Senin, Juni 27, 2022
Apasi Overthingking Itu?
Sabtu, Juni 25, 2022
Pentingnya Self-Talk
Apakah Self-Talk Berbahaya?
Halo
sobat DuPi! Bagaimana kabarnya? Semoga dalam keadaan yang baik serta sehat
selalu ya. Kembali lagi dengan Dunia psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara. Baik, disini saya akan menjelaskan mengenai self-talk.
Sobat
semua apakah pernah melakukan self-talk?
Atau malah memendam semuanya? Alangkah baiknya, perasaan serta pikiran tersebut
diluapkan ya sobat. Apakah kamu pernah mengajak berbicara sendiri dengan diri
kamu? Seperti berbagi pikiran, pendapat serta pertanyaan. Lantas apakah hal
tersebut baik bagi kesehatan?
Berbicara sendiri, sehat atau gangguan jiwa? Pernahkah kamu
berbicara dengan diri sendiri? Mungkin banyak orang berpikir bicara sendiri
atau self-talk terkait erat dengan
gangguan jiwa seperti skizofrenia
atau semacamnya. Akibatnya,
banyak orang merasa tidak nyaman berbicara dengan diri sendiri. Padahal, hal
tersebut tak sepenuhnya benar.
James
McConnell, seorang ahli biologi dan ahli
psikologi hewan Amerika, mengatakan bahwa berbicara sendiri sebenarnya sehat
secara psikologis. Hal serupa juga diungkapkan oleh Jill Bolte Taylor, seorang ahli saraf. Begitu banyak
manfaat ketika seseorang berbicara dengan dirinya, selain sebagai proses
memahami dirinya. Hal tersebut dapat membantu juga untuk menghilangkan rasa
stress.
Dikutip dari laman Healthline, self-talk adalah dialog
atau percakapan internal pada diri
sendiri yang dipengaruhi oleh pikiran bawah sadar dengan mengungkapkan pikiran,
pertanyaan, serta gagasan, yang diucapkan dalam hati atau disuarakan secara
lantang sehingga menjadi sugesti bagi diri sendiri. Dapat dikatakan juga self-talk adalah suatu keadaan ketika seseorang sedang bermonolog
dan hal ini membantu diri sendiri menjadi lebih
sadar dalam berpikir, merasa, dan bertindak.
Jenis self-talk itu ada apa
aja?
Dilansir dari Tirto.id, self-talk terdapat
dua jenis yaitu self-talk negatif
dan positif. Dalam hal negatif, self-talk cenderung
kepada pikiran yang bersifat pesimistis, tidak percaya diri, dan mudah
menyerah. Jika terjadi secara berkelanjutan, tentunya dapat
mempengaruhi pola pikir dan berakibatkan overthinking.
Namun, enggak usah khawatir sebab hal tersebut dapat dihentikan dengan pikiran
optimistis, yang disebut sebagai self-talk positif. Hmmm,
mengapa demikian, ya?
Diperoleh dari Kompasiana, menurut Robert
S. Weinberg, psikolog dari Miami University, seseorang
yang memilki self-talk positif
tidak akan mudah putus asa, melainkan akan terus berusaha mencapai tujuan
dengan menjadikan kegagalan atau kesalahan sebagai pelajaran. Dengan kata
lain self-talk positif dapat membangun kepercayaan diri seseorang dan membuat
perasaan seseorang merasa lebih baik.
Lantas apa sih manfaat
dari self-talk positif?
Menukil dari Tirto.id, dalam sebuah studi yang dihimpun dalam Journal of Personality and Social
Psychology, self-talk positif
memiliki lima manfaat di antaranya: membantu berdamai dengan situasi yang tidak
bisa dikontrol, membantu meredakan stress, meningkatkan perfomansi diri,
menjadi pribadi yang senantiasa beraura positif, serta membantu diri
melakukan self-reflection.
Wah, keren banget kan.
Selain itu, dengan melakukan self-talk positif, situasi
yang ditakutkan akan mudah dilewati. Self-talk positif
dapat membantu mencari solusi dengan kepala dingin, juga memberikan efek yang
membuat pikiran lebih sehat dan fokus terhadap suatu hal. Penting untuk
diingat, sesuatu yang positif akan membuahkan hasil yang positif pula. Namun perlu
diingat, bahwa berpikiran selalu positif dapat mengakibatkan toxic positivity yang membuat kamu sulit
untuk merasa terbuka atas perasaan yang kamu alami.
Cara mengatasi negatif self-talk dengan mudah. Berikut beberapa strategi
cara mengatasi negatif self-talk yang
perlu kamu coba:
Sadari ketika sedang mengkritik: hal
pertama yang perlu dilakukan adalah menyadari bahwa kamu sedang mengkritik diri
sendiri dengan pikiran negatif. Ketika sudah menyadari, berarti kamu memahami
bahwa itu tidak baik dan perlu dihentikan. Kritik negatif tersebut tidak
selayaknya dikatakan pada diri sendiri, seperti ketika kamu tidak boleh
mengatakannya pada orang lain.
Walaupun begitu, self-talk
sendiri dapat dihentikan jika sudah hal tersebut sudah terasa tidak nyaman.
Ubah menjadi netralitas: ubah pikiran
negatif menjadi pikiran yang lebih netral. Misalnya:
"Saya tidak tahan ini" ubahlah menjadi, "Ini
menantang."
"Saya benci ..." ubahlah menjadi, "Saya
tidak suka ..."
Dengan menggunakan bahasa yang lebih
lembut, perlahan pikiran negatif akan tenang dengan lebih mudah.
Selalu bertanya: bertanyalah kepada diri
sendiri, seberapa benar pikiran negatif yang sedang dipikirkan. Apakah benar,
atau justru kamu hanya berpikir berlebihan. Sebagian besar pikiran negatif
memang selalu dilebih-lebihkan, hingga jauh dari realitas. Hal ini
juga dapat menimbulkan overthinking
yang padahal tersebut belum tentu terjadi.
Ubah perspektif: terkadang melihat
sesuatu dalam jangka panjang dapat membantu kamu menyadari bahwa kamu sudah
terlalu menekankan sesuatu. Ubah perspektif kamu dengan mendalami dan melihat
masalah kamu dari jarak yang sangat jauh. Kamu perlu keluar dari dalam pikiran
dan memandang masalah sebagai objek yang netral. Perlu sekali
untuk kamu memahami sesuatu dari berbagai sudut pandang lain, selain untuk
meringankan beban pikiran. Hal ini dapat membantu kamu untuk menemukan jawaban
serta solusi atas masalah yang sedang kamu hadapi.
Ganti menjadi hal yang lebih baik: cara
mengatasi negatif self-talk juga bisa
dengan mengganti pikiran negatif dengan hal yang lebih baik. Kamu bisa melihat
sisi positif dari masalah yang terjadi untuk mengalahkan pikiran negatif yang
sedang terjadi. Hal ini dapat membuat perasaan dan pikiran menjadi lebih
tenang.
Referensi :
Walter, N., Nikoleizig, L., &
Alfermann, D. (2019). Effects of Self-Talk Training on Competitive Anxiety,
Self-Efficacy, Volitional Skills, and Performance: An Intervention Study with
Junior Sub-Elite Athletes. Sports (Basel, Switzerland). 7(6), pp. 148.
Jantz, G. Psychology Today (2016). The
Power of Positive Self-Talk. Psychology Today. Self-Talk.
Health Direct (2019). Self-Talk.
Holland, K. Healthline (2020). Positive
Self-Talk: How Talking to Yourself Is a Good Thing.
Senin, Juni 20, 2022
Open Minded
Halo sabahat DuPi di mana pun berada, apa kabar? Kembali lagi dengan Dunia psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara.
Temen-temen sebelumnya udah pada tau belum sih apa itu open minded?
Nah, jadi teman-teman open minded adalah berfikir terbuka. Berpikiran terbuka umumnya dianggap sebagai kualitas positif. Ini adalah kemampuan yang diperlukan untuk berpikir kritis dan rasional.
Berfikir terbuka itu sangat penting loh. Berfikir terbuka dapat memudahkan anda untuk melihat semua faktor yang berkontribusi terhadap masalah atau menghasilkan solusi yang efektif.
Tidak berarti bahwa berpikiran terbuka itu mudah loh. Bersikap terbuka terhadap ide dan pengalaman baru kadang juga dapat menyebabkan kebingungan dan disonansi kognitif ketika kita mempelajari hal-hal baru yang bertentangan dengan kepercayaan yang ada.
Kebalikan dari pikiran terbuka adalah pikiran tertutup atau dogmatis. Orang yang berpikiran tertutup biasanya hanya mau mempertimbangkan sudut pandang mereka sendiri dan tidak mau menerima gagasan lain.
Berpikiran terbuka berarti memiliki kemampuan untuk mempertimbangkan perspektif lain dan berusaha untuk berempati terhadap orang lain, bahkan ketika Anda tidak setuju dengan mereka.
Akan tetapi, pikiran terbuka juga memiliki batasnya.Itu tidak menyiratkan bahwa Anda harus bersimpati dengan setiap ideologi. Tetapi berusaha memahami faktor-faktor yang mungkin mengarah pada ide-ide itu dapat membantu dalam menemukan cara untuk membujuk orang untuk mengubah pikiran mereka.
Karakteristik dan Tanda-tanda Orang Open Minded
•Mereka penasaran mendengar apa yang dipikirkan orang lain.
•Mereka dapat ditantang gagasannya.
•Mereka tidak marah ketika mereka salah.
•Mereka memiliki empati terhadap orang lain.
•Mereka berpikir tentang apa yang dipikirkan orang lain.
•Mereka rendah hati tentang pengetahuan dan keahlian mereka sendiri.
•Mereka ingin mendengar apa yang dikatakan orang lain.
•Mereka percaya bahwa orang lain memiliki hak untuk membagikan kepercayaan dan pikiran mereka.
