Selasa, Maret 08, 2022

Alter Ego (Topeng)

Halo sahabat DuPi di mana pun kamu berada, apa kabar? Kembali lagi dengan Dunia Psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara.

Tahukah sahabat DuPi bahwa ada beberapa orang sering mengajak suara dalam kepalanya untuk berdiskusi karena dihadapkan dengan keputusan sulit dan ia merasa tidak bisa membuat keputusan sendiri. Lalu ada pula orang yang di depan kamu dia pemalu, tetapi di khalayak ramai tanpa kamu sadari dia menjadi sosok yang pemberani dan kamu kagum. 

Nah ... kalau kamu pernah mengalami atau mengetahui orang seperti yang dicontohkan, itu namanya mereka menggunakan alter ego, topeng lain dari sisi dirinya. 

Yang perlu kita pahami bahwa setiap orang berpotensi untuk memiliki alter ego. Namun pada beberapa kondisi kamu mungkin tidak sadar sudah memilikinya, karena pemahaman tentang fenomena ini masih berbeda-beda 


❓ APA ITU ALTER EGO

Alter Ego berasal dari bahasa Latin yang berarti "Aku yang lain" merupakan diri kedua yang dipercaya berbeda daripada kepribadian yang sebenarnya. 

Istilah alter ego diperkenalkan pertama kali pada tahun 1739 oleh seorang dokter bernama Franz Anton Mesmer yang menggunakan metode hipnotis untuk mengetahui pola perilaku yang berbeda dalam kepribadian individu ketika dalam keadaan sadar lalu dibandingkan dengan kepribadian ketika individu tersebut terhipnotis.

Dalam dunia psikologi, alter ego merupakan suatu bentuk sisi lain dari kehidupan seseorang yang jauh berbeda dari dirinya sendiri. Individu akan dikuasai oleh alter egonya saat kondisi tertentu yang membuat dirinya tidak nyaman. Sehingga kondisi individu yang lembut, halus, dan sabar, pada suatu waktu akan membentuk karakter yang pemarah, emosional, dan tidak mau kalah. Hal ini sebagai bentuk pembelaan atau defensif dirinya terhadap sesuatu yang dirasakan mengganggu secara psikis. Dua hal yang berbeda ini akan menunjukkan mana yang dominan dan mempengaruhi. 

Dengan kata lain, Alter ego adalah karakter yang diciptakan secara sadar dari apa yang telah lama diidam-idamkan oleh seseorang dan biasanya digunakan untuk menutupi kepribadian asli yang tidak ingin ditunjukkan kepada orang lain. Karakter tersebut sering kali merupakan gambaran ideal tentang dirinya yang tidak bisa ia realisasikan. 

Namun, memiliki karakter lain ini tidak sama dengan memiliki kepribadian ganda. Sebelumnya kita juga sudah membahas tentang kepribadian ganda atau Dissociative Identity Disorder (DID)


πŸ“PERBEDAAN ALTER EGO DAN KEPRIBADIAN GANDA

Sahabat DuPi mungkin bertanya-tanya, apakah ada perbedaan antara orang yang memiliki alter ego dengan kepribadian ganda? 

Kepribadian Ganda atau Dissociative identity disorder (DID) atau multiple personality disorder (MPD) adalah kelainan saat seseorang memiliki lebih dari satu identitas dalam satu tubuh. Seseorang dengan banyak identitas ini lebih cenderung menyebut dirinya sendiri sebagai “kami”. Biasanya orang mengenal kondisi ini dengan kepribadian ganda.

Pada sebagian besar kasus, tanda seorang penderita DID memiliki lebih dari dua karakter dalam satu tubuhnya. Karakter atau identitas lain tersebut terpisah satu dengan yang lainnya. Saat satu identitas alternatif tengah menguasai tubuhmu, identitas alternatif ini yang memegang kendali penuh terhadap tubuh seutuhnya dalam beberapa waktu ke depan.

