Senin, Juli 11, 2022

Mengenal Introvert

Halo Sabahat DuPi di mana pun berada, apa kabar? Kembali lagi dengan Dunia psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara.


Kali ini kita akan membahas tentang Introvert.  Sebelumnya kalian pasti sudah tidak asing lagi bukan dengan kata 'Introvert' ? Yuk kita ulas lebih dalam mengenai Introvert-!


Introvert adalah tipe kepribadian yang menyukai waktu dan energi untuk sendiri. Introvert juga termasuk salah satu tipe kepribadian yang lebih fokus pada pikiran, suasana hati, dan perasaan secara internal. Penyebab introvert biasanya dikarena faktor gen dan lingkungan. Dalam tipe kepribadian, introvert cenderung berpikir lebih dulu sebelum berbicara. Mereka juga tipe pemilih untuk mengungkapkan sesuatu pada orang lain. Selain itu, introvert senang berada di dalam kelompok kecil yang membuat mereka nyaman.


Ciri-ciri introvert


Karakter ini bisa berbeda-beda untuk masing-masing individu. Dengan kata lain, tidak ada dua orang introvert yang persis sama. Berikut ini adalah beberapa hal yang menjadi ciri-ciri introvert :


1. Waktu luang lebih banyak sendiri

Ciri-ciri introvert adalah lebih memilih untuk menghabiskan waktu yang tenang di rumah. Jika waktu menyendiri mendorong perasaan damai dan lega, bukan kekecewaan dan stres, kemungkinan Anda lebih cenderung introvert daripada ekstrovert.


2. Lelah karena sering bersosialisasi

Tidak benar bahwa introvert membenci interaksi sosial dan menghindarinya sama sekali. Bagaimanapun, seseorang mungkin merasa lelah terlalu sering berinteraksi.


3. Suka bekerja sendiri

Seoang introvert sering memilih hiburan yang bisa dilakukan sendirian, seperti membaca, membuat kerajinan, bermain game, atau berkebun. 


4. Memilih di belakang layar

Mungkin seorang Introvert tidak keberatan bekerja dalam kelompok yang lebih kecil, tetapi seorang Introvert selalu memilih peran di belakang layar.


5. Lebih suka lingkaran teman dekat

Banyak introvert hanya memiliki lingkaran kecil teman, tetapi itu bukan karena mereka tidak dapat berteman atau tidak menyukai orang. Penelitian menunjukkan, pada kenyataannya, bahwa hubungan berkualitas tinggi memainkan peran utama dalam kebahagiaan bagi para introvert. Seorang introvert lebih suka memiliki beberapa pertemanan yang dekat dan intim daripada lingkaran besar namun hanya kenalan biasa.



Penulis : Aliya Jahwania

Referensi :

• katadata.co.id

• kontan.co.id





Senin, Juli 04, 2022

Inner Child

Halo Sabahat DuPi di mana pun berada, apa kabar? Kembali lagi dengan Dunia psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara.


Kali ini kita akan membahas tentang Inner Child. Sebelumnya udah pada tahu belum nih, apasi sebenarnya Inner Child itu ?


 Inner child sebenarnya adalah sebuah konsep yang menggambarkan sifat dan sikap kekanak-kanakan yang mungkin dimiliki oleh setiap orang. Meski begitu, inner child yang terdapat di dalam masing-masing individu tentu tidaklah sama. Pasalnya, inner child terbentuk dari pengalaman seseorang saat masih anak-anak. 

 Inner child bisa digambarkan sebagai bagian dari diri seseorang yang tidak ikut tumbuh dewasa dan tetap menjadi anak-anak. Artinya, bagian ini terus menetap dan bersembunyi di dalam diri seseorang. Bagian ini menggenggam erat setiap ingatan dan emosi yang pernah dialami saat masih kecil, baik yang indah maupun yang buruk.


Penyebab Inner Child terluka 

Berikut adalah beberapa hal yang mungkin dapat menjadi penyebab inner child di dalam diri terluka:


• Kehilangan orangtua atau wali dan keluarga dekat.

• Kekerasan fisik, emosional, atau seksual.

•Pengabaian.

•Penyakit serius.

•Perundungan atau bullying.

•Perpecahan dalam keluarga.

•Ada anggota keluarga yang menyalahgunakan alkohol dan obat-obatan terlarang.

•Kekerasan dalam rumah tangga.

•Ada anggota keluarga yang memiliki gangguan mental.

•Hidup di pengungsian.

•Terpisahkan dari keluarga.


Tanda- tanda Inner Child yang terluka :

1. Mengeluarkan reaksi yang sama terhadap hal yang berulang kali terjadi.

2. Hal sederhana namun membuat emosimu meletup atau mengeluarkan reaksi yang sangat kuat.

3. Perhatikan pola perilaku. Lalu teliti lebih dalam, apa yang membuatmu mudah marah, sedih, berpikir negatif ?


Cara mengobati luka batin

Langkah pertama untuk berobat ialah mengetahui ada luka. Selama kita abai, tidak mungkin luka bisa sembuh dengan sendirinya. Bila didiamkan, luka batin bisa menular ke fisik, orang lain hingga kualitas hidup. Nah, setelah kita mengetahui batin kita terluka, kita perlu mengambil tindakan sadar :


1. Pergi ke profesional


Akan lebih baik bila dibantu dengan psikolog karena ada kemungkinan kita salah tebak penyebabnya apa.


2. Berkontemplasi bercakap dengan diri kita yang masih kecil


Setelah luka batin teridentifikasi, kita perlu kembali ke masa tersebut. Masa di mana kita mengalami luka, jadilah sosok yang kamu butuhkan di saat itu. Katakan hal yang perlu kamu dengar di saat itu.


3. Terapi


Rutin menyediakan waktu untuk self-healing. Proses dengan journaling, art therapy, seperti menggambar/melukis, dan membaca buku self-healing. Hal tersebut membantu kita menyadari banyak pola perilaku dari luka di masa kecil.


Terjebak di perilaku yang berulang menghasilkan kualitas hidup yang tidak begitu baik. Karenanya kita perlu untuk peduli dengan luka agar bisa merangkul bahagia.


Penulis : Aliya Jahwania

Referensi : 

- hellosehat.com

- medium.com






Minggu, Juli 03, 2022

Seni Dalam Menyembuhkan

 

Art Therapy Dapat Mengurangi Stress?

Halo sobat DuPi! Bagaimana kabarnya? Semoga dalam keadaan yang baik serta sehat selalu ya. Baik, disini saya akan menjelaskan mengenai Art Therapy.

Sobat semua apakah pernah mengalami stress? Mungkin hal itu dapat mengganggu aktivitas kamu sehari-hari. Nah, untuk mengurangi dan mengatasinya, art therapy cocok dilakukan bagi kamu yang memiliki ketertarikan dalam bidang seni. Jadi seni tidak hanya dijadikan sebagai karya saja, namun dapat dijadikan sebagai media untuk meluapkan stress. Lalu, apa saja yang perlu dilakukan?

Apa sih art therapy itu?

Sebelum kamu melakukannya. Baiknya kenali lebih dulu apa itu art therapy. Laman Psychology Today menyebut bahwa art therapy merupakan terapi yang melibatkan penggunaan teknik kreatif, seperti menggambar, melukis, membuat kolase, mewarnai hingga memahat. Bagi kamu yang pecinta seni, kegiatan ini sangat cocok untuk dilakukan.

Hal ini untuk membantu orang mengekspresikan diri dan memeriksa kondisi psikologis melalui karya seni yang dibuat. Terapis nantinya akan memecahkan kode, simbol, metafora dan pesan nonverbal yang tertuang dalam karya seni tersebut. Art therapy disinyalir membuat pasien terapi lebih memahami perasaan dan emosi terdalam mereka.

Misalnya dalam menulis, beberapa orang sulit dalam mengungkapkan perasaannya secara jujur. Sebab itu, menulis dapat dijadikan alternative untuk kamu dalam mengungkap isi pikiran dan hatimu. Sebagai bentuk dasarnya ialah dengan menulis buku diary atau jurnal diary. Kamu bisa mengisi kegiatan apa yang akan kamu lakukan, sesuatu yang kamu sukai dan perasaan kamu saat ini.

Hal senada diungkapkan oleh Serlin (2007) bahwa art therapy membawa perspektif  psikoanalitik untuk menggunakan seni sebagai cara untuk membuat citra sadar dan simbol sadar. Sementara Nguyen (2016) mengungkapkan bahwa terapi seni adalah proses terapi dengan menggunakan kesadaran pribadi dan perubahan terjadi ketika pasien atau klien berinteraksi selama proses materi seni dan ketika individu mampu belajar sesuatu tentang diri mereka dari proses tersebut.

Macam-macam art therapy

Art therapy merupakan salah satu intervensi psikologis yang semakin berkembang dalam kurun waktu terakhir. Art therapy telah banyak digunakan dalam berbagai kasus medis baik pada anak maupun dewasa (Malchiodi, 2003). Tujuan art therapy bukan untuk menghasilkan bentuk‐ bentuk artistik, tetapi lebih menekankan kebebasan untuk berkomunikasi melalui bentuk‐bentuk artistik.

Pada dasarnya konsep art therapy ialah kombinasi dari konsep art (seni) dan psikologi. Hal ini tentunya dapat mempermudah seseorang dalam menuangkan perasaanya. Dan untuk melakukan art therapy, kamu tak perlu mempunyai kemampuan seni yang tinggi.

Menurut Nordqvist (2009) dalam Fastari jenis-jenis art therapy bisa dibedakan kepada music therapy, poetry therapy, dance therapy, drama therapy dan seni kriya. Music therapy pernah digunakan untuk mengurangi simtom depresi pada pasien depresi, membantu mengurangi rasa sakit pada penderita penyakit kronis. Menggambar, melukis, dapat membantu pemulihan trauma pada korban bencana alam.  Penderita autisme terbantu dengan art psychotherapy, mereka terlihat dapat berekspresi dibandingkan ketika diajak berkomunikasi secara lisan.