Manfaat Menjadi Berpikiran Terbuka
Apa manfaat dari menjadi lebih berpikiran terbuka?
1. Memiliki Pengalaman Baru:
Terbuka untuk ide-ide lain juga dapat membuka Anda terhadap pengalaman baru.
2. Mencapai Pertumbuhan Pribadi:
Menjaga pikiran terbuka dapat membantu Anda tumbuh sebagai pribadi. Anda belajar hal-hal baru tentang semua yang anda belum ketahui sebelumnya.
3. Menjadi Kuat Secara Mental:
Tetap terbuka terhadap gagasan dan pengalaman baru dapat membantu Anda menjadi orang yang lebih kuat dan lebih bersemangat. Pengalaman dan pengetahuan Anda terus saling membangun.
4. Merasa Lebih Optimis:
Salah satu masalah dengan tetap berpikiran tertutup adalah sering menimbulkan perasaan negatif yang lebih besar. Bersikap terbuka dapat membantu menginspirasi sikap yang lebih optimis terhadap kehidupan dan masa depan.
5. Mempelajari Hal-Hal Baru:
Sulit untuk terus belajar ketika Anda mengelilingi diri Anda dengan ide-ide lama yang sama. Mendorong batas-batas Anda dan menjangkau orang-orang dengan berbagai perspektif dan pengalaman dapat membantu menjaga pikiran Anda tetap segar.
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Open-Mindedness
Ada beberapa hal yang dapat memengaruhi seberapa terbuka atau tertutupnya seseorang:
1. Kepribadian
Keterbukaan terhadap pengalaman adalah salah satu dari lima dimensi luas yang membentuk kepribadian manusia. Ciri kepribadian ini memiliki banyak sifat yang sama dengan pikiran terbuka, seperti mau mempertimbangkan pengalaman dan gagasan baru dan terlibat dalam pemeriksaan diri.
2. Keahlian
Penelitian menunjukkan bahwa orang berharap para ahli menjadi lebih dogmatis tentang bidang keahlian mereka. Ketika orang merasa bahwa mereka lebih berpengetahuan atau terampil dalam suatu bidang daripada orang lain, mereka cenderung berpikiran terbuka.
3. Nyaman dengan Ambiguitas
Orang memiliki berbagai tingkat kenyamanan ketika berhadapan dengan ketidakpastian. Terlalu banyak ambiguitas membuat orang merasa tidak nyaman dan bahkan tertekan.
Cara Memiliki Pemikiran Yang Terbuka
1. Bijaklah dalam merespons suatu informasi
Salah satu yang membedakan antara orang yang open minded dan close minded adalah cara mereka dalam merespons suatu informasi. Orang yang close minded atau berpikiran tertutup umumnya akan menanggapi suatu informasi atau pendapat yang berbeda dengan emosi. Sebaliknya, orang yang berpikiran terbuka atau open minded menanggapi suatu hal yang berbeda dengan santai.
2. Rajin bersosialisasi dan perluas lingkaran pertemanan
Dengan memperluas lingkaran pertemanan, kamu akan banyak mempelajari hal-hal baru dan pemikiran yang berbeda-beda yang akan memperluas wawasanmu.
3. Jauhi kebiasaan berasumsi
Daripada banyak berasumsi dan menebak-nebak, jauh lebih baik kalau kamu mencari tahu secara langsung. Selain dapat membuat dirimu lebih yakin, tentunya kamu juga akan mendapatkan pengalaman yang tidak akan kamu dapatkan jika hanya terus berasumsi.
4. Perbanyak pengalaman
Pengalaman yang kamu dapatkan juga bisa memberikanmu perspektif yang baru terhadap suatu hal.
5. Jangan kaku
Untuk menjadi orang yang lebih open minded, kamu harus bersikap fleksibel dalam menerima hal-hal baru. Semakin banyak mencoba hal-hal baru, menemui orang-orang baru, dan berusaha merangkul ide-ide baru, kamu akan banyak mengalami keberhasilan, bahagia, bangga, gagal, kecewa, hingga sedih.
Nah, itu dia pemaparan mengenai open minded. Ayo ciptakan pemikiran yang terbuka, untuk generasi yang terampil.
Penulis : Aliya Jahwania
Referensi :
• m.merdeka.com
• idn.times.com
Mengenal Kepribadian Ekstrovert
Halo Sabahat DuPi di mana pun berada, apa kabar? Kembali lagi dengan Dunia psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara. Minggu lalu...
-
Apakah Self-Talk Berbahaya? Halo sobat DuPi! Bagaimana kabarnya? Semoga dalam keadaan yang baik serta sehat selalu ya. Kembali lagi dengan ...
-
Halo sobat DuPi di mana pun kalian berada, semoga kalian sehat selalu ya ... Ketemu lagi dengan Dunia Psikologi, satu-dua telinga untuk ...
-
Art Therapy Dapat Mengurangi Stress? Halo sobat DuPi! Bagaimana kabarnya? Semoga dalam keadaan yang baik serta sehat selalu ya. Baik, d...