Oleh sebab itu, penderita DID sering mengalami perubahan karakter yang terjadi secara total. Mulai dari aksen bicara, memori, nama, usia, bahkan gender dari kepribadian tersebut bisa saja berubah dan benar-benar berbeda. Bahkan, saat identitas kembali pada identitas utama (asli), kamu takakan mampu mengingat apa yang terjadi saat kepribadian yang lain sedang mengambil alih.

Contohnya, kamu punya teman, kadang suatu hari dia menjadi orang yang berbeda sampai kamu merasa dia menjadi asing, terus beberapa waktu kemudian berubah lagi menjadi sosok yang kamu kenal. Sesekali dia ngeluh kalau dia kadang merasa capek, atau menemukan sayatan di tubuhnya dan kadang merasa hilang waktunya. 

Dengan kata lain, ketidaksadaran yang dialami saat identitas tubuh berubah akan diikuti juga dengan segala perubahan dalam diri. Bila pun seseorang memiliki lebih dari dua kepribadian dalam diri, tiap kepribadian itu masing-masing akan tetap berfungsi secara terpisah-pisah.

Hal ini tentu saja berbeda dengan alter ego. Karena perubahan identitas pada orang yang memiliki alter ego terjadi dalam keadaan sadar dan masih dalam kendali pemilik, yang memiliki identitas asli.

Dengan kata lain, tidak terjadi lupa ingatan pada proses perubahan karakter pada orang yang mengalami kondisi ini. Selain itu, identitas asli juga masih memiliki wewenang penuh dalam tukar-menukar identitas serta dalam kesadaran yang utuh.

Ini artinya, saat sedang merasa dalam kondisi membutuhkan identitas alternatif ini yang muncul, kamu dapat memicu dan mengubahnya sendiri. Bahkan, kamu juga bisa mengembalikan identitas asli tanpa harus kesulitan.


πŸ“ALASAN SESEORANG MENCIPTAKAN ALTER EGO

Penyebab alter ego diciptakan biasanya karena seseorang itu kurang mampu atau tidak memiliki kesempatan untuk melakukan sesuatu yang diinginkan secara maksimal.

Dengan menciptakan karakternya sendiri yang lebih ideal, orang tersebut membayangkan hidup di kondisi yang lebih baik. Tak sedikit yang menggunakan alter ego ciptaannya untuk membantunya lebih berani menghadapi dunia.


πŸ“ HAL-HAL YANG PERLU DILAKUKAN

Beberapa hal yang perlu sahabat DuPi lakukan agar tidak mengalami alter ego antara lain :

🎯 Meredam atau mengontrol mood dan emosi. 

🎯Hindari kelelahan fisik,  karena perubahan mood terpicu bila memaksakan diri terhadap fisik. Cukupi istirahat dan jangan memaksakan beraktivitas bila lelah. 

🎯Hindari tidur larut malam.

🎯 Angkatlah kepercayaan diri terhadap apapun yang kamu temui.


Kesimpulannya bahwa memiliki alter ego tidak sama dengan mengalami gangguan mental. Orang yang sehat mentalnya mungkin saja mengalami fenomena ini. Terlebih, menurut Health Guidance, memiliki alter ego bisa memberikan manfaat tersendiri bagi sebagian individu.

Hanya saja yang perlu sahabat DuPi ketahui bahwa pada beberapa kasus, memiliki karakter lain bisa berakhir membahayakan diri sendiri maupun mungkin orang-orang sekitar.

Jadi, memiliki karakter buatan (topeng) ini boleh-boleh saja, selama masih berada dalam kendali dan tidak mengganggumu dalam kehidupan sehari-hari.



Penulis : Ayasa_Coz


Sumber :

•  alodokter.com

•  sehatq.com

•  hellosehat.com




Sabtu, Februari 26, 2022

Bullying Di Kalangan Remaja

Halo sabahat DuPi di mana pun berada, apa kabar? Kembali lagi dengan Dunia psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara.

