Senin, Juni 27, 2022

Apasi Overthingking Itu?

Halo sabahat DuPi di mana pun berada, apa kabar? Kembali lagi dengan Dunia psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara.


Kali ini kita akan membahas tentang overthingking. Sebelumnya udah pada tahu belum si apa itu overthingking?


overthinking tidak sama dengan stres atau khawatir tentang keadaan tertentu. Pasalnya, overthinking adalah cara otak untuk mencoba mengendalikan situasi dan merasa lebih percaya diri tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya. Ketika seseorang terlalu banyak berpikir, otak akan beralih ke "mode analisis". Juga, mulai memikirkan skenario yang mungkin terjadi dan upaya untuk memprediksi apa yang akan terjadi untuk mengurangi kecemasan.


Overthingking kerap kali muncul karena seseorang terus mengingat dan memikirkan hal-hal tertentu yang lahir dari berbagai keadaan. Ia bisa jadi muncul dari kenangan pilu di masa silam, kesalahan yang kita sesali hingga bayang-bayang kegagalan yang berisiko terjadi.


Overthingking ternyata dapat menjadi kondisi yang berbahaya. Penelitian telah menunjukkan bahwa overthinking dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan mental. Apabila kesehatan mental terganggu, kemungkinan overthingking menjadi lebih tinggi sehingga akan lebih sulit mencari cara menghilangkan overthingking tersebut.


Ahli menyatakan ada dua penyebab utama seseorang overthingking, yaitu tingkat stres dan kecemasan yang tinggi. Beberapa penyebab lain seperti rendah diri atau meragukan diri sendiri juga bisa menjadi penyebabnya.


Lalu, gimana cara mengatasi overthingking itu?

Berikut adalah 5 cara mengatasi overthinking:

1. Sadari bagaimana diri menanggapi pikiran
Cara seseorang menanggapi pikiran terkadang dapat membuatnya berada dalam siklus perenungan atau pemikiran yang berulang. Jika mendapati diri terus memikirkan hal-hal tertentu dalam pikiran, perhatikan bagaimana hal itu memengaruhi suasana hati.


2. Cari pengalih perhatian
Atasi overthinking dengan melibatkan diri dalam aktivitas yang disukai seperti mendengarkan musik, berolahraga, dan lain sebagainya. Mengalihkan overthinking dengan kegiatan yang disukai akan berdampak positif.


3. Ambil napas dalam-dalam
Saran yang satu ini mungkin terdengar sederhana, tetapi ini dapat memberikan hasil. Jika mendapati diri tengah melamun dan overthinking, tutup mata dan tarik napas dalam-dalam.


4. Meditasi
Mengembangkan latihan meditasi secara teratur adalah cara yang didukung bukti ilmiah untuk membantu menjernihkan pikiran. Bahkan, hanya 5 menit latihan meditasi di tempat yang tenang dapat memberikan efek yang positif.


5. Pertimbangkan sudut pandang lain
Membayangkan sesuatu dari sudut pandang yang berbeda dapat membantu mengatasi beberapa kebisingan di dalam pikiran. Mulailah lihat peristiwa atau kejadian dari sudut pandang yang berbeda.


Nah, itu dia pengertian mengenai apa itu overthingking. Jadi, teman-teman overthingking itu ga baik ya, untuk teman-teman yang sering melakukan overthingking mulai sekarang kurangin overthingking itu ya. 




Penulis : Aliya Jahwania

Referensi :
health.detik.com
kompas.com

Sabtu, Juni 25, 2022

Pentingnya Self-Talk

Apakah Self-Talk Berbahaya?

Halo sobat DuPi! Bagaimana kabarnya? Semoga dalam keadaan yang baik serta sehat selalu ya. Kembali lagi dengan Dunia psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara. Baik, disini saya akan menjelaskan mengenai self-talk.

Sobat semua apakah pernah melakukan self-talk? Atau malah memendam semuanya? Alangkah baiknya, perasaan serta pikiran tersebut diluapkan ya sobat. Apakah kamu pernah mengajak berbicara sendiri dengan diri kamu? Seperti berbagi pikiran, pendapat serta pertanyaan. Lantas apakah hal tersebut baik bagi kesehatan?

Berbicara sendiri, sehat atau gangguan jiwa? Pernahkah kamu berbicara dengan diri sendiri? Mungkin banyak orang berpikir bicara sendiri atau self-talk terkait erat dengan gangguan jiwa seperti skizofrenia atau semacamnya. Akibatnya, banyak orang merasa tidak nyaman berbicara dengan diri sendiri. Padahal, hal tersebut tak sepenuhnya benar.

