Sabtu, Februari 05, 2022

OCD (Obsessive Complusive Disorder )

Halo sahabat DuPi di mana pun berada, apa kabar? Kembali lagi dengan dunia psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara

Apa yang ada di benak sahabat DuPi, ketika mendengar kata OCD atau Obsessive Compulsive Disorder? Apa kamu langsung berpikir tentang seseorang yang maniak kebersihan, atau seseorang yang sering mencuci tangan, atau seseorang yang selalu mengerjakan suatu aktivitas berulang-ulang? Sebenarnya, apa sih, OCD itu?


༉Yang Dirasakan Penderita OCD 🎭

Bayangkan ketika otakmu sedang memikirkan suatu hal tertentu. Hal tersebut terus berputar di pikiranmu, berulang-ulang. Sekeras apa pun usaha yang kamu lakukan  tetap tidak bisa menyingkirkannya meskipun ingin. Pikiran tersebut bagaikan air terjun yang senantiasa mengalir dan sulit dihentikan. Akibatnya, kamu pun mulai merasa cemas. Rasa cemas sendiri merupakan sebuah peringatan dari sistem otak bahwa kamu sedang berada dalam bahaya dan ini mendorongmu untuk melakukan sesuatu. Namun di sisi lain, kamu tahu persis bahwa hal yang kamu pikirkan itu bukanlah suatu ancaman. Akan tetapi, tetap saja, rasanya sulit untuk tidak mencemaskan hal itu.

“Eh tadi kompornya sudah dimatikan belum ya? Cek dulu deh.”

🍃 Lima menit kemudian ....

“Eh tadi kompornya sudah dimatikan belum ya? Duh kalau nggak diperiksa bisa meledak.”

🍃 Beberapa menit kemudian ....

“Eh tadi kompornya sudah dimatikan belum ya? Rasanya kok nggak nyaman?”

🍃 Beberapa menit selanjutnya ....

“Eh tadi kompornya sudah dimatikan belum ya? Kok kayaknya kurang ya?”

🍃 Dan berulang terus selama lebih dari satu jam. 

Itulah yang dirasakan atau isi pikiran penderita OCD dengan insight buruk yang terobsesi kepada kompornya di rumah. 

Apabila kamu menderita OCD, maka otakmu akan senantiasa 'berbohong'. Ia mengatakan bahwa ada bahaya yang mengancam, padahal tidak ada. Akibatnya, kamu akan mengalami rasa cemas yang tidak berujung.


 ༉Definisi Obsessive Complusive Disorder 🎭 

OCD (Obsessive Compulsive Disorder—Gangguan Obsesif Kompulsif) adalah gangguan mental yang membuat seseorang terjebak dalam suatu siklus pikiran dan perilaku yang berulang dan tak berujung. Dulu, OCD termasuk ke dalam gangguan kecemasan (anxiety disorder), tetapi  sekarang dianggap menjadi suatu penyakit dengan kekhususan tersendiri. 

Kondisi ini terdiri atas dua unsur utama, yaitu: gangguan pikiran (obsession) dan keharusan untuk melakukan sesuatu (compulsion). 

Gangguan pikiran (obsession) ialah suatu pemikiran, ingatan, imajinasi, atau keraguan tidak diundang yang selalu berada di dalam pikiran seseorang. Misalnya; seseorang berpikir bahwa ia selalu terkontaminasi oleh kotoran atau bakteri. Pemikiran tersebut akan benar-benar mengganggu pikirannya dan membuatnya menjadi sangat cemassehingga mungkin ia bisa mencuci tangannya terus menerus sampai lama atau mungkin mandi hingga tiga jam.

Sedangkan keharusan untuk melakukan sesuatu (compulsion) adalah aktivitas berulang yang dilakukan karena 'dirasa' memang harus dilakukan. Misalnya; seseorang berulang kali memastikan apakah pintu sudah terkunci atau belum? Ini merupakan respons untuk menghilangkan gangguan pikiran dan rasa cemas yang telah muncul sebelumnya. Akan tetapi, 'rasa lega' ini hanya muncul sesaat. Setelah itu gangguan pikiran dan rasa cemas akan kembali muncul dan mendorong penderita untuk mengerjakan kembali aktivitas yang telah dikerjakannya.

Sebenarnya kegiatan ini dilakukan untuk mencegah atau mengurangi rasa cemas dan stress, tetapi kegiatan ini tidak memiliki hubungan yang jelas dengan masalah yang ingin diatasi.

Hubungan yang tidak realistis antara kegiatan dan tujuan kegiatan tersebut membuatnya berlebihan atau excessive. Obsesi dan kompulsi ini memakan banyak waktu (seperti memakan lebih dari satu jam setiap harinya) atau mengakibatkan stress klinis, atau menghasilkan gangguan pada kehidupan sosial, pekerjaan, maupun fungsi sehari-hari lainnya.


༉Penyebab OCD 🎭 

Penyebab OCD masih belum diketahui secara pasti, tetapi para psikolog menduga jika OCD merupakan gangguan yang bersifat genetis. Hal-hal seperti genetik, biologi dan senyawa kimia di otak, serta lingkungan dapat mempengaruhi.

Dalam DSM-5 juga memiliki 3 pengelompokan OCD berdasarkan insight penderita gangguan OCD tersebut:

1. With good or fair insight: Individu sadar jika kepercayaan/pikiran OCD miliknya tidak nyata atau mungkin nyata dan mungkin tidak.

2. With poor insight: Individu berpikir jika kepercayaan OCD mungkin benar.

3. With absent insight/delusional belief: Individu sepenuhnya yakin jika kepercayaan OCD miliknya nyata.

Jenis obsesi dan kompulsi akan berbeda antara setiap Individu. Namun, terdapat beberapa tema/dimensi yang umum. Beberapa diantaranya seperti:

▪︎ Kebersihan: Obsesi terhadap kontaminasi dan kompulsinya membersihkan.

▪︎ Simetri: Obsesi terhadap simetri dan kompulsinya berupa menyusun dan menghitung berulang-ulang.

▪︎ Pikiran terlarang atau tabu: Obsesi terhadap pikiran yang agresif, seksual, maupun religius.

▪︎ Bahaya: Obsesi terhadap rasa takut akan melukai diri sendiri atau orang lain.

Para individu dengan OCD merasakan berbagai respon efektif ketika menemui situasi yang menimbulkan obsesi dan kompulsi mereka. Sebagai contoh, Individu OCD akan merasa jijik ketika melihat sesuatu yang tidak sesuai obsesinya (tidak bersih, tidak simetris, atau semacamnya). Saat Individu dengan OCD tersebut melakukan kompulsi, beberapa juga melaporkan rasa “incompleteness” atau ketidaknyamanan sampai semua terlihat dan terasa “benar.”

Jadi sahabat DuPi, kalau kamu suka memeriksa kembali jika pintu sudah terkunci sebelum pergi sebanyak 3x bukanlah pertanda kamu memiliki OCD ya, itu namanya berhati-hati.😌 Namun, kalau setiap kali mau pergi kamu merasa harus memeriksa pintumu sebanyak 30x kalau nggak kamu merasa rumahmu bakal kemasukan maling dan itu setiap kali mau keluar rumah, mungkin kamu harus periksa ke psikolog terdekat nih.


 ༉Penanganan OCD 🎭

OCD tidak akan hilang dengan sendirinya, karena itu, penting untuk mencari penanganan yang tepat. Untuk menangani OCD, terdapat tiga pilihan yang bisa diberikan pada individu yaitu : psikoedukasi, psikoterapi dan farmakoterapi (obat). 

Salah satu cara yang paling efektif adalah mengombinasikan antara pengobatan dan terapi perilaku kognitif. Cara pengobatan misalnya dengan penggunaan antidepresan. Sedangkan terapi perilaku kognitif, bertujuan untuk membimbing penderita OCD dalam menghadapi ketakutannya dan mengurangi kecemasannya tanpa melakukan kegiatan berulang.

Hidup dengan OCD dan menghadapinya memang tidak mudah. Namun, sembuh darinya bukan hal yang mustahil. OCD, bahkan penyakit lainnya pula, tidak menghalangi seseorang untuk hidup normal dan berkarya. Yang terpenting adalah tekad yang kuat serta dukungan dari orang-orang terdekat seperti orangtua dan sahabat.