Bullying adalah tindakan di mana satu orang atau lebih mencoba untuk menyakiti atau mengontrol orang lain dengan cara kekerasan. Entah itu secara verbal, non verbal, atau bahkan melalui dunia maya. Kasus bullying atau perundungan ini biasanya marak di kalangan remaja dan sangat mempengaruhi kesehatan mental seseorang yang menjadi korban penindasan, bahkan bisa berakhir dengan melakukan tindakan bunuh diri. 

Namun, tahukah sahabat DuPi ada banyak sekali jenis bullying yang sering dilakukan di kalangan remaja? Coba disimak baik-baik, apa jangan-jangan kamu pernah melakukannya, ya? 


ミ✧Definisi Bullying 

Kata 'bullying' berasal dari bahasa Inggris, sedangkan dalam bahasa Indonesia disebut penindasan atau risak. 

Mengutip buku Meredam Bullying, Ken Rigby konsultan ahli sekolah menjelaskan tentang pengertian bullying. Menurut Ken Rigby, bullying adalah sebuah hasrat untuk menyakiti. Hasrat ini bisa dilihat dari sebuah aksi yang menyebabkan seseorang menderita. Aksi dilakukan oleh seseorang atau kelompok mayoritas yang lebih kuat, dilakukan secara berulang, pelaku tidak bertanggung jawab, dan dilakukan dengan perasaan senang.

Bullying sering terjadi di sekolah dan lingkungan sehari-hari yang memakan jiwa. Aksi bullying ini merugikan korban hingga mempengaruhi psikisnya. Fenomena bullying menyebabkan pelaku bertindak semena-mena pada korban.

Perilaku bullying bertentangan dengan UUD 1945 pasal 28 B ayat 2 berbunyi, “Menyatakan bahwa setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang, serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.”

ミ✧Jenis-jenis Bullying 

Perilaku bullying dibagi menjadi beberapa jenis. Mengutip dari Kemenpppa.go.id, bullying dikelompokkan dalam empat kategori, antara lain:

⎙  Bullying Secara Verbal (dengan kata-kata)

╰⌲Yang pertama dan paling sering dilakukan secara tidak sadar adalah bullying verbal. Bullying verbal terjadi ketika pelaku melakukan intimidasi melalui kata-kata mereka kepada seorang korban bully. Intimidasi yang dilakukan seperti nama julukan buruk, celaan, hinaan, fitnah, teror, gosip, dan pernyataan-pernyataan yang masih harus diselidiki kebenarannya. Jenis bullyin ini bahkan menjadi jembatan untuk menuju bullying tingkat lanjut.

Bullying Secara Fisik

 ╰⌲Jenis bullying ini melibatkan kontak fisik antar pelaku dan korban, baik secara langsung maupun tidak langsung. Bullying jenis ini termasuk memukul, menendang, menampar, mencekik, menggigit, meludahi, bahkan menghancurkan barang-barang milik korban. Bullying jenis ini mudah untuk diidentifikasi, tetapi bullying secara fisik jarang dilakukan. Seseorang yang melakukan bullying secara fisik biasanya remaja yang bermasalah. Ada kemungkinan besar pelaku bullying ini akan cenderung melakukan tindakan kriminal di kemudian hari.

Bullying Secara Relasional (hubungan pertemanan)

╰⌲Bullying  jenis ini melibatkan banyak pelaku. Biasanya dilakukan per kelompok. Bullying tipe ini cenderung melakukan pelemahan harga diri korban bully dengan cara pengabaian, pengucilan, atau penghindaran. Sikap-sikap seperti pandangan sinis, lirikan mata, tawa mengejek, hingga bahasa tubuh yang merendahkan korbannya. Bullying tipe ini sulit untuk dideteksi dari luar. Korban dari bullying  jenis ini biasanya mengalami depresi yang luar biasa sehingga merasa tidak nyaman berada di lingkungan sekitar. 

Bullying Secara Elektronik

╰⌲Tindakan kekerasan dengan cara menyakiti orang lain melalui media elektronik. Seperti memberi komentar jelek, pencemaran nama baik lewat media sosial, dan menyebarkan rekaman video intimidasi.


