.

Hubungan yang tidak realistis antara kegiatan dan tujuan kegiatan tersebut membuatnya berlebihan atau excessive. Obsesi dan kompulsi ini memakan banyak waktu (seperti memakan lebih dari satu jam setiap harinya) atau mengakibatkan stress klinis, atau menghasilkan gangguan pada kehidupan sosial, pekerjaan, maupun fungsi sehari-hari lainnya.


༉Penyebab OCD 🎭 

Penyebab OCD masih belum diketahui secara pasti, tetapi para psikolog menduga jika OCD merupakan gangguan yang bersifat genetis. Hal-hal seperti genetik, biologi dan senyawa kimia di otak, serta lingkungan dapat mempengaruhi.

Dalam DSM-5 juga memiliki 3 pengelompokan OCD berdasarkan insight penderita gangguan OCD tersebut:

1. With good or fair insight: Individu sadar jika kepercayaan/pikiran OCD miliknya tidak nyata atau mungkin nyata dan mungkin tidak.

2. With poor insight: Individu berpikir jika kepercayaan OCD mungkin benar.

3. With absent insight/delusional belief: Individu sepenuhnya yakin jika kepercayaan OCD miliknya nyata.

Jenis obsesi dan kompulsi akan berbeda antara setiap Individu. Namun, terdapat beberapa tema/dimensi yang umum. Beberapa diantaranya seperti:

▪︎ Kebersihan: Obsesi terhadap kontaminasi dan kompulsinya membersihkan.

▪︎ Simetri: Obsesi terhadap simetri dan kompulsinya berupa menyusun dan menghitung berulang-ulang.

▪︎ Pikiran terlarang atau tabu: Obsesi terhadap pikiran yang agresif, seksual, maupun religius.

▪︎ Bahaya: Obsesi terhadap rasa takut akan melukai diri sendiri atau orang lain.

Para individu dengan OCD merasakan berbagai respon efektif ketika menemui situasi yang menimbulkan obsesi dan kompulsi mereka. Sebagai contoh, Individu OCD akan merasa jijik ketika melihat sesuatu yang tidak sesuai obsesinya (tidak bersih, tidak simetris, atau semacamnya). Saat Individu dengan OCD tersebut melakukan kompulsi, beberapa juga melaporkan rasa “incompleteness” atau ketidaknyamanan sampai semua terlihat dan terasa “benar.”

Jadi sahabat DuPi, kalau kamu suka memeriksa kembali jika pintu sudah terkunci sebelum pergi sebanyak 3x bukanlah pertanda kamu memiliki OCD ya, itu namanya berhati-hati.😌 Namun, kalau setiap kali mau pergi kamu merasa harus memeriksa pintumu sebanyak 30x kalau nggak kamu merasa rumahmu bakal kemasukan maling dan itu setiap kali mau keluar rumah, mungkin kamu harus periksa ke psikolog terdekat nih.


 ༉Penanganan OCD 🎭

OCD tidak akan hilang dengan sendirinya, karena itu, penting untuk mencari penanganan yang tepat. Untuk menangani OCD, terdapat tiga pilihan yang bisa diberikan pada individu yaitu : psikoedukasi, psikoterapi dan farmakoterapi (obat). 

Salah satu cara yang paling efektif adalah mengombinasikan antara pengobatan dan terapi perilaku kognitif. Cara pengobatan misalnya dengan penggunaan antidepresan. Sedangkan terapi perilaku kognitif, bertujuan untuk membimbing penderita OCD dalam menghadapi ketakutannya dan mengurangi kecemasannya tanpa melakukan kegiatan berulang.

Hidup dengan OCD dan menghadapinya memang tidak mudah. Namun, sembuh darinya bukan hal yang mustahil. OCD, bahkan penyakit lainnya pula, tidak menghalangi seseorang untuk hidup normal dan berkarya. Yang terpenting adalah tekad yang kuat serta dukungan dari orang-orang terdekat seperti orangtua dan sahabat.


༉Fakta-Fakta Tentang OCD 🎭

Berikut fakta-fakta tentang penderita OCD yang harus kamu ketahui, yaitu : 

1️⃣. Ketahui 2 Ciri Utama OCD: Kompulsi dan Obsesi

⌦ Dua ciri utama gangguan ini adalah penderitanya yang memiliki pikiran obsesif, perilaku kompulsif (ritual) atau keduanya terhadap objek tertentu. Individu yang memiliki OCD sadar bahwa pikiran obsesif yang dimilikinya tidak rasional, namun ia hanya bisa melakukan kegiatan kompulsi untuk menghilangkan kecemasan terhadap pikiran obsesif.

⌦ Sebagai contoh, seseorang dengan pikiran obsesif terhadap penyusup dapat memeriksa ulang berkali-kali kunci pintu rumah untuk memastikan bahwa tidak ada yang bisa masuk. Perilaku kompulsi sering terlihat nampak. Namun, perilaku ini juga dapat dilakukan secara tidak nampak, seperti berdoa atau menghitung dalam hati berulang kali. Meskipun kita tidak bisa mengamatinya, perilaku kompulsi yang tidak nampak juga sangat mengganggu seperti halnya perilaku kompulsi yang nampak.

2️⃣. Rata-Rata, Orang Didiagnosis Menderita OCD Ketika  Berusia 19 Tahun Ke Atas

⌦ Diagnosis OCD paling banyak ditemukan pada usia 19 tahun ke atas. Beberapa ahli berpendapat bahwa mungkin pada usia anak-anak, mereka mungkin sudah menunjukkan gejala OCD, tetapi anak dan orangtua masih belum mempermasalahkannya dan menganggap bahwa hal tersebut wajar.

3️⃣. Penduduk Negara Maju Lebih Banyak yang Mengalami Gangguan Ini

⌦ Menurut World Health Organization (WHO), gangguan kecemasan, seperti OCD, lebih banyak terjadi di negara maju daripada di negara berkembang. Di enam Negara Eropa, yaitu Belgia, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, dan Spanyol, ditemukan bahwa dari jumlah 2804 orang, 13% darinya ditemukan memiliki gejala OCD.

4️⃣. Belum Ditemukan Perbedaan Signifikan Pada Jenis Kelamin Penderita OCD

⌦ OCD dapat dialami oleh siapapun, baik laki-laki ataupun perempuan. Selama ini, belum ada penelitian dan data yang menunjukkan perbedaan signifikan pada presentasi penderita berdasarkan jenis kelamin.

5️⃣. Salah Satu Penyebabnya Adalah Riwayat Keluarga

⌦ Keluarga dan Genetik: Studi pada saudara kembar dan keluarga telah menemukan bahwa orang dengan kerabat langsung (orang tua, saudara kandung, atau anak) yang mempunyai riwayat OCD akan memiliki resiko lebih tinggi untuk mengalami OCD. Sebuah studi yang dilakukan selama lebih dari 70 tahun menemukan: Kembar dewasa yang mengalami gejala OCD memiliki peluang 25-47% untuk mewarisi gejala tersebut. Anak kembar yang mengalami gejala OCD memiliki tingkat peluang 45-65% lebih tinggi untuk mewarisi gejala OCD.

⌦  Kimiawi Otak: Penelitian yang mempelajari otak telah menemukan bahwa orang yang menderita OCD menunjukkan aktivitas yang berbeda dan seringkali berlebihan di otak bagian depan, dibandingkan dengan individu non-OCD.

⌦ Stres dan Trauma: Orang yang menderita pelecehan atau trauma lain di masa kecilnya memiliki risiko OCD yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki riwayat seperti itu.

6️⃣. Tenang, OCD Dapat Diobati dan Individu yang Mengalaminya Dapat Hidup Normal

⌦ Penanganan seperti konseling, psikoterapi dengan CBT (cognitive behavioural therapy), atau Response Prevention (ERP) serta konsumsi obat-obatan dapat diberikan pada penderita OCD untuk membantu mengontrol obsesi dan kompulsi mereka.