Poetry therapy diterapkan pada subjek anak dan remaja, antara lain pada kasus kekerasan terhadap anak dan kasus bunuh diri pada anak/remaja. Poetry therapy juga pernah diberikan pada kasus-kasus pernikahan, perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga, dan lansia. Selain jenis-jenis art psychotherapy yang telah disebutkan di atas, masih banyak jenis art psychotherapy lain yang diterapkan pada beragam kasus klinis lainnya, yakni: dance therapy, drama therapy, dan seni kriya.

Kasus lain yang pernah ditangani dengan art psychotherapy diantaranya: kasus penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang, klien dengan keterbelakangan mental. Secara garis besar bertujuan mengurangi simtom-simtom psikologis yang menjadi permasalahan klien. Menurut March (2016) art therapy terbagi atas terapi menari, drama, bermain musik, dan seni visual. Terapi gerakan tari (atau terapi tari) melibatkan penggunaan berbagai gaya tarian dan gerakan yang berbeda. Terapi drama dilakukan dengan bermain peran tertentu dalam situasi tertentu, membuat gerakan untuk mengekspresikan diri, pidato dengan suara yang sulit ditirukan, bertindak tanpa berkata-kata, atau mengulangi perilaku yang menyebabkan konseli mengalamai maslah di masa lalu.

5 Cara art therapy yang bisa dilakukan

1.      Kolase

Membuat kolase dari beberapa media dan membentuknya menjadi karya baru adalah self therapy yang menarik untuk dicoba. Konsepnya adalah merusak, kemudian membentuk sesuatu dari media yang sudah dicacah tersebut. Filosofi dari kolase ini adalah untuk menunjukkan kalau dari sesuatu yang rusak, kamu bisa membentuknya menjadi sesuatu yang baru dan bahkan lebih indah dari sebelumnya.

2.      Menggambar dalam Kegelapan

Tidak perlu serius dan jangan takut salah. kamu dibebaskan untuk menggambar apa saja, termasuk hal yang kamu rasakan di momen tersebut. Syarat hanya satu: kamu harus melakukannya di kegelapan. Bukan tanpa alasan kok, teknik ini dilakukan tak lain untuk membebaskan nilai-nilai dari bentuk dan mengenyahkan ketakutan untuk bertindak. Art therapy ini mendorong kamu untuk berani melepaskan diri.

3.      Zentangle

Dari menggambar garis dan pola-polanya, bisa menjadi terapi stres, melatih fokus, meredam emosi dan belajar untuk sabar. Makanya teknik ini disebut Zen yang dilakukan untuk menyeimbangkan emosi dan melatih psikis. Tekniknya mudah dan sekarang buku Zentangle ini sudah gampang ditemui di toko-toko buku pada umumnya.

4.      Membuat Puisi Acak

Dari potongan huruf-huruf di koran atau majalah, kamu bisa menciptakan puisi sendiri yang menarik dan jangan terkejut menyadari betapa tiba-tiba kamu bisa menjadi sangat puitis. Caranya sederhana saja, kamu bisa memotong huruf-huruf dari majalah atau koran yang kamu temukan secara acak atau spontan. Dari huruf-huruf yang terkumpul, coba susun menjadi kalimat yang puitis.

5.      Menulis Ulang Lagu

Terapi paling sederhana yang lainnya adalah mendengarkan musik, lalu ceritakan apa yang kamu rasakan saat mendengarkan lagu tersebut. Lewat cara ini, kamu diajak untuk berdialog dengan diri sendiri dan menemukan perasaan terpendam yang susah kamu deskripsikan. Tujuannya, setelah melakukan ini, hati bisa lebih lapang dan kamu bisa lebih memahami diri sendiri.

Nah, itulah penjelasan mengenai art therapy. Tentunya kamu bisa melakukannya di rumah, jika sewaktu-waktu mengalami tekanan. Namun, jika kamu masih sulit dalam meluapkan atau melakukan art therapy. Saya sarankan untuk membicarakannya dengan tenaga ahli profesionalnya langsung. Akhir kata untuk membantu kamu memahami art therapy. Semoga bermanfaat. Terima kasih!

Referensi

Cohen-Yatziv, L., & Regev, D. (2019). The Effectiveness and Contribution of Art Therapy Work with Children in 2018-What Progress Has Been Made So Far? A Systematic Review. International Journal of Art Therapy. 24(3), pp. 100-112.

Regev, D., & Cohen-Yatziv, L. (2018). Effectiveness of Art Therapy With Adult Clients in 2018-What Progress Has Been Made?. Frontiers in Psychology, Doi: 10.3389/fpsyg.2018.01531.

Bourassa, T. Psych Central (2016). Why Art Therapy? Psychology Today. Art Therapy.

Mengenal Kepribadian Ekstrovert

Halo Sabahat DuPi di mana pun berada, apa kabar? Kembali lagi dengan Dunia psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara. Minggu lalu...