ミ✧Faktor Penyebab 

Berikut beberapa faktor penyebab terjadinya bullying, yakni : 

🧩1.Faktor keluarga

⌦Pelaku bullying seringkali berasal dari keluarga yang bermasalah: orangtua yang kerap menghukum anaknya secara berlebihan atau situasi rumah yang penuh stres, agresi dan permusuhan. Anak akan mempelajari perilaku bullying ketika mengamati konflik-konflik yang terjadi pada orangtua mereka dan kemudian menirunya terhadap teman-temannya. Atau sering terjadi tindak kekerasan yang dilakukan orang tua terhadap anaknya, ketika anak tidak berani melawan orang tua, maka “perlawanan” ini ditujukan pada teman-temannya.

🧩2. Faktor sekolah

⌦Karena pihak sekolah sering mengabaikan keberadaan bullying ini, terutama pada kasus kekerasan verbal dan relasional, anak-anak sebagai pelaku bullying akan mendapatkan penguatan terhadap perilaku mereka untuk melakukan intimidasi anak-anak yang lainnya. Bullying berkembang dengan pesat dalam lingkungan sekolah yang didalamnya terdapat perilaku diskriminatif, kurangnya pengawasan dan bimbingan etika, adanya kesenjangan besar antara siswa yang kaya dan miskin, pola kedisiplinan yang sangat kaku ataupun yang terlalu lemah, bimbingan yang tidak layak dan peraturan yang tidak konsisten.

🧩3. Faktor kelompok sebaya

⌦Anak-anak ketika berinteraksi di sekolah dan dengan teman sekitar rumah kadang kala terdorong melakukan bullying untuk membuktikan bahwa mereka bisa masuk dalam kelompok tertentu, untuk mendapatkan respek dari teman, atau untuk menunjukkan di depan teman-temannya bahwa dia punya kekuatan, dia yang paling berani, dialah orang yang berkuasa dikelompoknya.

🧩4. Faktor lingkungan

⌦Lingkungan sekitar rumah sangat besar pengaruhnya terhadap perilaku bullying, misalnya anak hidup pada lingkungan orang yang sering berkelahi atau bermusuhan, berlaku tidak sesuai dengan norma yang ada, maka anak akan mudah meniru perilaku lingkungan itu dan merasa tidak bersalah, atau menganggapnya sebagai hal yang biasa yang tidak melanggar norma. Juga tayangan berita, sinetron, film, dan media cetak yang secara vulgar menyuguhkan kekerasan, secara tidak langsung memberi legitimasi perilaku kekerasan.


ミ✧Perbedaan Pengertian Bullying dan Bercanda 

Ada kalanya, arti bullying dan bercanda tidak bisa dibedakan karena keduanya bisa jadi bersifat iseng atau mengerjai anak yang menjadi korban. Namun, ada batasan yang sangat jelas antara bullying dan bercanda. Bercanda dilakukan anak-anak sebagai salah satu cara komunikasi dan bentuk interaksi sosial. Bercanda dapat mempererat hubungan pertemanan di antara anak karena mereka dapat tertawa bersama dan menjadi lebih akrab. Bahkan, sebagian bentuk candaan mungkin hanya dapat dilakukan pada anak-anak yang berteman akrab.

Sementara itu, perbedaan mencolok pengertian bullying dari candaan adalah tujuan pelaku yang melakukan perundungan karena perasaan benci dan bermaksud menyakiti. Tujuan melakukan bullying bukanlah untuk membangun hubungan, melainkan untuk mempermalukan dan menyakiti korban sehingga pelaku merasa lebih hebat. Namun, perlu diwaspadai bahwa walaupun bercanda tidak memiliki tujuan awal buruk, tetapi hal yang lucu bagi seorang anak, mungkin tidak menyenangkan bagi anak lainnya. Pada saat candaan yang tidak menyenangkan terus dilakukan berulang kali dan membuat anak lainnya tersakiti, maka bercanda pun bisa berubah menjadi bullying.


