Jumat, November 12, 2021

Sejarah Adanya Hari Ayah

 Halo sobat DuPi di mana pun kalian berada, semoga kalian sehat selalu ya ...

Ketemu lagi dengan Dunia Psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara. 

 

♪♪...Aku hanya memanggilmu ayah ... di saatku kehilangan arah, aku hanya meningatmu.. ayah disaat t’lah jauh darimu...♪♪

Ada yang ngerti sama lagu ini?

Seratus buat kalian yang jawab, lagu dengan judul "Ayah" dari Seventeen.

Sudah tahu belum jika hari ini adalah hari ayah?

Nah, untuk yang sudah tau, sudahkah mengucapkan atau berbuat kebaikan pada ayahmu hari ini?

Untuk yang jauh dari sosok ayah, kalian nggak perlu sedih, masih ada do’a kalian yang bisa dijadikan kado untuk ayah kalian.

Kali ini kita membahas sedikit tentang sejarah hari ayah

 

Bagaimana sejarahnya hari ayah?


Mungkin kita lebih mengenal dengan hari ibu, sebab hari ibu terlebih dulu ada dibanding hari ayah. Hari ayah nasional diperingati setiap tanggal 12 November, berbeda dengan hari ayah sedunia yang diperingati setiap tanggal 20 juni.


Hari ayah digagas oleh Perkumpulan Putra Ibu Pertiwi Solo. Mereka memandang, perlu adanya Hari Bapak atau Hari Ayah, mengikuti peringatan Hari Ibu dan Hari Anak yang telah lama ada.


Ketua Perkumpulan Putra Ibu Pertiwi Solo Gress Raja, kala itu mengatakan  gagasan perlunya ada Hari Bapak, bukan karena 'iri'  dengan adanya Hari Ibu tetapi tidak ada Hari Bapak. Namun, Hari Bapak dipandang perlu karena bapak merupakan bagian dari keluarga yang tidak boleh diremehkan perannya.

"Bapak dan ibu adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Kita butuh keduanya sebagai keseimbangan kesadaran kita sebagai anak," kata Gress.


Ia menceritakan, beberapa tahun sebelumnya, saat perayaan Hari Ibu, ada lomba menulis surat untuk ibu. Tiba-tiba, ada peserta yang menanyakan mengenai kapan ada lomba menulis surat untuk bapak.


 

“Setelah itu, kami jadi tertarik untuk berpikir lebih dalam, mengapa tidak dirayakan Hari Bapak," ujar dia.

 

Deklarasi Hari Bapak dilakukan pada 12 November 2006 di Kota Solo, tepatnya di Pendapa Gede Balai Kota Solo. Meski dideklarasikan pertama kali di Kota Solo, pada saat bersamaan, salah satu anggota juga menggelar acara yang sama di Maumere, Flores.


Acara deklarasi itu dihadiri oleh pelajar, tokoh masyarakat, dan tokoh agama. Salah satu agendanya adalah pembacaan Buku Kenangan buat Ayah yang berisi surat 100 anak Nusantara untuk ayah mereka.

 

Dari sejarah itu terlihat betapa istimewanya seorang ayah, sampai memiliki hari khusus untuk memperingatinya. Berperan menjadi seorang ayah memang bukanlah hal mudah, tak hanya menjadi seorang ayah, namun menjadi seorang ibu pun penuh dengan rasa tanggung jawab.


Siapa sosok yang mengajarkan agar kita kuat, yang mengajarkan kita berani dalam benar, yang melindungi kita, yang menjaga serta mendoakan setiap langkah kita?

Merekalah Ayah dan ibu.

Jadi, semisal kalian pernah merasa “mengapa ayahku tak sama seperti ayahnya si A?” atau “Orang tuaku tak sebaik orang tuanya si B”


Kurasa kalian salah, tepatnya kalian salah mengartikan bentuk cinta mereka. Dibalik rasa marah, protektif, dan galaknya orang tua ada rasa cinta dan sayang untuk anaknya. Mereka takut anaknya salah melangkah, dan akhirnya anaknya sedih. Mereka tak ingin itu terjadi.

Jika kalian merasa perlakuan orang tua kalian berbeda dengan orang tua yang lain, mungkin mereka memiliki cara tersendiri untuk menjaga dan mendidikmu.

Ada banyak hal yang mungkin tidak kalian mengerti, tentang bagaimana perjuangan mereka demi kalian bahagia. Seburuk apapun orang tuamu, mereka tetap orang tua mu, yang menjaga, merawat serta membimbingmu. Mereka telah berusaha keras agar kalian bahagia.


Jadi hormati orang tua kalian ya, selagi mereka ada. Sayangi mereka dan jaga mereka. Banyak di luar sana anak yang jauh dari sosok orang tua, dan  mereka ingin merasakan kasih sayang seorang ayah, kasih sayang seorang ibu seperti yang dirasakan oleh kalian yang memiliki ayah dan ibu.

Mungkin hari ini cukup sampai disini ya sob!!

 

“Hai Ayah, selamat hari ayah. Engkau pahlawan terhebat dihidupku, engkau berharga bagiku, tak terganti, dan tak akan ku ganti. Cintamu tertanam di sini, di dalam hati”

Sampai jumpa semuanya

Salam Cinta, Dunia Psikologi

 

 

 Sumber :

https://www.google.com/amp/s/amp.kompas.com/tren/read/2021/11/12/063000565/hari-ayah-nasional-12-november-bagaimana-sejarahnya-


R. H Salsabila

 

 

Tidak ada komentar:

Mengenal Kepribadian Ekstrovert

Halo Sabahat DuPi di mana pun berada, apa kabar? Kembali lagi dengan Dunia psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara. Minggu lalu...