James McConnell, seorang ahli biologi dan ahli psikologi hewan Amerika, mengatakan bahwa berbicara sendiri sebenarnya sehat secara psikologis. Hal serupa juga diungkapkan oleh Jill Bolte Taylor, seorang ahli saraf. Begitu banyak manfaat ketika seseorang berbicara dengan dirinya, selain sebagai proses memahami dirinya. Hal tersebut dapat membantu juga untuk menghilangkan rasa stress.

Dikutip dari laman Healthlineself-talk adalah dialog atau percakapan internal pada diri sendiri yang dipengaruhi oleh pikiran bawah sadar dengan mengungkapkan pikiran, pertanyaan, serta gagasan, yang diucapkan dalam hati atau disuarakan secara lantang sehingga menjadi sugesti bagi diri sendiri. Dapat dikatakan juga self-talk adalah suatu keadaan ketika seseorang sedang bermonolog dan hal ini membantu diri sendiri menjadi lebih sadar dalam berpikir, merasa, dan bertindak.

Jenis self-talk itu ada apa aja?

Dilansir dari Tirto.id, self-talk terdapat dua jenis yaitu self-talk negatif dan positif. Dalam hal negatif, self-talk cenderung kepada pikiran yang bersifat pesimistis, tidak percaya diri, dan mudah menyerah. Jika terjadi secara berkelanjutan, tentunya dapat mempengaruhi pola pikir dan berakibatkan overthinking. Namun, enggak usah khawatir sebab hal tersebut dapat dihentikan dengan pikiran optimistis, yang disebut sebagai self-talk positif. Hmmm, mengapa demikian, ya?

Diperoleh dari Kompasiana, menurut Robert S. Weinberg, psikolog dari Miami University, seseorang yang memilki self-talk positif tidak akan mudah putus asa, melainkan akan terus berusaha mencapai tujuan dengan menjadikan kegagalan atau kesalahan sebagai pelajaran. Dengan kata lain self-talk positif dapat membangun kepercayaan diri seseorang dan membuat perasaan seseorang merasa lebih baik.

Lantas apa sih manfaat dari self-talk positif?

Menukil dari Tirto.id, dalam sebuah studi yang dihimpun dalam Journal of Personality and Social Psychologyself-talk positif memiliki lima manfaat di antaranya: membantu berdamai dengan situasi yang tidak bisa dikontrol, membantu meredakan stress,  meningkatkan perfomansi diri, menjadi pribadi yang senantiasa beraura positif, serta membantu diri melakukan self-reflection. Wah, keren banget kan.

Selain itu, dengan melakukan self-talk positif, situasi yang ditakutkan akan mudah dilewati. Self-talk positif dapat membantu mencari solusi dengan kepala dingin, juga memberikan efek yang membuat pikiran lebih sehat dan fokus terhadap suatu hal. Penting untuk diingat, sesuatu yang positif akan membuahkan hasil yang positif pula. Namun perlu diingat, bahwa berpikiran selalu positif dapat mengakibatkan toxic positivity yang membuat kamu sulit untuk merasa terbuka atas perasaan yang kamu alami.

Cara mengatasi negatif self-talk dengan mudah. Berikut beberapa strategi cara mengatasi negatif self-talk yang perlu kamu coba:

Sadari ketika sedang mengkritik: hal pertama yang perlu dilakukan adalah menyadari bahwa kamu sedang mengkritik diri sendiri dengan pikiran negatif. Ketika sudah menyadari, berarti kamu memahami bahwa itu tidak baik dan perlu dihentikan. Kritik negatif tersebut tidak selayaknya dikatakan pada diri sendiri, seperti ketika kamu tidak boleh mengatakannya pada orang lain. Walaupun begitu, self-talk sendiri dapat dihentikan jika sudah hal tersebut sudah terasa tidak nyaman.

Ubah menjadi netralitas: ubah pikiran negatif menjadi pikiran yang lebih netral. Misalnya:

"Saya tidak tahan ini" ubahlah menjadi, "Ini menantang."

"Saya benci ..." ubahlah menjadi, "Saya tidak suka ..."

Dengan menggunakan bahasa yang lebih lembut, perlahan pikiran negatif akan tenang dengan lebih mudah.