ミ✧Dampak Bullying 

Bullying berdampak pada kesehatan mental terutama pada anak-anak dan remaja. Pelaku yang melakukan pembullyan bisa memberi pengaruh buruk pada kesehatan fisik dan mental korbannya. Dampak paling fatal dari kasus bullying adalah tindakan bunuh diri yang dilakukan oleh korban.

πŸ’‘Dampak Bullying bagi Korban

▪︎Memicu depresi, stress, gangguan kesehatan mental, sampai memicu kemarahan.

▪︎Berdampak pada menurunkan tingkat kecerdasan dan kemampuan analisis anak-anak

▪︎Remaja dan anak-anak yang mendapat perilaku bullying akan menurun secara akademik dan memilih mengasingkan diri.

πŸ’‘Dampak Bullying pada Pelaku

▪︎Perilaku berubah menjadi agresif, menyukai kekerasan, mudah marah, impulsif, dan toleransi rendah

▪︎Kurang berempati dan lebih menyukai mendominasi orang lain

▪︎Pelaku merasa harga diri tinggi dan percaya diri

▪︎Menyukai kekuasaan untuk merendahkan orang lain

πŸ’‘Dampak bagi yang Menyaksikan

▪︎Jika dibiarkan terus-menerus, penonton yang menyaksikan bullying merasa bahwa perilaku tersebut dianggap biasa. Penonton akan berpikir bahwa perilaku ini bisa diterima secara sosial, bahkan bisa meniru perilaku terutama anak-anak.

▪︎Para penonton memilih menjadi penindas karena takut mereka akan menjadi korban selanjutnya. Sedangkan beberapa orang memilih diam tanpa bertindak atau menghentikan aksi bullying tersebut.


ミ✧Cara Mengatasi Tindakan Bullying 

Bullying bisa diatasi dengan mencegah sejak dini seperti ketika masih anak-anak, keluarga, sekolah, dan masyarakat. Berikut beberapa cara mengatasi bullying:

πŸ’¦Masa Anak-anak

▪︎Beri pengetahuan dan cara untuk mampu melawan tindakan bullying

▪︎Beri contoh cara seperti mendukung, mendamaikan, dan melaporkan pada orang dewasa untuk membantu korban bullying

πŸ’¦Keluarga

▪︎Tanamkan rasa kasih sayang dan nilai keagamaan pada anak-anak

▪︎Beri perhatian dan interaksi pada anak-anak untuk memberikan kemampuan berani dan tegas

▪︎Bantu anak untuk mengembangkan kemampuan sosialisasi, percaya diri, dan tegas

▪︎Mengajarkan rasa peduli dan etika pada sesama

▪︎Mendampingi anak untuk melihat informasi di media sosial atau televisi

πŸ’¦ Sekolah

▪︎Pendidik membuat program pencegahan anti bullying dan hukuman bagi pelaku yang melakukan tindakan tersebut

▪︎Membangun diskusi dan ceramah tentang mengatasi aksi penindasan

▪︎Memberi bantuan dan dukungan pada korban bullying


Itulah pengertian, jenis-jenis bullying, faktor penyebab dan dampak dari bullying yang sering dilakukan di kalangan masyarakat. Kira-kira kamu pernah melakukan salah satu dari keempat jenis bullying di atas, tidak? Kalau pernah melakukan semuanya, jangan dilakukan lagi, ya sobat DuPi. Bullying dalam bentuk apa pun sama sekali nggak keren!


Sumber:

▪︎psychology.binus.ac.id

▪︎katadata.co.id



Kamis, Februari 24, 2022

Kepribadian Ganda (DID) Dissosiatif Identity Disorder

Halo sahabat DuPi di mana pun berada? Apa kabar? Kembali lagi dengan dunia psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara.