༉Fakta-Fakta Tentang OCD 🎭

Berikut fakta-fakta tentang penderita OCD yang harus kamu ketahui, yaitu : 

1️⃣. Ketahui 2 Ciri Utama OCD: Kompulsi dan Obsesi

⌦ Dua ciri utama gangguan ini adalah penderitanya yang memiliki pikiran obsesif, perilaku kompulsif (ritual) atau keduanya terhadap objek tertentu. Individu yang memiliki OCD sadar bahwa pikiran obsesif yang dimilikinya tidak rasional, namun ia hanya bisa melakukan kegiatan kompulsi untuk menghilangkan kecemasan terhadap pikiran obsesif.

⌦ Sebagai contoh, seseorang dengan pikiran obsesif terhadap penyusup dapat memeriksa ulang berkali-kali kunci pintu rumah untuk memastikan bahwa tidak ada yang bisa masuk. Perilaku kompulsi sering terlihat nampak. Namun, perilaku ini juga dapat dilakukan secara tidak nampak, seperti berdoa atau menghitung dalam hati berulang kali. Meskipun kita tidak bisa mengamatinya, perilaku kompulsi yang tidak nampak juga sangat mengganggu seperti halnya perilaku kompulsi yang nampak.

2️⃣. Rata-Rata, Orang Didiagnosis Menderita OCD Ketika  Berusia 19 Tahun Ke Atas

⌦ Diagnosis OCD paling banyak ditemukan pada usia 19 tahun ke atas. Beberapa ahli berpendapat bahwa mungkin pada usia anak-anak, mereka mungkin sudah menunjukkan gejala OCD, tetapi anak dan orangtua masih belum mempermasalahkannya dan menganggap bahwa hal tersebut wajar.

3️⃣. Penduduk Negara Maju Lebih Banyak yang Mengalami Gangguan Ini

⌦ Menurut World Health Organization (WHO), gangguan kecemasan, seperti OCD, lebih banyak terjadi di negara maju daripada di negara berkembang. Di enam Negara Eropa, yaitu Belgia, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, dan Spanyol, ditemukan bahwa dari jumlah 2804 orang, 13% darinya ditemukan memiliki gejala OCD.

4️⃣. Belum Ditemukan Perbedaan Signifikan Pada Jenis Kelamin Penderita OCD

⌦ OCD dapat dialami oleh siapapun, baik laki-laki ataupun perempuan. Selama ini, belum ada penelitian dan data yang menunjukkan perbedaan signifikan pada presentasi penderita berdasarkan jenis kelamin.

5️⃣. Salah Satu Penyebabnya Adalah Riwayat Keluarga

⌦ Keluarga dan Genetik: Studi pada saudara kembar dan keluarga telah menemukan bahwa orang dengan kerabat langsung (orang tua, saudara kandung, atau anak) yang mempunyai riwayat OCD akan memiliki resiko lebih tinggi untuk mengalami OCD. Sebuah studi yang dilakukan selama lebih dari 70 tahun menemukan: Kembar dewasa yang mengalami gejala OCD memiliki peluang 25-47% untuk mewarisi gejala tersebut. Anak kembar yang mengalami gejala OCD memiliki tingkat peluang 45-65% lebih tinggi untuk mewarisi gejala OCD.

⌦  Kimiawi Otak: Penelitian yang mempelajari otak telah menemukan bahwa orang yang menderita OCD menunjukkan aktivitas yang berbeda dan seringkali berlebihan di otak bagian depan, dibandingkan dengan individu non-OCD.

⌦ Stres dan Trauma: Orang yang menderita pelecehan atau trauma lain di masa kecilnya memiliki risiko OCD yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki riwayat seperti itu.

6️⃣. Tenang, OCD Dapat Diobati dan Individu yang Mengalaminya Dapat Hidup Normal

⌦ Penanganan seperti konseling, psikoterapi dengan CBT (cognitive behavioural therapy), atau Response Prevention (ERP) serta konsumsi obat-obatan dapat diberikan pada penderita OCD untuk membantu mengontrol obsesi dan kompulsi mereka.


Untuk itu, apabila kamu atau temanmu merasa memiliki obsesi yang tidak rasional disertai dengan perilaku kompulsif, jangan malu dan ragu untuk mengunjungi psikolog, dokter atau psikiater ya. Semoga bermanfaat


Sumber :

-pijarpsikologi.org

-kampuspsikologi.com

-uc.ac.id


_________________________________________________

Tidak ada komentar:

Mengenal Kepribadian Ekstrovert

Halo Sabahat DuPi di mana pun berada, apa kabar? Kembali lagi dengan Dunia psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara. Minggu lalu...