Selalu bertanya: bertanyalah kepada diri sendiri, seberapa benar pikiran negatif yang sedang dipikirkan. Apakah benar, atau justru kamu hanya berpikir berlebihan. Sebagian besar pikiran negatif memang selalu dilebih-lebihkan, hingga jauh dari realitas. Hal ini juga dapat menimbulkan overthinking yang padahal tersebut belum tentu terjadi.

Ubah perspektif: terkadang melihat sesuatu dalam jangka panjang dapat membantu kamu menyadari bahwa kamu sudah terlalu menekankan sesuatu. Ubah perspektif kamu dengan mendalami dan melihat masalah kamu dari jarak yang sangat jauh. Kamu perlu keluar dari dalam pikiran dan memandang masalah sebagai objek yang netral. Perlu sekali untuk kamu memahami sesuatu dari berbagai sudut pandang lain, selain untuk meringankan beban pikiran. Hal ini dapat membantu kamu untuk menemukan jawaban serta solusi atas masalah yang sedang kamu hadapi.

Ganti menjadi hal yang lebih baik: cara mengatasi negatif self-talk juga bisa dengan mengganti pikiran negatif dengan hal yang lebih baik. Kamu bisa melihat sisi positif dari masalah yang terjadi untuk mengalahkan pikiran negatif yang sedang terjadi. Hal ini dapat membuat perasaan dan pikiran menjadi lebih tenang.



Referensi :

Walter, N., Nikoleizig, L., & Alfermann, D. (2019). Effects of Self-Talk Training on Competitive Anxiety, Self-Efficacy, Volitional Skills, and Performance: An Intervention Study with Junior Sub-Elite Athletes. Sports (Basel, Switzerland). 7(6), pp. 148.

Jantz, G. Psychology Today (2016). The Power of Positive Self-Talk. Psychology Today. Self-Talk.

Health Direct (2019). Self-Talk.

Holland, K. Healthline (2020). Positive Self-Talk: How Talking to Yourself Is a Good Thing.

Senin, Juni 20, 2022

Open Minded

Halo sabahat DuPi di mana pun berada, apa kabar? Kembali lagi dengan Dunia psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara.


Temen-temen sebelumnya udah pada tau belum sih apa itu open minded? 


Nah, jadi teman-teman open minded adalah berfikir terbuka. Berpikiran terbuka umumnya dianggap sebagai kualitas positif. Ini adalah kemampuan yang diperlukan untuk berpikir kritis dan rasional. 


Berfikir terbuka itu sangat penting loh. Berfikir terbuka dapat memudahkan anda untuk melihat semua faktor yang berkontribusi terhadap masalah atau menghasilkan solusi yang efektif.


Tidak berarti bahwa berpikiran terbuka itu mudah loh. Bersikap terbuka terhadap ide dan pengalaman baru kadang juga dapat menyebabkan kebingungan dan disonansi kognitif ketika kita mempelajari hal-hal baru yang bertentangan dengan kepercayaan yang ada.


Kebalikan dari pikiran terbuka adalah pikiran tertutup atau dogmatis. Orang yang berpikiran tertutup biasanya hanya mau mempertimbangkan sudut pandang mereka sendiri dan tidak mau menerima gagasan lain.


Berpikiran terbuka berarti memiliki kemampuan untuk mempertimbangkan perspektif lain dan berusaha untuk berempati terhadap orang lain, bahkan ketika Anda tidak setuju dengan mereka.  


Akan tetapi, pikiran terbuka juga memiliki batasnya.Itu tidak menyiratkan bahwa Anda harus bersimpati dengan setiap ideologi. Tetapi berusaha memahami faktor-faktor yang mungkin mengarah pada ide-ide itu dapat membantu dalam menemukan cara untuk membujuk orang untuk mengubah pikiran mereka.


Karakteristik dan Tanda-tanda Orang Open Minded


•Mereka penasaran mendengar apa yang dipikirkan orang lain. 

•Mereka dapat ditantang gagasannya.

•Mereka tidak marah ketika mereka salah.

•Mereka memiliki empati terhadap orang lain.

•Mereka berpikir tentang apa yang dipikirkan orang lain.

•Mereka rendah hati tentang pengetahuan dan keahlian mereka sendiri.

•Mereka ingin mendengar apa yang dikatakan orang lain.

•Mereka percaya bahwa orang lain memiliki hak untuk membagikan kepercayaan dan pikiran mereka.


Manfaat Menjadi Berpikiran Terbuka


Apa manfaat dari menjadi lebih berpikiran terbuka?


1. Memiliki Pengalaman Baru: 

Terbuka untuk ide-ide lain juga dapat membuka Anda terhadap pengalaman baru.


2. Mencapai Pertumbuhan Pribadi: 

Menjaga pikiran terbuka dapat membantu Anda tumbuh sebagai pribadi. Anda belajar hal-hal baru tentang semua yang anda belum ketahui sebelumnya.


3. Menjadi Kuat Secara Mental: 

Tetap terbuka terhadap gagasan dan pengalaman baru dapat membantu Anda menjadi orang yang lebih kuat dan lebih bersemangat. Pengalaman dan pengetahuan Anda terus saling membangun.


4. Merasa Lebih Optimis:

Salah satu masalah dengan tetap berpikiran tertutup adalah sering menimbulkan perasaan negatif yang lebih besar. Bersikap terbuka dapat membantu menginspirasi sikap yang lebih optimis terhadap kehidupan dan masa depan.


5. Mempelajari Hal-Hal Baru:

Sulit untuk terus belajar ketika Anda mengelilingi diri Anda dengan ide-ide lama yang sama. Mendorong batas-batas Anda dan menjangkau orang-orang dengan berbagai perspektif dan pengalaman dapat membantu menjaga pikiran Anda tetap segar.


Faktor-Faktor yang Memengaruhi Open-Mindedness

Ada beberapa hal yang dapat memengaruhi seberapa terbuka atau tertutupnya seseorang:


1. Kepribadian

Keterbukaan terhadap pengalaman adalah salah satu dari lima dimensi luas yang membentuk kepribadian manusia. Ciri kepribadian ini memiliki banyak sifat yang sama dengan pikiran terbuka, seperti mau mempertimbangkan pengalaman dan gagasan baru dan terlibat dalam pemeriksaan diri.


2.  Keahlian

Penelitian menunjukkan bahwa orang berharap para ahli menjadi lebih dogmatis tentang bidang keahlian mereka. Ketika orang merasa bahwa mereka lebih berpengetahuan atau terampil dalam suatu bidang daripada orang lain, mereka cenderung berpikiran terbuka.


3. Nyaman dengan Ambiguitas

Orang memiliki berbagai tingkat kenyamanan ketika berhadapan dengan ketidakpastian. Terlalu banyak ambiguitas membuat orang merasa tidak nyaman dan bahkan tertekan.


Cara Memiliki Pemikiran Yang Terbuka


1. Bijaklah dalam merespons suatu informasi

Salah satu yang membedakan antara orang yang open minded dan close minded adalah cara mereka dalam merespons suatu informasi. Orang yang close minded atau berpikiran tertutup umumnya akan menanggapi suatu informasi atau pendapat yang berbeda dengan emosi. Sebaliknya, orang yang berpikiran terbuka atau open minded menanggapi suatu hal yang berbeda dengan santai.


2. Rajin bersosialisasi dan perluas lingkaran pertemanan

Dengan memperluas lingkaran pertemanan, kamu akan banyak mempelajari hal-hal baru dan pemikiran yang berbeda-beda yang akan memperluas wawasanmu.


3. Jauhi kebiasaan berasumsi

Daripada banyak berasumsi dan menebak-nebak, jauh lebih baik kalau kamu mencari tahu secara langsung. Selain dapat membuat dirimu lebih yakin, tentunya kamu juga akan mendapatkan pengalaman yang tidak akan kamu dapatkan jika hanya terus berasumsi.


4. Perbanyak pengalaman

Pengalaman yang kamu dapatkan juga bisa memberikanmu perspektif yang baru terhadap suatu hal.


5. Jangan kaku

Untuk menjadi orang yang lebih open minded, kamu harus bersikap fleksibel dalam menerima hal-hal baru. Semakin banyak mencoba hal-hal baru, menemui orang-orang baru, dan berusaha merangkul ide-ide baru, kamu akan banyak mengalami keberhasilan, bahagia, bangga, gagal, kecewa, hingga sedih.


Nah, itu dia pemaparan mengenai open minded. Ayo ciptakan pemikiran yang terbuka, untuk generasi yang terampil. 



Penulis : Aliya Jahwania 


Referensi :

• m.merdeka.com

• idn.times.com






Mengenal Kepribadian Ekstrovert

Halo Sabahat DuPi di mana pun berada, apa kabar? Kembali lagi dengan Dunia psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara. Minggu lalu...