Kali ini kita akan membahas tentang dua kepribadian yang ada dalam satu tubuh yang sering kita sebut kepribadian ganda DID, di mana hal ini terjadi tanpa disadari oleh orang tersebut. Dan yang perlu sobat DuPi ketahui bahwa kepribadian ganda ini berbeda ya dengan alter ego 'topeng'.


🏡️ Definisi Dissociative Identity Disorder

Dissociative identity disorder (DID disorder) adalah kondisi yang membuat penderitanya mengembangkan satu atau lebih kepribadian alternatif yang diketahui secara sadar maupun tidak oleh penderitanya. Kondisi ini memiliki banyak sebutan di antaranya adalah split disorder, multiple personality disorder, atau kepribadian ganda.

Dissociative identity disorder merupakan salah satu jenis utama dari gangguan disosiatif, menurut DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders). Gangguan disosiatif sendiri merupakan penyakit mental yang menyebabkan kerusakan memori, identitas, dan fungsi mental lainnya yang mendukung seseorang untuk beraktivitas dengan lancar.

Dissociative identity disorder adalah penyakit mental yang cukup langka terjadi, tetapi bisa menyerang segala usia. Dilansir dari laman Cleveland Clinic, penyakit mental ini lebih banyak ditemukan pada wanita ketimbang pria.


🏡️ Tanda dan Gejala Dissociative Identity Disorder

Gejala khas pada orang dengan DID disorder adalah memiliki dua atau lebih kepribadian yang berbeda. Kepribadian lain yang dimiliki penderitanya ini disebut dengan kepribadian alternatif, sementara kepribadian aslinya disebut dengan kepribadian inti.

Setiap kepribadian alternatif pada orang dengan multiple personality disorder, memiliki ciri individu dan cara berpikir yang berbeda. Kepribadian alternatif yang dimiliki juga bisa memiliki nama dan perilaku yang berbeda. Bahkan, mungkin saja memiliki jenis kelamin yang berbeda.

Saat kepribadian alternatif muncul, penderitanya akan mengalami amnesia (hilang ingatan). Itulah sebabnya, si penderita umumnya tidak menyadari adanya kepribadian alternatif maupun ingatan mengenai apa yang dilakukan saat kepribadian alternatif mengambil alih. Dalam beberapa kasus, orang dengan kepribadian ganda ini mengambil keuntungan dari kepribadian alternatif yang dimilikinya.

Sebagai contoh, orang dengan kepribadian inti yang pemalu, dapat menggunakan kepribadian alternatif untuk menjadi lebih tegas dan mudah bergaul. Biasanya pergantian kepribadian ini muncul akibat dipicu oleh stres dan peristiwa traumatis. Meskipun begitu, penderita split disorder ini sangat mungkin menghadapi masalah dalam kehidupannya sehari-hari. Ia mungkin saja menemukan barang-barang di rumah yang ia tidak ingat kapan membelinya. Mereka juga kesulitan untuk menjalin hubungan dengan orang-orang di sekitar karena tidak mengenal keluarga atau orang terdekat ketika kepribadian alternatif mengambil alih.


🏡️ Gejala Psikologis yang Mungkin Mucul

Orang dengan dissociative identity disorder juga banyak mengalami gejala psikologis yang juga ada pada penyakit mental lain, di antaranya adalah:

▪︎Sakit kepala parah dan nyeri-nyeri pada tubuh.

▪︎Derealization, yakni perasaan bahwa lingkungan sekitarnya asing, aneh, atau tidak nyata.

▪︎Suasana hati mudah berubah atau depresi.

▪︎Depersonalisasi, yakni merasa jiwanya terlepas dari raganya.

▪︎Amnesia atau merasakan distorsi waktu.

▪︎Gangguan tidur, seperti sering mengalami mimpi buruk atau sleep walking.

▪︎Cenderung memiliki gangguan makan.

▪︎Halusinasi, yakni persepsi palsu terhadap sesuatu, seperti mendengar suara yang sebenarnya tidak ada.

▪︎Timbul masalah seks, seperti gairah seks menurun.

▪︎Penggunaan obat-obatan terlarang.

▪︎Keinginan melukai diri dan hampir 70% orang dengan split disorder pernah melakukan percobaan bunuh diri.


🏡️ Penyebab Dissociative Identity Disorder

Penyebab utama dari dissociative identity disorder adalah pernah mengalami peristiwa traumatis. Sekitar 90% orang dengan kondisi ini pernah memiliki riwayat kekerasan seksual, maupun emosional parah. 

Memiliki kepribadian ganda sering dianggap sebagai mekanisme perlindungan diri pada seseorang dari situasi yang membuatnya stres, tertekan, dan trauma. Dengan begitu, orang yang memiliki kepribadian alternatif bisa melawan rasa sakit fisik atau emosional yang timbul akibat pengalaman yang menyakitkan.

Saat kepribadian alternatif mengendalikan penderitanya, akan ada batasan yang tercipta antara dirinya dengan peritiwa yang membuatnya trauma. Batasan tersebut akhirnya bisa membuat penderitanya mampu mempertahankan fungsi dirinya dalam kehidupan sehari-hari, seolah peristiwa traumatis tidak pernah terjadi.

Episode peralihan kepribadian dapat dipicu oleh berbagai hal, baik itu peristiwa traumatis yang menjadi penyebab, maupun peristiwa ringan, seperti :

- Melihat kecelakaan lalu lintas.

- Mengalami stres atau tertekan.

- Melihat kejadian pelecehan seksual atau kekerasan.


🏡️ Bagaimana Cara Mendiagnosis Dissociative Identity Disorder?

Tidak ada tes laboratorium khusus untuk mendiagnosis kepribadian ganda. Meski begitu, tes darah, CT scan, maupun MRI mungkin diperlukan untuk menyingkirkan masalah kesehatan tertentu. Selain itu, dokter ahli kejiwaan mungkin akan memintamu menjalani serangkaian tes berupa pemeriksaan fisik dan test psikiatri.


🏡️ Pengobatan Dissociative Identity Disorder

Tujuan pengobatan dissociative identity disorder adalah untuk meredakan gejala, memastikan keselamatan pasien dan orang di sekitarnya, serta “menghubungkan kembali” kepribadian yang berbeda menjadi satu identitas yang terintegrasi dan berfungsi dengan baik. 

Pengobatan juga bertujuan untuk membantu pasien multiple personality disorder memproses kembali ingatan yang menyakitkan, sehingga bisa membantu mengembangkan keterampilan untuk mengatasi hal tersebut.

Pendekatan pengobatan terbaik tergantung pada individu, sifat pemicu yang dapat diidentifikasi, dan tingkat keparahan gejala.

Berikut ini adalah berbagai pengobatan untuk mengatasi kepribadian ganda:

πŸ”– Terapi perilaku kognitif

⌦Terapi perilaku kognitif dilakukan untuk mengubah pola pikir, perasaan, perilaku menjadi lebih baik dan kembali berfungsi normal.

πŸ”– Eye Movement Desensitization and Reprocessing (EMDR)

⌦EMDR adalah teknik pengobatan untuk mengatasi mimpi buruk terus-menerus dan kilas balik pada peristiwa traumatis.

πŸ”– Terapi perilaku dialektik (DBT)

⌦Jenis psikoterapi ini dilakukan untuk orang dengan gejala split disorder yang parah, terutama pada mereka yang mengalami pelecehan seksual.

πŸ”– Penggunaan obat

⌦Tidak ada obat untuk mengobati sendiri gangguan disosiatif. Namun, orang dengan kondisi ini, terutama yang berkaitan dengan depresi dan atau gangguan kecemasan, dapat diresepkan obat antidepresan atau obat anticemas.



Sumber : 

▪︎ hellosehat.com


________________________________

Mengenal Kepribadian Ekstrovert

Halo Sabahat DuPi di mana pun berada, apa kabar? Kembali lagi dengan Dunia psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara. Minggu lalu...