Untuk itu, apabila kamu atau temanmu merasa memiliki obsesi yang tidak rasional disertai dengan perilaku kompulsif, jangan malu dan ragu untuk mengunjungi psikolog, dokter atau psikiater ya. Semoga bermanfaat


Sumber :

-pijarpsikologi.org

-kampuspsikologi.com

-uc.ac.id


_________________________________________________

Selasa, Februari 01, 2022

Kepribadian ESTJ, Si Pengarah yang Tegas

Halo sabahat DuPi di mana pun berada, apa kabar ? Kembali lagi dengan dunia psikologi, satu dua telinga untuk berjuta-juta suara.

Sahabat DuPi sudah tahu ya, dengan 16 tipe kepribadian yang diklasifikasikan oleh Myers-Briggs Type Indikator ( MBTI). Hari ini kita akan membahas, orang dengan tipe kepribadian ESTJ yang sering kali digambarkan sebagai orang yang logis, tegas, dan bertanggung jawab.

ESTJ adalah singkatan dari extroverted, sensing, thinking, judging. Orang dengan kepribadian ESTJ biasanya sangat percaya diri dengan pikiran dan tindakannya.

Dario Nardi, penulis The Neuroscience of Personality menulis bahwa ESTJ adalah orang yang efisien karena dia hanya memilih solusi yang sudah terbukti. ESTJ memilih agar masalah segera selesai secepatnya, tidak mencoba solusi yang inovatif, tetapi belum terbukti.


 💫Karakteristik Utama Kepribadian ESTJ

Ada beberapa karakteristik utama yang umumnya dimiliki oleh individu dengan kepribadian ESTJ. Berikut ini adalah di antaranya:

🏷️1. Disiplin

╰⌲Individu ESTJ umumnya adalah orang yang sangat disiplin dan tegas. Ia juga sangat menjunjung tinggi tradisi dan aturan. Maka dari itu, orang dengan tipe kepribadian ESTJ biasanya sangat pandai membuat keputusan dengan cepat. Namun, hal ini terkadang membuat pribadi ESTJ cenderung terburu-buru dalam membuat penilaian dan keputusan, padahal mungkin ia belum mempertimbangkan semua informasi dengan matang.

🏷️2. Berjiwa pemimpin

╰⌲Dedikasi, komitmen, dan rasa tanggung jawabnya yang tinggi membuat pribadi ESTJ menjadi sosok yang sangat ideal menjadi pemimpin. Orang dengan tipe kepribadian ini juga tidak segan untuk mendistribusikan tugas dan tanggung jawab kepada orang lain secara adil dan objektif.

🏷️3. Logis

╰⌲Orang dengan tipe kepribadian ESTJ juga merupakan seseorang yang sangat logis. Individu ESTJ selalu mengandalkan informasi dan logika untuk membuat suatu keputusan yang objektif, rasional, dan tidak memihak. Pribadi ESTJ juga sangat pandai melihat berbagai potensi masalah yang mungkin terlewatkan oleh orang lain.

🏷️4. Suka bersosialisasi

╰⌲Pribadi ESTJ adalah seorang ekstrovert, yang berarti ia  sangat suka menghabiskan waktu bersama orang lain dan juga sangat menikmati ketika dirinya menjadi pusat perhatian. Walau terkesan tegas dan kaku, orang dengan kepribadian ESTJ bisa sangat lucu dan menyenangkan dalam situasi sosial.

🏷️5. Suka fakta konkret

╰⌲Pribadi ESTJ sangat menyukai fakta konkret dan suka mempelajari hal-hal yang bisa langsung digunakan dan diterapkan ke dalam kehidupan sehari-harinya. Sebaliknya, orang dengan kepribadian ESTJ umumnya tidak menyukai hal-hal yang bersifat abstrak atau teoritis. 


💫Ciri-ciri Kepribadian ESTJ 

Berikut beberapa ciri-ciri sifat kepribadian ESTJ:

– Percaya diri

– Jujur dan berpijak pada realita

– Bertanggung jawab

– Obyektif

– Berpegang pada fakta

– Pengambil keputusan

– Menjunjung tinggi nilai-nilai dan aturan

– Suka memimpin

– Bagus dalam mendelegasi dan mengatur

– Memilih efisiensi

– Kaku


💫 Apa Benar ESTJ Sok Ngatur❓

🧩Karena punya karakter yang blak-blakan dan pengambil keputusan, kadang-kadang ESTJ disangka sok ngebos. Padahal sebenarnya ESTJ bukan tipe yang akan ngatur-ngatur (kecuali dikasih kesempatan untuk itu).

🧩Orang dengan kepribadian ESTJ cenderung memandang dunia sebagai hitam dan putih. Ada banyak pilihan solusi dalam satu masalah. Namun menurut ESTJ cara paling benar adalah cara yang paling efisien. 

🧩Kadang-kadang ESTJ juga bisa mengkritik. Ini karena atribut E dan T yang membuat dia otomatis menangkap kesalahan dan kekurangan. Orang bisa mengira bahwa ESTJ suka cari-cari kesalahan. Padahal jawaban/pertanyaan itu sudah seperti refleks dan dia juga tidak bermaksud buruk. ESTJ sendiri tidak suka disebut mengontrol, karena mereka sukanya kerja bersama-sama. Ini ditunjukkan oleh ESTJ dengan cara memberi saran pada orang lain tentang solusi suatu masalah yang lebih efisien dan logis.

🧩 Karena ESTJ tidak memiliki atribut Feeling (F), mereka kesulitan untuk “membungkus” saran dan masukannya dengan kalimat yang manis. ESTJ orangnya tidak bisa berbasa-basi, bisanya to the point. Mereka juga mau orang melakukan hal yang sama, dan ESTJ akan menghormati hal itu.

🧩 Satu hal lain dari ESTJ adalah tipe orang nggak akan menikammu dari belakang. Mereka bukan tipe yang manis di depan dan busuk di belakang. Kamu tahu apa yang mereka rasakan tentangmu, dan apa pun yang mereka katakan di depanmu, itu pula yang ia katakan di belakangmu.


💫Nilai Hidup ESTJ

Banyak orang tidak menyadari bahwa ESTJ termotivasi dari dalam. Ketika membuat keputusan, ESTJ akan mencoba fokus pada fakta objektif dan pendekatan logis. Namun mereka juga punya rasa tenggang rasa yang kuat juga. Inilah kenapa, kadang-kadang ESTJ meleburkan aktivitas kesehariannya dengan tujuan jangka panjang mereka. 

Ketika ESTJ kelihatannya hanya hidup dalam fakta dan data, tetapi sebenarnya juga punya feeling yang kuat dan peduli pada sesama. Makanya, orang-orang ESTJ di masa senja mereka cenderung melunak, lebih peka terhadap emosi, dan lebih peduli sama perasaan orang lain


💫 Fakta Lain Tentang ESTJ

🔹Dalam studi mengenai konflik dan tipe kepribadian, ESTJ memilih berkompetisi dengan orang lain dalam menangani konflik tersebut.

🔸 ESTJ banyak terdapat di pemilik bisnis.

🔹 Bagi ESTJ, salah satu aspek yang dicari di pekerjaan adalah masa depan yang pasti dan terjamin.

🔸 ESTJ adalah tipe yang paling banyak muncul di tata usaha sekolah.

🔹 ESTJ adalah tipe kepribadian yang paling banyak mundur dari kuliah.

🔸 Di sekolah, ESTJ cenderung menggemari mata pelajaran matematik dan yang bersifat praktik.

 

Nah, demikianlah beberapa penjelasan orang dengan kepribadian ESTJ. Apakah sobat DuPi ada yang merasa kalau sifatnya seperti ini? Namun, satu hal yang harus dipahami adalah seiring perjalanan hidup yang kita lewati, karakter kita bisa berubah, ya! Jadi semangat terus untuk menjadi pribadi yang baik setiap harinya. Semoga bermanfaat. 

Salam penuh cinta. Dunia Psikologi.


Penulis : Ayasa Coz


Sumber :

▪︎Psikologihore.com

▪︎Psychologyjunkie.com

▪︎Alodokter.com


🔹🔸🔹🔸🔹🔸🔹🔸🔹🔸🔹

Mengenal Kepribadian Ekstrovert

Halo Sabahat DuPi di mana pun berada, apa kabar? Kembali lagi dengan Dunia psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara. Minggu lalu...