Halo sobat DuPi di mana pun kalian berada. Bagaimana kabarnya? Semoga kalian sehat selalu ya.
Ketemu lagi dengan Dunia Psikologi, satu-dua telinga untuk berjuta-juta suara.
Hai hai hai ... Sobat DuPi, dengan berkembangnya teknologi kita bisa mengetahui informasi-informasi di luar jangkauan mata dan telinga. Seperti halnya para perantau yang merasakan rindu pada keluarga. Dengan adanya teknologi, rindu bisa sedikit terobati dengan video call keluarga. Apalagi rindu dengan doi khusus yang LDR an saja hehehe.
Ngomong-ngomong soal TV, kalian tahu gak sih? Penemu televisi sendiri melarang anaknya untuk menonton televisi loh. Bahkan di Indonesia, ada beberapa pemilik stasiun TV yang melarang anaknya untuk menonton TV.
Mengapa anak dilarang menonton TV?
Mengintip dari REPUBLIKA.CO.ID, KUTA -- Pemilik dan pihak pengelola stasiun televisi swasta melarang anak-anaknya menonton tayangan yang tidak mendidik dan dapat meracuni pikiran jutaan anak di Indonesia. Wow! Mengapa??? Ada apa gerangan?
TV memiliki banyak manfaat tapi juga bisa dijadikan alat untuk merusak pikiran manusia. Paham-paham kapitalisme sering menggunakan media TV untuk menyiarkan hal-hal yang sifatnya tidak mendidik.
Dampak Negatif menonton TV
Dilansir dari Halodoc dampak negatif dari terlalu sering menonton televisi sebagai berikut:
1. Kesehatan mata menurun
Terlalu sering menonton layar dapat membahayakan kesehatan mata. Karena LCD memiliki cahaya yang dapat merusak struktur mata.
2. Aktivitas fisik berkurang
Dengan mendominasi keseharian kita menonton televisi. Perasaan mager kerap menghinggapi. Sehingga kita malas untuk melakukan suatu hal.
3. Mengganggu kesehatan mental
Tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, menonton televisi juga mempengaruhi psikis kita. Berkaitan dengan apa yang kita tonton.
4. Penurunan kualitas tidur
Keasyikan menonton televisi kadang kita melupakan waktu untuk beristirahat. Terkadang saat kita kelelahan dengan aktivitas sehari-hari, kita memilih alternatif menonton televisi untuk menghilangkan penat. Padahal, istirahat penuh dengan tidur lebih dibutuhkan tubuh.
5. Hubungan sosial menurun
Di masa sekarang ini, banyak yang sudah memiliki televisi setiap rumahnya. Sehingga anak jarang bermain di luar, karena lebih tertarik menonton televisi. Tidak seperti zaman dulu, satu kampung hanya memiliki satu TV sehingga hal tersebut bisa menjadikan kekerabatan antar warga lebih kuat.
Perkembangan Masyarakat mengenai TV
Sejak akhir 1990-an, semakin banyak orang tua yang mengizinkan bayinya menonton televisi seiring dengan semakin banyaknya produk DVD yang diiklankan dapat membantu perkembangan bahasa dan kognitif bayi. Namun, tidak ada penelitian yang menunjukkan bahwa menonton televisi sejak usia dini dapat meningkatkan perkembangan berbahasa anak. Sebaliknya, bukti ilmiah menunjukkan bahwa bayi yang menonton DVD semacam itu memiliki kemampuan berbahasa yang lebih rendah. Selain itu, bila kemampuan anak mengenal huruf dan angka diukur pada usia sekolah, anak yang menonton televisi sebelum berusia 3 tahun memiliki skor yang lebih rendah daripada anak yang tidak menonton televisi sebelum berusia 3 tahun.
Sebaliknya, menonton acara televisi yang berkualitas dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak usia prasekolah. Acara televisi yang paling banyak diteliti ialah Sesame Street yang menunjukkan efek positif untuk pembelajaran bahasa bila ditonton anak usia 3–5 tahun. Sebagai perbandingan, penelitian menunjukkan bahwa acara televisi tanpa maksud pendidikan seperti film kartun pada umumnya tidaklah berhubungan dengan peningkatan kemampuan berbahasa. Setelah remaja, anak-anak yang pada usia prasekolah biasa menonton Sesame Street ternyata meraih nilai pelajaran yang lebih tinggi, lebih banyak membaca buku, dan lebih bermotivasi untuk meraih prestasi dibandingkan dengan remaja yang pada saat berusia prasekolah tidak menonton acara tersebut.
Melalui televisi, anak-anak dan remaja juga dapat belajar mengenai perilaku antikekerasan, empati, toleransi kepada orang dari ras atau etnis lain, dan rasa hormat kepada orang yang lebih tua. Informasi mendidik juga dapat diselipkan dalam program yang populer bagi remaja, misalnya pendidikan mengenai kontrasepsi yang berhasil dilakukan melalui salah satu episode serial televisi Amerika Serikat, Friends.
Namun, menonton televisi juga berpotensi memberikan dampak negatif bagi anak-anak dan remaja, seperti perilaku agresif, penyalahgunaan zat, aktivitas seksual yang berisiko, obesitas, gangguan pola makan, dan menurunnya prestasi di sekolah. Bila di dalam kamar anak terdapat televisi, risiko anak mengalami kelebihan berat badan dan kemungkinan anak merokok meningkat, anak menjadi kurang membaca dan melakukan hobi lainnya, serta waktu tidur anak berkurang.
Cara Mengatasinya
Pilah tontonan yang sekiranya dapat meningkatkan kualitas diri. Dengan begitu, kita dapat mengupgrade diri kita melalui televisi, untuk meminimalisir dampak negatifnya.
Oke. Aku kira segitu saja ya pertemuan kali ini Sobat DuPi. Ingat! Orang yang cerdas mengetahui tujuan hidupnya, hingga dia paham apa yang harus dilakukan dan apa konsekuensi yang akan didapat.
Sampai Jumpa lagi.
Sumber:
- halodoc
- republika
- wikipedia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar